untitled
viviti

Gelombang Cinta Di L.A

 

I.                   Kembali Ke Negeri Kanguru

Tidak terasa aku sudah menginjakkan kaki di benua Kanguru lagi setelah satu tahun aku menyelesaikan studiku yang lalu. Hari ini aku kembali ke Melbourne dan berharap dapat bertemu dengan orang yang kelak akan mendampingi hidupku. Tidak banyak perubahan di Bandara Tullamarine saat ini. Kesibukan di Bandara Internasional ini tetap sama bahkan kurasakan semakin sibuk. Orang lalu lalang keluar masuk bandara dengan tergesa-gesa. Mereka tidak saling bertegur sapa. Seolah-olah semua orang disibukkan dengan pikiran dan urusan masing-masing. Tak jauh berbeda dengan Bandara Internasional  Ngurah Rai yang kutinggalkan sekitar 8 jam yang lalu.

            Ini untuk kesekian kalinya aku berada di Tulamarine sejak beberapa tahun yang lalu aku studi di Aussie. Banyak kenangan di bandara ini ketika saat saat aku sering bertemu dengan Nurul. Kenangan indah dan kenangan pahit berbaur menjadi satu. Kenangan indah saat-saat aku kembali bertemu dengan pujaan hati yang berada di Melbourne sebagai orang Indonesia yang sudah tinggal lama bertahun-tahun disini dan sudah menjadi warga negara Aussie. Kepahitan masih menggigit hatiku ketika kau ingat perpisahan satu tahun yang lalu karena alasan dia bersikukuh untuk tetap tinggal di Aussie sementara aku tidak bisa meninggalkan negaraku karena alasan-alasan tertentu. Aku terombang ambing dalam kebimbangan dan kebingungan antara cinta kepada kekasih dan cinta kepada tanah air.

            Sebagai seorang doktor muda di bidang komputer aku bercita-cita mengabdikan ilmuku untuk negara yang kucintai. Jauh-jauh aku studi di Aussie bukan untuk bekerja dan tinggal disini tetapi semata-mata aku hanya ingin menimba ilmu saja. Ingatanku melayang satu bulan sebelum aku berpisah dengan Nurul waktu itu kami bersepakat untuk melakukan perjalanan ke daerah pinggiran kota Melbourne yang dikenal dengan nama Bittern yang terletak di daerah Peninsula kira-kira satu jam dari Pusat Kota Melbourne.

 

 

 

*****

 

Menikmati suasana di pedesaan memberikan sentuhan-sentuhan yang berbeda dalam hati pada saat-saat bahagia ini. Udara segar tanpa polusi, suasana tenang, dan jauh dari hiruk pikuk keramaian kota Melbourne sebagai ibukota wilayah Victoria. Sungguh menyenangkan! Bittern yang jauhnya sekitar 1 ½ jam sebelah selatan kota Melbourne merupakan tempat yang nikmat sebagai sarana bersenang-senang pada masa-masa kami merayakan pernikahan kami.

Sudah lama aku tidak menikmati suasana seperti ini.” Nurul mengawali pembicaraan.

            “Ya benar aku juga.”Jawabku pendek

“Kita tidak pernah lagi melihat kebun, sungai-sungai kecil yang mengalirkan air jernih, suara kicauan burung diatas pepohonan, menikmati udara bersih dan segar.”

“Ya kita hanya menikmati melalui layar kaca televisi saja.”

Benar apa yang dikatakan oleh Nurul selama ini kami yang tinggal di kota dan hidup dalam suasana monoton dari hari ke hari hanya menikmati pekerjaan dan pekerjaan saja. Setiap hari aku hanya berhadapan dengan komputer dan memasuki dunia maya di Internet, berkomunikasi lewat email tanpa bertemu dengan orangnya semakin menjauhkan diriku dengan sesama manusia. Tanpa sadar semua ini telah menjadikan aku sebagai orang yang semakin terisolir. Sering terpikir apakah aku ini memerlukan orang lain atau lebih memerlukan komputer dan Internet? Aku tidak memusingkan pertanyaan itu. Yang  jelas saat ini aku lebih sering kontak dengan mesin komputer dan jalan-jalan di dunia maya dari pada kontak dengan teman-temanku.

Di Bittern yang berada dekat Western Port Mornington Peninsula yang bernuansa rural akan menjadi tempat singgah kami beberapa hari. Kami menyewa kamar di Bittern Rest dengan gaya khas tradisional dan yang bertolak belakang dengan suasana Sheraton di CBD yang serba moderen. Suasana rural yang sudah lama kami lupakan. Daerah ini memang agak jauh dari pusat kota Melbourne, sekalipun demikian kami sengaja memilihnya agar kami benar-benar dapat menikmati suasana berdua tanpa memikirkan hal-hal lain yang mengganggu kami.  

Aku jadi ingat Kaliurang di kotamu Adi.” Sela Nurul ketika kami sedang bersantai di beranda depan di hotel kami menginap.

“Benar, suasana disini mirip ya dengan suasana pedesaan di Yogyakarta.”

                        “Tapi sepi ya.” Komentar Nurul

                        “Ya tapi kan ada aku.” Gurauku

                        “Iya ya meski sepi kalau berdua terus kok enak ya.” Sambung Nurul

“Mmm, ya kita akan terus berdua seumur hidup.” Kataku sambil mendekap erat-erat Nurul.

“I love you, I love you very much” Sambungku dengan membelai rambut Nurul.

Sesaat Nurul hanya diam saja, matanya menatapku dengan ekspresi kebahagiaan yang sulit diekspresikan dengan kata-kata. Dalam keheningan tersebut, kami menikmati kehangatan cinta kami yang sudah kami bangun selama bertahun-tahun dengan berbagai aral yang membuat perjalanan cinta tersebut tidak mulus. Kadang membawa kebahagiaan kadang membawa kesedihan dan kekecawaan; sekalipun demikian cinta sejati mampu menembus setiap penghalang yang mencoba merusak hubungan cinta tersebut. Cukup lama kami terdiam membisu tanpa kata. Komunikasi kami ganti dengan bahasa cinta yang sedang membakar hati kami. Suara burung-burung, semilir angin, gesekan-gesekan daun-daun pepohonan disekitar hotel berganti-ganti seperti sedang membuat orkestra musik yang harmonis. 

Mm ya aku bahagia tetap bersama denganmu.” Kata Nurul memulai pembicaraan lagi.

Yes we will be together forever Dear.”

            Kami beranjak dari tempat bersantai untuk mengelilingi taman yang menghiasi hotel  dimana kami menginap. Kami sudah merencanakan dalam waktu beberapa hari ini akan mengelilingi daerah pinggiran kota Melbourne. Tempat-tempat yang akan kami kunjungi diantaranya ialah Yarra Valley, Peninsulla, Dandenong, serta beberapa lokasi lainnya.

 

Aku mau melupakan pekerjaanku sementara ini.” Celetuk Nurul

“Mmm ya me too.”

Baru kali ini Nurul berkata seperti itu, karena biasanya seluruh perhatian dan konsentrasinya dicurahkan pada pekerjaan bahkan tidak segan-segan mengorbankan yang lain, termasuk janji denganku atau orang lain jika pekerjaan menuntut untuk cepat diselesaikan Itulah Nurul sosok wanita pekerja keras yang berhasil menaklukan hatiku. Nurul seorang doktor muda di bidang ekonomi mampu menembus RMIT dan akhirnya bekerja ditempat dimana dia telah menyelesaikan pendidikan tertingginya.

Tiada hari tanpa berdua. Itulah apa yang kami lakukan selama kami liburan. Sudah tiga hari kami tinggal Bittern dengan segala keindahan suasana pedesaan yang kami nikmati. Jika karena jadwal tidak padat sebenarnya kami masih ingin berlama-lama tinggal di daerah ini. Rutinitas pekerjaan, ketegangan otot, hiruk pikuk kota, serta kegiatan-kegiatan yang monoton telah membuat kejenuhan yang luar biasa.  Selesai tinggal di Bittern, kami berencana pergi menuju ke daerah lokasi pariwisata lain, yaitu Yarra Valley yang dapat ditempuh sekitar satu jam dari Kota Melbourne. Daerah ini terkenal dengan daerah pegunungan dan hutan-hutan serta taman-taman nasional dimana terdapat banyak perkebunan anggur dengan iklim yang sejuk. Disini kami memilih untuk tinggal di Katandra Gardens, Hunter Road 49 , Wandin yang berada di sepanjang  Yarra Valley untuk menikmati suasana perkebunan yang sangat menyejukkan dan tenang, mendengarkan suara burung-burung yang berterbangan di kebun tak jauh beda dengan suasana Bittern yang baru saja kami tinggalkan. Daerah ini memang terkenal dengan perkebunan berbagai macam buah-buah-an, seperti apukat, jeruk, berry, cherry, kiwi dan lain-lainnya. Suasana ini mengingatkan pada masa kecilku dimana aku senang sekali memelihara berbagai tanaman yang kutanam dalam pot dan tertata disekitar halaman rumahku. Cottage yang kami singgahi berada ditengah-tengah kebun dan taman yang luas. Selintas ketika kami datang, kami berdua mengintari daerah sekitar cottage penuh dengan berbagai tanaman yang dipelihara dengan rapi dan professional.

Untuk melakukan perjalanan pariwisata ini Nurul tidak segan-segan menyediakan uang simpanannya yang berasal dari orang tuanya yang selama ini belum pernah dia gunakan. Sementara penghasilanku dari kerja sambilan di Melbourne hanya cukup untuk menambah uang buku selama kuliahku disini.

“Pokoknya semua biaya liburan kita, gunakan saja uangku” Komentar Nurul

                        “Terserah kamu.” Jawabku

“Aku ingin membuatmu bahagia dan senang sebagai hadiah penantianmu yang panjang dan melelahkan selama ini.”

“Ah sudahlah jangan bicarakan lagi masa-masa lalu. Aku sudah menutup masa lalu itu dan membuka lembaran baru dalam hidupku dan juga hidup kita bersama mulai hari ini sampai kelak kapan Tuhan menyatukan kita.”

“Kamu memang baik. Maafkan aku selama ini aku nakal kepadamu.” Kata Nurul dengan manja sambil merangkulku.

“ Eh lihat itu, tanaman yang sedang berbunga merah itu.”

“Ya, ya aku lihat memang indah sekali dan baru kali ini aku melihatnya.”

“Lihat tuh burung yang berwarna hijau dan biru itu, yang sedang berdua. Apa ya namanya?” Tanya Nurul kepadaku

“Aduh aku lupa, tapi aku kenal baik burung itu. Dulu ketika aku masih kecil aku pelihara burung seperti itu. Kalau tidak salah burung Beo namanya. Burung itu pandai menirukan suara manusia”.Kataku

“Asyiknya mereka berdua.” Komentar Nurul

“Ya seperti kita kan.”

“Ha…ha…ha….. benar.”

Kami terus mengintari area perkebunan itu dengan berjalan melalui jalan setapak yang dibuat untuk menghubungkan satu lokasi ke lokasi lain di taman itu. Di lokasi dimana banyak burung, kami melihat burung Kakaktua, burung Gereja, Elang, Rajawali, Ibis dan berbagai burung yang tidak kuketahui namanya.

Oya aku ingin melihat-lihat kegiatan apa yang bisa kita ikuti di sini  ya setelah kita istirahat besok pagi.” Pinta Nurul

Yes Ok I think we need to know the itinerary here

Yes, you’re right.”

It seem that we need to stay longer here.” Komentarku ketika membaca panduan kunjungan ke Katandra Gardens

It’s ok it desn’t matter I like it.” Teriak Nurul

Hari pertama ini kami sudah mulai acara paket yang disediakan oleh pihak pengelola Katandra Gardens dengan mengelilingi lingkungan kebun sambil mengunjungi beberapa lokasi sebagai pengenalan kebun tersebut. Malamnya kami menikmati baberque di guest house dimana kami akan tinggal selama beberapa hari lagi.

Di hari berikutnya kami mulai melakukan kegiatan yang berbeda, yaitu naik pesawat kecil untuk melihat-lihat perkebunan anggur mulai dari Lilydale Airport. Lokasi perkebunan berada diantara perbukitan yang dapat secara jelas kami lihat dari atas pesawat.

Lihat di bawah bukit itu menjadi hijau karena daun-daun pohon anggur dimana-mana.” Komentar Nurul.

“Ya, mataku jadi sejuk dan enak melihat dedauan tersebut.” Sambungku.

“Benar karena mata kita sudah terbiasa melihat layar komputer saja. Jadi rasanya seperti disiram air dingin. “ Tambah Nurul.

“Lihat ternyata juga ada pohon beri juga.” Nurul terus menunjuk ke bawah

“Ya, ya benar, ada pohon beri juga selain anggur.”

Pesawat terus terbang rendah membawa kami berkeliling daerah yang berbukit-bukit tersebut seolah-olah tiada ujungnya karena kami terus memutar-mutar mengelelingi daerah Yarra Valley tersebut. Tanpa terasa hari sudah siang, kami istirahat di Yarra Valley Dairy untuk makan serta minum manisnya anggur dari Yarra Valley yang terkenal itu.

                        Mm manis dan enak sekali rasa anggur disini.”

                        “Ya tapi nggak boleh banyak-banyak.” Selaku

Nurul hanya mengangguk-angguk sambil menikmati makan siangnya.

Hari ketiga kami tinggal di Katandra Gardens, kami dibawa menuju ke lokasi yang disebut Healesville Sanctuary dan juga kami mengunjungi beberapa galeri seni disekitar lokasi tersebut. Sungguh, ini benar-benar hal-hal yang tidak pernah kulakukan selama hidup ini. Aku dan Nurul benar-benar menikmati hidup ini dengan segala kenikmatan yang disajikan oleh pihak pengelola pariwisata tersebut.

Hari keempat kami dibawa dengan mobil melewati Warburton  Highway menuju ke berbagai lokasi tempat bersenang-senang seperti lokasi dimana kita dapat melihat buah anggur yang besar-besar. Kami juga dibawa menuju area jalan kaki disepanjang sungai untuk sedikit berolah raga. Di hari keempat ini, tempat yang berkesan ialah Badger Weir dimana kami dapat memberi makan pada burung – burung beo sambil jalan-jalan ditengah hutan.

Hati-hati, nanti kamu kena patuk. Jangan dekat-dekat.” Nasihatku pada Nurul.

“Nggak, nggak apa-apa, kelihatnnya sudah jinak.” Jawab Nurul sambil terus memberikan makanan pada burung-burung tersebut.

                        Come here dear, please come here.” Katanya pada burung-burung t          ersebut

                        They don’t know your English.” Komentarku

                        They know, look at their reaction.” Sanggah Nurul.

Memang burung-burung tersebut seolah-olah mengerti bahasa manusia, mungkin karena terbiasa diperlakukan seperti itu setiap saat sehingga mereka dapat memahami bahasa-bahasa isyarat dan bunyi-bunyi tertentu dari para pengujung lokasi tersebut. Pulangnya kami melewati Maroondah Highway menuju ke tempat dimana kami menginap lagi.

Hari ke lima kami melakukan perjalanan melalui udara dengan menggunakan balon terbang di sepanjang Yarra Valley. Dari udara terlihat hamparan lembah yang memanjang di daerah pinggiran sekitar 25 kilometer dari kota Melbourne.  Banyak yang dapat dilakukan di lokasi ini, diantaranya ialah terbang dengan menggunakan balon sambil melihat-lihat pemandangan di sepanjang lembah Yarra, diantaranya ialah Yarra Glenn yang mempunyai pemandangan alam yang sangat indah.  Kami berdua juga menyusuri jalan sepanjang Warburton Trail untuk menikmati indahnya suasana pedesaan serta pohon-pohon yang berjajar disepanjang jalan tersebut.

                        Seperti di desa-desa di Indonesia juga ya” Komentarku

“Ya benar tetapi banyak perbedaannya. Salah satunya lingkungan yang tertata rapi dan terpelihara.

“Benar apa katamu.”

Tidak terasa kami akhirnya memasuki hari ke sembilan setelah menikmati berbagai masakan hari ke enam di Mt Dandenong; hari ke tujuh main golf di Olinda Golf Course; dan hari ke delapan mengunjungi indahnya air terjun  Steavenson Falls dan menikmati anggur di Yarra Burn Winery. Pada hari ini kami mengunjungi Sherbrooke Forest dimana kami dapat menyusuri hutan dengan berjalan kaki sambil melihat burung-burung penghuni hutan tersebut. Suatu kegiatan yang sudah tidak pernah kulakukan selama bertahun-tahun lamanya. Aku ingat terakhir kali aku melakukan hal ini ketika aku masih duduk di bangku SMA dimana aku melakukan hiking disekitar pegunungan Menoreh dan Merbabu. Kala itu aku sedang berlatih bela diri dengan teman-temanku sambil menyusuri desa-desa di kaki pegunungan tersebut.

Masa-masa indah ini rasanya tidak ingin ada habisnya. Aku benar-benar merasa bahagia dapat bersama-sama dengan Nurul saat ini.

“Kemana lagi kita akan melanjutkan liburan ini?” Tanya Nurul dengan manja

                        “Terserah kamu. Kamu yang lebih tahu daerah ini.” Jawabku.

                        “Kalau begitu kita ke Mount Dandenong saja.” Ajaknya

                        “Ok” Jawabku

“Sebentar lagi kamu akan pulang ke Indonesia. Kita tidak akan bertemu lagi dalam beberapa saat lamanya. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu saat liburan ini denganmu.”

“Mm ya, tapi aku kelak akan kembali menjemputmu pulang ke Indonesia.”

Let discuss it later on. Don’t destroy our holiday with such a difference.” Komentar Nurul dengan nada datar.

Aku mengangguk dan diam mengikuti langkahnya menuju mobil yang akan membawa kami ke Mount Dandenong.

 

                                    ********

 

Taxi Sir, Can I help you?” Suara sopir taksi menghentikan lamunanku. Aku terkaget sejenak. Kemudian aku menuju kearah taksi tersebut sambil berkata:

Take me to CBD, please

Yes Sir.” Jawab supir taxi kemudian menjalankan taksinya kearah CBD yang berjarak sekitar setengah jam dari Bandara Tullamarine.

Are you Indonesian?” Tanya supir tersebut

Yes, but this is not the first time for me to come to Aussie. I got my postgraduate diploma from Wollongong University Sydney and my Ph D. from RMIT Melbourne.” Jawabku

Supir taksi tersebut agak kaget ketika mengetahui aku sudah pernah tinggal lama di Aussie dan menyelesaikan pendidikan S2 dan S3 ku disini. Kemudian katanya:

At what destination do you want me to take you?”

“Melbourne Central, please.

Sampai di Melbourne Central aku terus menuju ke lokasi-lokasi yang sudah kukenal untuk membelikan oleh-oleh yang akan kuhadiahkan pada Nurul

 

 

 

 


 

II.                Melbourne’s CBD yang terus berhias

 

Banyak perubahan  terus berjalan di pusat kota Melbourne yang dikenal dengan CBD ini. Bangunan-bangunan pencakar langit terus berlomba-lomba menyusul gedung-gedung tinggi sebelumnya. Waktu aku tinggal disini julukan gedung tertinggi masih dipegang oleh Rialto Tower. Saat ini gedung itu sudah kalah tinggi dengan Eureka Tower yang mempunyai 92 tingkat dan yang terletak di daerah elit South Bank.

Sampai di Melbourne Central aku terus menelpon Nurul.

Dear how are you? It’s me Adi”

Terdengar suara teriakan Nurul melalui teleponnya:

Hi Adi I am good as usual. When will you visit me?”

“Aku sudah di Melbourne” Jawabku melalui telepon

“Ah kenapa kamu nggak ngomong aku sehingga aku jemput kamu di Tullamarine.” Kata Nurul

“Yah aku mau bikin kejutan untukmu. Coba tebak aku dimana sekarang?”

“Pasti di CBD” Jawab Nurul dengan tertawa.

“Ya ya di CBD tapi dimana? CBD kan luas.” Godaku. Nurul tahu persis tempat kesenanganku berada di CBD sejak pertama tinggal disini dan kami sering jalan-jalan di daerah ini di waktu-waktu yang lalu.

“Mm di Flinders” Katanya karena memang lokasi ini sering dijadikan sebagai meeting point oleh banyak orang.”

No. no please guess again.”

“Ah aku tahu kamu pasti sedang di Rialto.”

“Bukan. Menyerah?”

“Ya ok aku kalah kali ini, tapi nanti kamu kubalas.”

“Aku di Melbourne Central mau beli sesuatu untuk kamu.” Jawabku dengan tertawa.

“Sudah kuduga, sudah kuduga tapi aku ragu-ragu”.

“Mengaku kalah saja kok tidak mau.”

“Awas nanti kau kubalas.” Teriaknya dalam telepon.

 

            Melbourne Central merupakan pusat perbelanjaan di Kota Melbourne dengan bentuk bangunan yang menarik karena berbentuk kerucut dengan ketinggian  18 lantai dan diisi lebih dari 200 retailer yang menjual berbagai barang mulai dari fashion, barang-barang rumah tangga, makanan, restaurant dan kafe serta fasilitas untuk rekreasi.

Mengunjungi tempat ini merupakan kebiasaan saat-saat aku suka mengantar Nurul berbelanja yang merupakan salah satu hobinya yang sering membuat aku kerepotan dalam membagi waktu untuk mengantarkannya. Aku ingat ketika menjelang wisuda S3 di RMIT aku diajak mengantar berbelanja  ke Melbourne Central dengan Ibunya.

“Tolong ni dibawa belanjanya” Kata Nurul kepadaku

“Ah banyak bener nih, kamu boros amat, Nggak malu sama Mamimu.” Komentarku

“Iya tuh, kerjanya buang-buang uang saja, mana barang-barang dibeli juga banyak yang tidak dipakai dan hanya dibagi-bagikan ke teman-temannya.” Kata Mami Nurul

Nurul hanya tertawa terbahak-bahak mendengar komentarku dan ibunya. Jika sudah berada di tempat seperti ini, kalau aku tidak setengah memaksa maka dia tidak akan meninggalkan tempat tersebut sampai berjam-jam.

“Sudah ah aku tidak kuat lagi jalan.” Kataku sambil menggandeng tangannya serta mengajak pulang.

“Ya, ya ok aku juga sudah lapar.” Selalu itu ujung-ujungnya dan ini akan membuat pekerjaan baru lagi untuk mengantarnya ke restauran yang dia sukai.

Kemanjaan Nurul memang kuakui karena dia anak yang paling dikasihi dalam keluarganya. Nurul tidak pernah kekurangan  karena dibesarkan  dalam keluarga yang kaya raya. Dia sudah biasa bolak-balik ke luar negeri sejak kecil setiap liburan sekolahnya. Ayahnya yang pengusaha di Bandung tidak pernah kesulitan dalam keuangan untuk membiayai kehidupannya. Sekalipun demikian dia bukan tipe orang yang tergantung. Seperti apa yang pernah dikatakan kepadaku saat kami di Menara Rialto. Peristiwa ini terjadi kira-kira tiga tahun yang lalu. Kala itu aku datang dari Bandung untuk mengunjungi dia dan mempertanyakan kepastian hubungan kami yang sudah kami bina sejak kami berdua kuliah di Yogyakarta.

“Lihat Adi, hampir seluruh bagian Pusat Kota Melbourne terlihat dari sini.”

Kami berdua berada di Observation Deck Rialto Tower yang menjulang tinggi di Melbournce Central Business District (CBD) dengan ketinggian 55 lantai. Di bawah kami pemandangan kota Melbourne yang teramat cantik dapat kami nikmati. CBD yang dipenuhi dengan gedung-gedung pencakar langit, sungai Yarra yang membelah kota Melbourne, dan jalan-jalan layang yang  berlapis-lapis.

Mm ya aku senang sekali melihatnya. Lihat itu Southbank dimana kamu tinggal” Jawabku

“Ya itu, apartemenku.”

“By the way,  aku mau cari pekerjaan di sini.” Lanjutnya

“Ah untuk apa kamu bekerja? Kamu tidak memerlukan itu. Orang tuamu sudah kelebihan uang, mengapa kamu harus bersusah-susah mencari uang nanti mengganggu kuliahmu.” Aku menyatkan keberatan terhadap keputusannya.

“Aku kan tidak boleh bergantung terus menerus dengan orang tuaku.” Jawabnya enteng.

Kalau sudah begitu akulah yang mengalah. Kami memang saling mencintai, tetapi masih banyak perbedaan yang merintangi hubungan kami. Nurul bersiteguh tinggal di Aussie sedang aku sangat keberatan meninggalkan kedua orang tuaku di Yogyakarta sendiri. Waktu terus berjalan kami sepakat tetap melanjutkan hubungan kami mesti Nurul sudah selesai kuliah S2 di Melbourne. Dalam perkembangan hubungan kami yang tidak lancar, akhirnya aku kembali ke Aussie waktu itu sambil menyelesaikan studi S3 ku bersama dengan Nurul yang juga menempuh S3 di universitas yang sama denganku. Selesai S3, aku pulang kembali ke Indonesia karena tidak berhasil mengajak pulang Nurul. Nurul beralasan belum siap untuk nikah denganku dia masih minta waktu satu tahun lagi untuk mempersiapkan diri.
            Siang itu Melbourne Central ramai  dengan para pengunjung yang ingin berbelanja. Setelah selesai membelikan baju untuk Nurul aku dengan menggunakan taksi menuju ke apartemen Nurul di Southbank

            Welcome back” Kata Nurul menyambut kedatanganku

            You seem thiner than usual.” Komentarku sambil memeluknya erat-erat

            Too much work” Jawabnya singkat

            “Jangan bekerja terlalu keras nanti kamu sakit.” Nasihatku kepadanya

            “Nggak usah kuatir, aku olah raga secara teratur untuk menjaga staminaku.”

By the way,  bagaimana kabar ibu dan ayah lama aku tidak ketemu mereka.” Tanya Nurul kepadaku.

“Mereka sehat-sehat saja. Ibu selalu menanyakan kamu dan….”

Belum selesai aku bicara Nurul sudah memotong kata-kataku.

“Hari ini aku banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Ada urusan sebentar kamu tidak keberatan kan tinggal sendirian sambil istirahat.”

Aku mengangguk setuju. Dalam hati kecilku bertanya-tanya mengapa Nurul berubah dan seolah-olah berusaha menghindariku. Saat dia berangkat dengan BMW terbarunya aku mengantar sampai di depan halaman  apartemen.

            Be careful” Komentarku

            Yes thank you” Jawabnya sambil melambaikan tangannya kepadaku.

Kutatap laju mobil Nurul meninggalkan Southbank menuju ke lokasi pekerjaanya di RMIT. Mobil it terus berjalan dan hilang berbaur dengan mobil-mobil lainnya dari pandanganku. Kurasakan ada rasa sepi mendadak di apartemen ini. Seolah-olah rasanya Nurul akan meninggalkanku seterusnya. Aku sangat menguatirkannya. Apakah ini hanya perasaanku saja atau ini firasat lain. Mendadak pandanganku menuju kearah gedung yang sangat tinggi melebihi gedung-gedung lain bahkan jauh lebih tinggi dari Rialto yang waktu aku kuliah disini merupakan gedung tertinggi di Kota Melbourne. Gedung itu baru saja selesai dibangun di wilayah ini dan diberi nama Eureka Tower yang digunakan sebagai apartemen residensial. Tentunya hanya orang-orang kaya yang mampu tinggal disitu. Aku menjadi merasa kecil melihat gedung setinggi itu. Eureka Tower! Setinggi itulah ambisi Nurul dalam meniti kariernya. Sudah lebih dari enam tahun aku sudah bersamanya dan aku tahu dia mencintaiku sebagaimana aku juga mencintainya. Tetapi aku benar-benar tidak tahu secara persis apa alasan dia  terus menunda-nunda pernikahan denganku. Sudah tiga kali dia kumintai ketegasan dan selalu ada saja pertimbangan-pertimbangan untuk menunda-nunda perkawinan kami.

            Aku memasuki kamar Nurul yang serba mewah. Kulihat kertas-kertas berserakan di tempat tidur. Kukumpulkan dan kurapikan satu persatu. Satu kertas berlogo menarik perhatiannku. Kubaca pelan-pelan isi kertas itu, ternyata formulir pengajuan kewarganeraan Australia. Alangkah kagetnya aku saat itu. Nurul sedang mengajukan diri sebagai warga negara Aussie. Ini artinya dia mengingkari janjinya lagi kepadaku atau dia ingin memaksaku juga untuk tetap tinggal di Aussie. Aku terduduk lemas di sisi tempat tidur Nurul. Tidak kusangka dia tega melakukan ini tanpa konsultasi denganku. Ingatanku kembali melayang pada kejadian di St Kilda Beach beberapa tahun yang lalu.

Adi aku minta maaf karena tanpa memberitahu kamu aku sudah menjadi “permanent residents (pr)” disini” Katanya memberitahuku ketika kami berdua sedang berada di St Kilda Beach, pantai di pinggiran kota Melbourne yang selalu ramai dikunjungi banyak orang karena jaraknya tidak jauh dari pusat kota atau Melbourne CBD. Kira-kira dapat ditempuh dalam 25 menit dari Bourke Street  dengan menggunakan tram.

“Ah itu artinya kamu selangkah lagi akan menjadi warga Negara Aussie.” Kataku dengan nada meninggi.

“Jangan marah. Aku tidak akan pernah meninggalkan kewarganegaraanku di Indonesia. Disamping itu aku tahu kamu pasti tidak mau tinggal selamanya di Aussie.”

“Aku mengurus status pr ku karena untuk memudahkan aku mencari pekerjaan disini.” Dalihnya.

“Mm ya ok. Aku mengerti. Aku mengerti kedudukanmu.”

Nurul memang kadang mengeluh kepadaku mengenai kesulitannya dalam mencari pekerjaan di Melbourne padahal dengan ijasah masternya dari Monash waktu itu jika di Indonesia pasti dengan mudah dia akan memperoleh pekerjaan yang bagus.

            Thanks Adi kau baik dan penuh pengertian

Dengan kesabaran aku menunggu dia pada kali kedua aku belum berhasil juga memberi pengertian kepadanya. Bahkan aku ulangi lagi untuk ketiga kalinya saat kami sudah selesai kuliah S3 kamu satu tahun yang lalu. Bunyi dering telepon menggugah aku dari lamunanku.

            “Hallo Adi speaking here.”

            “Hi ini aku.” Suara Nurul dalam telepon.

            Ada apa?” Tanyaku kepadanya

“Aku pulang agak terlambat mungkin sampai malam karena ada pekerjaan yang harus kuselesaikan hari ini.”

Ok never mind. Jangan terlalu malam aku menunggumu.”

Yes, yes I love you.” Jawabnya

And so do I.” Sambungku kemudian. “wait a minute

What’s wrong?”

“Aku mau jalan-jalan ya di Southgate daripada bengong sendiri.” Kataku

Ya ok, buy me food then.” Kata Nurul.

Yes Sure.”

           


 

III.             Bertemu Dengan Ine di South Gate

Southgate tempat yang favorit untuk jalan-jalan menikmati suasana Kota Melbourne yang cantik. Disinilah potret kota ini dapat dilihat. Southgate terletak dipinggiran sungai Yarra yang menjadi ciri khas kota ini dimana sungai tersebut juga berfungsi sebagai sarana transportasi untuk kepentingan pariwisata. Melalui sungai Yarra ini kita dapat melihat-lihat pemandangan Kota Melbourne dari ujung Barat sampai ke Timur dan Selatan kota. Karena letaknya berdekatan dengan daerah Soutbank maka lokasi ini sangat terkenal dan sering dikunjungi turis baik domestik maupun asing. Di lokasi ini terdapat promenade sebagai sarana pejalan kaki yang menikmati suasana Southgate yang memanjang dipingiran sungai. Sehingga memungkinkan para pejalan kaki menikmati jalan santai sambil melihat-lihat suasana di daerah tersebut. Restauran-restauran berderet sepanjang jalan memudahkan kita mencari makan tinggal pilih sesuai dengan selera kita. Sambil makan dan minum kita dapat juga menikmati para buskers – pemusik jalanan yang menghibur orang-orang yang sedang berada di tempat tersebut. Jika kita ingin menikmati suasana dari Sungai Yarra maka kita dapat menggunakan steamboat yang beroperasi di sepanjang Sungai Yarra tersebut. Di masa-masa lalu aku sering berdua dengan Nurul menikmati suasana yang romantis di malam hari di depan Crown Casino yang selalu dipenuhi oleh pengunjung.

            Kususuri jalan menuju dari Southbank menuju ke Southgate yang berdekatan lokasinya. Tempat yang  kutuju ialah Southgate Complex. Sampai disitu aku memasuki salah satu restauran yang  sering kukunjungi bersama Nurul. Sambil menunggu pesanan aku kembali merenungkan hubunganku dengan Nurul. Janji terakhir satu tahun yang lalu saat ini sudah lewat. Banyak perubahan pada dirinya. Aku merasakan dia menjauhiku. Apakah ini benar ataukah aku yang terlalu sensitif. Secara fisik dia semakin cantik dan selalu menjaga penampilan  dengan melakukan olah raga senam secara teratur, dansa dan kadang-kadang main ski. Kemana-mana dia selalu setir mobil sendiri. Laki-laki mana yang tidak akan tertarik melihat wanita secantik dia, kaya dan cerdas. Itulah sebabnya aku terus bersabar untuk mendapatkannya. Hubungan kami yang sudah cukup lama membuat keluarga kami masing-masing saling mengenal.

            Sir, this is your order.” Suara pelayan restauran mengejutkanku

            Thank you” Jawabku singkat

            Would you order any other things Sir?”

            No, no thank you for the time being.

Tiga  tahun yang lalu aku menyusuri Sungai Yarra dengan menggunakan steamboat dengan Nurul.

            “Lihat tuh Menara Rialto yang menjulang kelangit.” Komentar Nurul.

            “Ya setinggi cita-cita mu.” Jawabku

“ Memangnya nggak boleh aku mempunyai cita-cita tinggi.” Katanya dengan nada sewot.

“Siapa yang bilang tidak boleh.” Jawabku dengan tersenyum

“Ah kamu sukanya nggodain orang.” Jawabnya dengan cemberut.

Memang Nurul mempunyai cita-cita tinggi dan itu wajar karena sebagai anak orang yang kaya raya dia tidak pernah kekurangan apa-apa. Maka hidupnya hanya ditujukan untuk sekolah setinggi mungkin dan tinggal di luar negeri. Sekalipun demikian Nurul adalah seorang yang mandiri, percaya pada diri sendiri dan tidak tergantung pada orang lain bahkan pada kedua orang tuanya sekalipun. Saat ini semua sudah tercapai, Pendidikan tertinggi dalam usia muda, pekerjaan tetap di Melbourne dan aku yang terus setia menantinya. Apa lagi yang dicari?

            “Hi kamu mau minum apa?” Suara seorang wanita di sampingku

            “Aku mau soft drink.” Jawab wanita yang lain.

Aku kaget karena mendengar mereka menggunakan bahasa Indonesia. Ketika kutengok dua wanita sebaya dengan Nurul ada tidak jauh dari tempat dudukku. Yang satu seorang wanita cantik dengan model rambut pendek, kulit putih mengenakan celana panjang jean berwarna biru. Wanita yang satunya lagi berkulit sawo matang dengan rambut panjang.

            “Bagaimana dengan hasil ujianmu?” Tanya wanita yang berambut pendek.

            “Yah lumayan lolos semua.” Jawab temannya yang berambut panjang.

“Rasa-rasanya cepat-cepat pengin selesai. Aku sudah ingin kembali ke Menado.” Lanjut si rambut pendek.

“Ya sama, aku juga ingin segera balik ke Semarang.”

O rupanya mereka mahasiswi yang berasal dari Indonesia. Sesaat mereka diam sambil makan pesanan mereka. Aku memberanikan diri mendekati mereka serta menyapa.

            “Selamat siang. Dari Indonesia ya Anda berdua?”

            “Selamat siang ya kami berasal dari Indonesia.” Jawab mereka hampir bersamaan.

            “Kenalkan saya Adi dari Bandung.”

“Saya Ine dari Menado dan ini Tina dari Semarang.” Kata gadis berambut pendek. Kemudian lanjutnya.

“Kak Adi kuliah disini ya?”

“Ya setahun yang lalu aku selesaikan S3 ku di RMIT.”

“Wuah hebat donk, doktor muda.” Komentar Ine.

“Ya benar” Sambung Tina mendukung Ine

“Ah biasa saja, itu hanya kebetulan saja aku mendapatkan beasiswa.” Jawabku

“Oya kami juga mendapatkan beasiswa.” Komentar Ine

“Sudah berapa lama kalian berdua belajar disini?” Tanyaku lebih lanjut.

“Baru berjalan satu tahun, mau masuk tahun kedua. Kalau Kak Adi berapa lama disini?”

“Aku di Melbourne dua tahun lebih sedikit dan di Sydney dua tahunan. Jadi kira-kira ya sekitar lima tahun lah aku berada di Aussie.”

“Wuah lama benar. Sekarang kerja dimana?”

“Aku kerja di Bandung.”

“Sekarang mengapa disini?” Ine bertanya lagi.

“Mengunjungi teman”

“Pacar ya?” Selidik Ine

Aku sejenak diam dan tidak menjawab. Bayangan Nurul mendadak didepan mataku.

“Kamu di rumah dulu ya? Hari ini aku banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.”

Kata-katanya saat aku baru saja sampai diapartemennya masih terngiang-ngiang ditelingaku.

            “He Kak Adi mengapa melamun?” Suara Ine menyadarkan aku.

“Mmm tidak apa-apa. Cuma aku mengingat-ingat tadi pintu apartemen sudah kukunci belum ya.”

“Eh Kak Adi punya apartemen disini?” Tanya Ine lagi

“Bukan, bukan punyaku. Itu kepunyaan temanku. Namanya Nurul.”

“O pacar Kak Adi namanya Nurul. Pasti wanita yang kaya ya, bisa beli apartemen disini.”

Aku hanya mengangguk saja tanpa komentar.

            “Eh ngomong-ngomong kalian sudah kenal daerah ini belum?”

“Belum, kami jarang keluar dari tempat kos kami. Setiap hari hanya ke kampus saja” Jawab Tina yang agak pendiam.

“Kalau begitu mau kalian kuajak jalan-jalan di beberapa lokasi disini. Banyak tempat yang menarik. Siapa tahu nanti kalian ajak pacar-pacar kalian kesini.”

“Ah mana ada pacar disini. Untuk belajar  saja waktu sudah kurang.” Komentar Ine.

            “Kak Adi tidak sibuk?” Kata Tina

            “Tidak aku kan cuma pelancong disini.” Jawabku.

            “Bagaimana kalau kita jalan-jalan di Southbank Boulevard saja.” Lanjutku.

Kami bertiga beranjak meninggalkan lokasi Southgate Complex  menuju ke Southbank Boulevard. Sepanjang boulevard ini banyak kelompok buskers yang menghibur orang-orang yang melalui jalan ini.

            “Lihat tuh patung-patung yang lucu dan indah” Kata Ine

            “Ya aku baru lihat disini saja.” Komentar Tina

            “Nanti ada patung yang dapat berjalan juga namanya Albert Stone” Kataku

            “Oya aku ingin melihatnya.” Kata Ine dengan antusias.

            “Ya nanti kita sampai di lokasi itu.”

Sampai di lokasi yang dituju kami melihat si Albert Stone sedang menyalami anak-anak.

“Ah aku mau bersalaman juga dengannya.” Ine berkata sambil mendekati tempat dimana si patung berjalan sedang “bermain” dengan anak-anak.

“Seperti  anak kecil saja kamu Ne.” Komentar Tina

            “Ha … ha biarin mumpung disini.” Jawab Ine dengan enteng.

Kami bertiga cepat akrab karena memang setiap orang yang berada di negeri asing jika bertemu teman dari negara yang sama pasti akan cepat akrab. Terlebih sesama mahasiswa dari negara yang sama. Semakin lama aku bersama dengan Ine aku merasakan sesuatu perasaan aneh terhadap Ine. Ine meski dari Menado tetapi cara bicara dan jalannya mirip dengan orang Jawa.

            “Ine maaf kamu kalau bicara seperti orang Jawa saja.” Tanyaku penasaran

            “Ya iya, ibuku orang Jawa sedang ayahku orang Menado.” Jawabnya

            “Pantas. Cara kamu berjalan juga persis…”

            “Persis siapa? Persis dengan Nurul?”

            “Bukan, bukan persis seperti temanku dari Yogya, namanya Mira.”

            “Ah ada yang lain lagi nih” Goda Ine

Aku hanya tersenyum saja mendengar ejekan Ine. Memang cara berjalan Ine mirip dengan Mira tetapi muka tidak jauh berbeda dengan Nurul. Cantik, putih dan menarik. Ine bagaikan kombinasi antara Nurul dan Mira.

            “Sudah capek belum?:” Tanyaku ketika kami sudah berkeliling berjalan di Southbank Boulevard.

“Belum, aku masih belum capek. Kalau Kak Adi capek tunggu saja kami ditempat tadi kita ketemu. Eh ngomong-ngomong aku boleh nggak mendapatkan nomor telepon apartemenmu.” Jawab Ine

“Boleh tetapi lebih baik nomor hp saya saja.” Kataku sambil memberikan alamat apartemen Nurul.

Kami terus berkeliling di daerah Southbank, memang banyak yang dapat dinikmati didaerah ini.

            “Mau coba cruising di Yarra dengan steamboat?” Aku menawarkan pada mereka berdua.

            “Lain kali saja ah.” Jawab Tina

“Itu lokasi apartemen dimana aku tinggal sementara ini.” Kataku sambil menunjuk Gedung Apartemen Southbank Tower dimana Nurul tinggal.

“Bagus amat ya pasti mahal sekali sewanya.” Kata Ine

“Ya mahal tetapi sesuai dengan fasilitas dan kenyamanan yang didapatkan.”

“Kapan kita dapat seperti itu ya Na?” Ine berkata pada Tina

“Kapan-kapan saja.” Jawab Tina sambil senyum-senyum.

“Kak Adi beruntung dapat calon istri seperti Nurul. Cantik, pandai dan kaya. Wuah superwoman.”

Aku tidak berkomentar apa-apa mengenai pernyataan Ine itu. Ine tidak tahu kenyataan yang sedang kuhadapi saat ini. Sama seperti Mira yang pernah dekat dengaku juga, dia mengatakan hal yang sama. Mira dan Ine hanya melihat hubunganku dengan Nurul dipermukaan saja.

            “Bagaimana kalau sekarang saya berpamitan dulu.” Kataku pada mereka

            “Oke, tapi bagaimana kami harus pulang.”

“Begini tadi kita melewati jembatan kan? Itu namanya Prince Bridge dari situ kamu berdua jalan menuju ke Federation Square dimana banyak transportasi yang akan menuju ke kos-kos kalian. Atau kalian bisa ke Flinders, tahu kan daerah itu?

“Ya aku tahu. Daerah pusat transportasi di Melbourne” Jawab Ine.

 

                                                *****

Sampai di apartemen aku kecapaian dan tertidur di sofa. Mendadak bel berbunyi. Kutengok jam dinding menunjuk jam 10 malam. Rupanya Nurul baru pulang.

            Sorry I am late” Katanya sambil mencium pipiku.

            It’s ok istirahat saja. Jangan sering pulang malam. Nanti kamu sakit.”

            Yes, yes.”

Have a nice sleep.” Kataku dengan mencium keningnya. Kemudian aku kembali tidur di sofa dan Nurul masuk kekamarnya.

Kuamati Nurul dari belakang tampak kecapaian sekali. Aku sebenarnya kasihan melihat dia seperti itu. Tapi aku tak mampu mencegahnya sebab bila itu kulakukan pasti dia akan marah dan menganggapku tidak mendukung cita-citanya. Pendapatku mengenai peristiwa ketika dia mau kembali ke Melbourne lagi setelah bekerja beberapa saat di Sydney membuat dia marah kepadaku waktu itu.

Kamu kalau mendukung yan mendukungku tidak pakai tapi-tapi. Pokoknya aku mau balik lagi ke Melbourne dengan atau tanpa persetujuanmu.” Katanya waktu itu.

“Ya ok aku setuju saja, tadi aku hanya memberi saran saja. Bukankah kamu baru beberapa bulan pindah dari Melbourne ke Sydney mengapa sekarang mau balik ke Melbourne lagi.” Aku masih berusaha memberikan pengertian padanya.

“Aku capek, aku mau tidur.” Katanya mengalihkan pembicaraan.

Kalau sudah begitu aku hanya diam dan mengalah sebab jika aku bersikeras juga maka pasti hubungan akan menjadi semakin kacau.


 

IV.             Dikejar Bayang-Bayang Masa Lalu

Hari itu aku berkesempatan berdua dengan Nurul karena hari ini adalah hari libur. Nurul mengajak aku menuju tempat favoritnya, yaitu St. Kilda. Daerah ini merupakan tempat untuk bermain dan bersantai bagi orang-orang yang tinggal di Melbourne. Ini yang ketiga kalinya aku mengunjungi tempat ini. Dengan mengendarai mobil kami berangkat dari Southbank menuju ke St Kilda yang berjarak sekitar 30 menit

“Kamu nggak bosan kesini lagi” Kataku sambil mengendari mobil Nurul menuju ke St Kilda.

“Nggak lah, apalagi sama kamu. Ini kan bernostalgia.” Jawabnya sambil tersenyum.

Aku juga tersenyum mendengar ucapannya. St Kilda memang tak jauh dari pusat kota. Dengan menggunakan tram berangkat dari Bourke Street atau dari Swanston Street hanya memerlukan waktu sekitar 25 menit.

            “Ingat waktu kamu mengantarku pertama kali kesini?” Kataku padanya

“Ya ingat kejadian itu. Kamu menyusulku dan mengajakku pulang ke Indonesia. Tetapi aku minta waktu. Ah kamu memang baik selalu mengalah.” Katanya sambil mencubit lenganku.

“Oya kita hampir sampai di lokasi kemana dulu ni. Langsung ke pantai?”

“Jangan kita ke Acland dulu saja. Aku lapar tadi pagi belum breakfast.”

“Ya ok kita ke Acland aku juga sudah mulai lapar nih.”

Acland merupakan area dimana restauran dan kafe berada. Tempat ini terkenal sekali dengan toko-toko roti. Restauran dan kafe disini selalu ramai dikunjungi oleh orang karena lokasinya yang berdekatan dengan pantai-pantai di St. Kilda. Selesai makan kami langsung menuju ke pantai untuk menikmati suasana pantai yang sangat kusenangi.  Letak St Kilda memang berada di pinggiran pantai, sehingga para pengunjung dapat memilih beberapa lokasi untuk berenang atau hanya menikmati suasana pantai saja. Jika kita ingin berenang maka lokasinya adalah di St Kilda Sea Baths.

            “Kamu mau berenang?” Tanyaku pada Nurul

            “Iya dong itu kan tujuan kita kesini. Kamu nggak?” Jawab Nurul

            “Nggak ah, dingin aku nemani kamu aja ya.”

            “Biasa, biasa takut sama air.” Ledek Nurul

Aku menunggu Nurul berenang sambil menikmati udara pantai St Kilda. Sesaat aku kembali teringat persitiwa ketika aku membujuk dia untuk kembali ke Indonesia dan hidup bersamaku.

Beri aku kesempatan untuk sesaat berpikir, apakah aku akan pulang ke Indonesia bersamamu sekarang atau nanti.” Kata Nurul di St Kilda Beach waktu itu.

“Maafkan aku, bukan aku memaksamu tetapi mengertilah hubungan kita sudah cukup lama. Aku sudah lama menunggumu.” Jawabku waktu itu

“Ya aku mengerti, tetapi aku belum siap sekarang. Masih banyak hal yang harus kuselesaikan dan kukejar.” Nurul melanjutkan perkataannya.

“Terus kapan kita akan bersatu?” Tegasku

Nurul saat itu hanya diam dan tidak menjawab. Mukanya mengekspresikan rasa tidak suka dengan pertanyaanku. Kalau sudah begitu aku kembali harus mengalah.

            “Hi lihat sini. Jangan melamun.” Kata Nurul sambil menyiramkan air kearahku.

            “No, Aku tidak melamun.” Jawabku sambil tersenyum.

            “Kau pasti ingat waktu kita disini kan?” Sambungnya

Aku tidak memberi komentar apa-apa. Hanya diam sambil menatap wajahnya yang semakin cantik dan menawan. Alangkah ruginya kalau aku meninggalkan atau ditinggalkan oleh Nurul. Sulit mencari seorang wanita seperti dia. Bahkan Mirapun tidak sebanding dengan Nurul. Meski Mira juga cantik dan cerdas seperti  Nurul, tetapi tetap saja Nurul lebih menarik dan membuat hatiku takluk.

“Sudah jangan melamun lagi nanti ingat yang bukan-bukan lagi. Ingat Mira juga?”

“Ah kamu bisa saja” Nurul meledekku.

Mira seorang gadis cantik yang ketemu dengan ku di pesawat ketika aku pergi ke Sydney Mira pernah dekat denganku saat-saat hubunganku dengan Nurul mengalami goncangan. Waktu itu dia pergi ke Sydney dalam rangka kuliah S2 di Wollongong University. Ketika masa-masa kritis hubunganku dengan Nurul yang pada puncaknya Nurul meninggalkanku selama empat bulan lebih tanpa pesan apapun juga. Saat itu Mira mulai pelan-pelan singgah dan mengisi hatiku serta membuat hatiku mulai terbelah.

            Selama satu jam aku menunggu Nurul berenang sambil menikmati kesegaran susasana udara pagi itu.

            “Sudah ah capai.” Kata Nurul kemudian  sambungnya.

            “Antar aku ke ruang ganti pakaian”

            “Ya terus kemana lagi kita”

“Habis ini kita ke Lower Esplanade. Aku ingin membicarakan sesuatu padamu disana sambil lunch.” Jawabnya

            Aku mengangguk setuju. Lower Esplanade terletak dibelakang pantai disitu ada Luna Park dan  Palais Theatre. Luna Park merupakan salah satu landmark di Melbourne karena mempunyai model pintu masuk yang antik berbentuk muka manusia yang sedang tertawa.

            “Siap kita kesana sekarang?” Tanyaku.

            “Ya ayo.”

Sambil berjalan di taman untuk melihat-lihat pemandangan di taman Nurul memulai bicara padaku.

“Adi aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi kuharap kau jangan marah.” Katanya sambil menggandeng tanganku.

“Bicara saja, aku tidak akan marah. Bagaimana aku bisa marah dengan orang yang kucintai.” Jawabku sambil menatapnya

“Aku ingin kamu tinggal di Melbourne bersamaku. Ini saja permintaanku kemudian akau bersedia nikah denganmu.”

Sudah kuduga apa yang akan dikatakan Nurul mengenai keberadaanku yang selama ini menghalangi hubungan cinta kami. Aku terdiam sejenak sambil mengehla nafas aku berkata.

“Bagaimana kalau kita lanjutkan di Kafe depan itu sambil minum. Aku ingin minum Espresso Coffe dan makan Fresh Cake Slices disini.”

“Ya ok, kamu pusing?” Nurul bertanya padaku. Dia tahu kebiasaanku aku hanya minum kopi kalau sedang pusing.

“Maafkan aku, aku selalu merepotkanmu.” Lanjutnya.

“Tidak apa-apa. Aku hanya perlu berpikir sejenak untuk masalah ini. Bagaimana kalau kamu beri aku waktu satu dua hari untuk berpikir.” Aku masih menawar.

Nurul diam tidak menjawab ekspresi wajahnya menunjukkan kekecewaan dengan jawabanku. Aku kemudian ingat waktu satu tahun yang lalu aku “mengancam” dia untuk meminta ketegasan hubungan kami sebelum aku pulang ke Indonesia setelah usai acara wisuda doktornya.

            Sekarang apa lagi yang kamu cari. Semua sudah kaudapatkan?”

“Aku ingin bekerja di RMIT Melbourne.” Dia memberikan jawaban yang sangat mengagetkan aku.

“Terus kapan kita menikah?” Tanyaku dengan nada meninggi karena aku sudah kehilangan kesabaranku setelah menunggu beberapa tahun.

“Jangan teriak-teriak seperti itu. Aku tidak suka kamu teriaki aku” Nurul menjawab dengan marah waktu itu.

“Ok. Ok maaf aku kehilangan kendali. “ Jawabku sambil mengendalikan emosiku.

“Aku beri waktu lagi kamu tetapi ini yang terakhir. Aku sudah tidak kuat lagi dengan penundaan-penundaan yang sudah kau lakukan selama ini.”

Mendadak Nurul menepukku dan katanya:

“Aku perlu jawabanmu sekarang.” Sekarang!. Ini pasti ada hubungannya dengan  surat pengajuannya menjadi warga negara Aussie. Tetapi aku tidak mau mengatakan biar nanti Nurul memberitahuku secara suka rela.

“Ok aku tidak mau menyakiti hatimu dan aku tidak ingin kita bertengkar lagi mengenai masalah ini. Please beri waktu semalam saja. Besok pagi aku akan sampaikan keputusanku.”

“Ya sudahlah tapi aku tidak akan menghentikan proses…” Nurul berhenti berkata.

“Proses apa?” Tanyaku

“Aku sedang memroses menjadi warga negara disini.”

Aku sudah menduga jawaban yang akan diberikan pasti mengenai proses pengajuan kewarganegaraan  di Aussie.

“Apa kamu sudah memikirkan dampak bagi orang tuamu dan dirimu sendiri mengenai keputusanmu itu.”

“Sudah,  sudah kupikirkan masak-masak. Aku hanya meminta kesedianmu untuk tinggal disini.”

“Selamanya?” Tegasku

“Itu dipikir sambil berjalan. Apa yang sekarang terjadi aku ingin jalani saja.” Jawabnya dengan ringan.

“Ok besok pagi aku memberi keputusan. Jangan rusak suasana saat ini hanya untuk membicarakan perbedaan kita. Mengapa kita tidak bicara hal-hal yang menyamakan kita.” Aku berkata dengan lembut. Kulihat Nurul agak melunak kemudian dia berkata

“Ok besok pagi pada saat kita breakfast.”

            “Kita lanjutkan jalan-jalan kita?” Sapaku sambil menggandeng tangannya.

Nurul mengangguk. Kami beranjak dari restauran dimana kami makan menuju ke St Kilda Botanic Gardens, salah satu tempat wisata yang paling menarik di Melbourne.

           

                                    ************

            Malam itu aku tidak dapat memejamkan mata sama sekali. Hatiku gelisah dan terus gelisah karena besok pagi aku harus memberikan persetujuan mengenai keberadaanku di Melbourne. Nurul meminta aku untuk pindah kesini. Suatu pilihan yang sangat rumit dan kompleks serta sulit untuk kulakukan karena pertimbangan-pertimbangan keluargaku yang hanya memiliki seorang anak, yaitu aku. Impianku untuk mengabdikan ilmuku pada negara yang sangat kucintai. Kepalaku terasa berat ketika aku mencoba bangun pagi itu. Aku semakin mengerti sekarang kemana arah keinginan Nurul terhadapku. Semua ini kesalahanku dimasa lalu. Aku selalu mengalah dan mengalah terus. Semua keinginannya selalu kusetujui. Sekarang aku harus menanggung akibatnya.

            “Kamu makan hanya sedikit.” Komentar Nurul

            “Aku tidak lapar, kemarin makan terlalu banyak.” Kataku. Nurul diam menunduk kemudian dia menatapku, lalu katanya.

            “Maafkan aku bagaimana keputusanmu?”

            I am sorry, I cannot decided it yet.”

            Why?” Desaknya

Aku hanya menunduk dan diam. Sesaat ruang makan itu menjadi sepi tidak ada suara apapun yang keluar dari mulut kami berdua.

            “So, kita tetap mempunyai perbedaan yang prinsip.” Nada datar keluar dari mulut Nurul.

            “Aku tidak setuju dengan pendapatmu.” Jawabku

“Ya sudah kalau itu maumu. Tapi jangan berharap banyak padaku. Lebih baik sekarang aku sakit daripada hubungan kita berlarut-larut tidak menentu. Lanjutnya

“Aku tidak banyak punya waktu. Terserah sekarang apa maumu?” Perkataan setahun lalu muncul lagi dalam pembicaraan kali ini.

“Aku tetap mencintaimu.” Tegasku

We cannot live only with love.” Komentarnya

“Ijinkan aku tinggal beberapa hari ini di apartemenmu.”

“Bagaimana pekerjaanmu di Indonesia?”

“Aku akan mencari pekerjaan lagi, mungkin disini untuk sementara sambil menunggui kamu.”

Kulihat muka Nurul memerah lalu katanya.

“Aku tidak suka dikuntit terus. Kita sudah dewasa. Aku dapat menjaga diriku sendiri dan keputusan-keputusan yang kubuat tidak perlu meminta pertimbangan orang lain.”

            “Ya aku tahu itu sifatmu.”

Dasar keras kepala! Pikirku. Itulah Nurul keras kepala dan maunya sendiri. Tetapi aku tidak dapat melepaskannya. Begitu mudah hubungan baikku putus dengan Mira, tetapi dengan yang satu ini aku benar-benar tidak mampu berbuat banyak. Entah kekuatan apa yang ada pada diri Nurul sehingga aku tidak dapat lepas darinya meski dia terus mengecewakan aku dengan berusaha menunda-nunda pernikahan kami.

            “Aku mau berangkat kerja.”

            “Hati-hati” Kataku.


 

V.                Mira Kembali ke   Sydney

Aku sudah mendapatkan pekerjaan di Melbourne berkat jaringan persahabatanku dimasa lalu. Bahkan teman-temanku di Sydneypun mau menolongku dengan senang hati mereka memberiku pekerjaan sambilan yang dapat sewaktu-waktu kukerjakan didasarkan tenggang waktu tertentu. Dengan seijin Nurul aku pindah ke apartemen lain dipinggiran kota Melbourne, yaitu di daerah Port Melbourne. Disini aku tinggal di Beach Road. Port Melbourne merupakan daerah pinggiran yang terletak diantara pantai Hubson Bay dan bagian bawah ujung Yarra River. Aku memilih daerah ini karena akses menuju ke kota Melbounre mudah dan cepat. Untuk menuju ke kota aku dapat melalui Westgate Freeway. Aku tinggal di suatu apartemen yang murah yang semula merupakan lokasi pabrik kemudian diubah menjadi apartemen tempat tinggal. Pertimbangan lain aku memilih tempat ini agar Nurul tidak menuduhku memata-matai dia lagi. Dengan demikian aku tidak akan membuat dia marah padaku. Jika aku ingin bertemu dengan dia, maka aku dapat sewaktu-waktu mengunjunginya tanpa mengeluarkan biaya banyak  sebagaimana jika aku mengunjungi dari Indonesia.

Hari itu sepulang kerja aku kembali ke apartemen dimana aku tinggal. Baru saja aku duduk meletakkan tasku hp ku berdering, saat kuangkat kudengar suara Mira dari dalam telepon.

“Mas Adi apa kabar? Lama kita tidak komunikasi. Bagaimana kabar Mbak Nurul? Sekarang kalian ada dimana?” Pertanyaan bertubi-tubi dari Mira membuatku bingung untuk menjawab.

“Mira! Aku baik-baik saja, Kamu juga kan. Nurul sehat dia ada di Southbank sedang aku di Port Melbourne. Kamu dimana sekarang? Masih di Yogya?”

“Lho kalian kok tidak serumah. Ada apa?”

“Kami belum nikah masih seperti dulu.” Jawabku

Sesaat tidak ada jawaban dari Mira.

            “Halo Mira kamu dimana saat ini?” Kataku lagi

“Eh maaf Mas. Aku sekarang di Sydney melanjutkan studi S3 ku di University of Sydney. Tahu kan Mas tempatnya. Aku tinggal di Students’ Dormitory tak jauh dari kampus.”

            “Mm ya aku tahu. Aku pernah lewat di daerah itu beberapa kali.” Jawabku

            “Kapan Mas  ke Sydney, mampir ya aku tunggu.”

“Ya, ya nanti ya kalau aku ada urusan kesana. Kebetulan ada teman disana mau memberi proyek kecil yang dapat kukerjakan.”

“Benar ya Mas, aku kangen sama Mas Adi.” Jawaban Mira masih seperti dulu, Terus terang, jujur dan manja.

By the way, how did you know that I am in Aussie now?” Aku heran mengapa Mira tahu kalau aku berada di Melbourne padahal aku sudah lama tidak kontak denganya. Terakhir kali aku bertemu dengannya kami berdua berpergian di Parangtritis Yogyakarta. Sesaat aku ingat Mira menangis ketika aku berkata akan kembali ke Melbourne waktu itu.

Mira maafkan aku. Aku harus segera kembali ke Melbourne. Kalau memang Tuhan kehendaki kita akan bertemu lagi.” Kataku waktu itu sambil memeluknya. Mira tidak berkata apa-apa kecuali mengusap airmatanya yang terus keluar.

“Dari Ibu. Ibu di Yogyakarta yang memberitahu aku.” Jawab Mira. Ibu begitulah  Mira memanggil Ibuku. Aku terkejut mendengar jawaban Mira. Kalau Ibu turut campur tangan artinya beliau sudah tahu hubunganku dengan Nurul bermasalah.

“Mas…. Mas Adi masih dengar suaraku?” Mira berkata dengan keras.

“Ya.. ya aku dengar.”

“Kapan Masa bisa kunjungi aku?”

Next week. Kebetulan aku ada janji soal kerjaan dengan temanku di CBD. Aku nanti pasti mampir.”

Promise Mas?”

Promise. Aku pasti datang.”
                        **********

 

            Sydney CBD tidak pernah tidur. Keramaian yang tidak mengenal kata berhenti. Kesibukan orang berbisnis, bekerja dan beraktivitas lainnya. Dari Kingsford Airport aku menuju ke Cirqular Quay, pusat sarana transportasi di Kota Sydney. Tempat ini banyak menyimpan kenangan dalam hidupku waktu itu ketika aku sedang bersama Nurul aku kembali ketemu di Circular Quay secara tidak sengaja dengan Mira yang waktu itu sedang studi S2 di Wollongong University, tempat dimana aku pernah menyelesaikan S2 ku. Pertemuan dengan Mira itu berbuntut panjang sampai pada kemarahan Nurul karena aku kemudian menjadi dekat dengan Mira.

“Mira aku sudah sampai di CQ. Kamu dimana.” Kataku lewat telepon.

“Bagaimana kalau Mas menunggu saya di dekat Sydney Opera House? Masih ingat kan tempat dimana kita bertemu waktu itu?” Jawab Mira.

“Ok aku tunggu disana.”

Sekitar 20 menit aku menunggu Mira tiba. Kulihat Mira sudah banyak berubah. Rambut yang dulu pendek sekarang dibiarkan panjang. Sekarang dia lebih suka mengenakan rok daripada celana jean, mukanya sedikit kelihatan bulat karena agak gemuk.

            “Mira kamu kok gemuk sekarang” Kataku sambil menyalami tangannya.

“Ya Mas habis banyak makan. Mas ok seperti dulu saja tetap kurus” Komentarnya sambil duduk disampingku.

“Kapan kamu mulai kuliah lagi?”

“Sudah setahun Mas. Ketika aku pulang ke Yogya liburan aku sempatkan mampir mengunjungi ibu. Kata Ibu kamu sedang di Melbourne.” Mira berkata sambil menatapku. Ah tetap saja tatapan mata Mira membuat hatiku tergetar. Bagaikan terkena strum listrik. Aku berusaha dengan sekuat tenaga mengendalikan emosiku.

“Masih sendirian?” Tanyaku mengalihkan

“Ya masih seperti dulu.” Katanya jujur.

“Kenapa nggak cari calonnnya. Kamu kan cantik dan pandai. Banyak pria yang mau sama kamu.”

“Mana buktinya? Mas saja nggak mau sama saya.” Guraunya sambil tertawa.

“Ah kamu bisa aja.”

Mira pernah singgah dihatiku ketika konflik berkepanjangan antara aku dengan Nurul. Pelan-pelan tetapi pasti Mira menyusupi hatiku, meski tidak sepenuhnya mampu menggeser Nurul dalam diriku Mira tetap saja pernah terpatri dihatiku.

            “Kok melamun.” Selanya

            “Iya melamunkan kamu.” Gurauku

            “O iya bagaimana kabar mbak Nurul?”

            “Masih seperti dulu keras kepala dan tidak mau mengalah.” Jawabku.

            “Kenapa Mas masih saja menunggu. Apa lagi yang ditunggu?”

Aku diam tidak memberikan jawaban padanya. Mira mengulangi lagi pertanyaannya.

            “Mas apa yang mas tunggu.”

“Tidak tahu. Aku tidak tahu. Yang kurasakan sulit sekali aku meninggalkan dia.”

“Mas Adi masih tidak berubah, peragu, tidak bisa mengambil keputusan.” Mira berkata padaku seperti pada mahasiswanya.

“Benar Ibu Dosen. Apa yang Ibu katakan memang benar.” Jawabku

“Ah Mas dalam keadaan serius kok malah guyonan.” Komentar Mira.

            “Sudahlah bicara saja yang lain.Aku pusing memikirkan dia.”

“Ya salah sendiri mengapa Mas selalu mengalah. Kalau aku jadi Mas sudah kutinggalkan dia dan cari yang lain.”

Ada keinginan untuk itu. Tetapi ….”

“Tetapi apa? Nggak ada yang lain? Karena yang ada dikepala Mas cuma Nurul; bahkan Mira saja dilupakan.” Katanya dengan tegas. Ah Mira semakin dewasa dan matang saja kamu. Apakah masih tersisa kenangan manis kita saat itu dihatimu Pikirku.


“Siapa melupakan kamu. Aku tidak pernah melupakanmu.” Belaku

“Buktinya selama hampir tiga tahun setelah kita terakhir ketemu Mas tidak pernah memberi kabar bahkan telepon saja tidak.”

“Karena aku tidak mau mengganggumu. Aku kuatir jika aku masih sering menghubungimu kamu jadi bingung seperti aku.”

“Ah Mas kok seperti anak kecil. Aku ini sudah tahu sifat-sifat Mas Adi. Entah kekuatan apa yang dipunyai Nurul sampai-sampai orang sepandai Mas kok bisa bertekuk lutut dan menjadi seperti orang “bodoh”. Maaf Mas kata-kataku kasar, tetapi semua ini demi kebaikan Mas sendiri dan Ibu juga. Kasihan kan Ibu dia menunggu dan terus menunggu keputusanmu.”

Mira terus memberi kuliah padaku. Aku hanya diam dan menunduk. Tidak sepatah katapun keluar dari mulutku karena apa yang dikatakan memang benar. Sekilas ada rasa ingin kembali dengan Mira. Mira wanita yang cerdas dan cantik.

“Mas apa sih yang diharapkan dari Nurul?”

“Aku. Aku berharap dia benar-benar mencintaiku seperti aku mencintai dia dan aku bisa merubah sikapnya bahwa dia juga membutuhkan aku.” Jawabku

“Kalau hanya itu, bukankah aku bersedia Mas seperti kataku waktu itu. Ingat kan saat kita di Kampus Gadjah Mada?.”

Aku menganggukkan kepalaku.

“Mas sampai saat ini aku tidak rela kalau Mas terus menderita seperti ini. Menanti sesuatu yang tidak pasti. Mas boleh memegang teguh mimpi itu, tetapi kalau itu tidak pernah terwujud ya harus dialihkan.”

“Ya itu secara logika, tetapi cinta itu tidak dapat hanya diselesaikan dengan logika. Apalagi impian. Aku hidup karena mengejar mimpi. Dan mimpi itu harus dapat kuraih. Betatapun sulitnya dan apapun pengorbanan yang akan kubayar”

“Bisa Mas. Aku akan membuktikan padamu. Aku akan memberi contoh pada Mas Adi. Maaf ya Mas bukan aku meremehkan Mas. Tapi aku sudah jengkel dan kehabisan kesabaran melihat orang yang kucintai diterlantarkan seperti itu.”

“Maksudmu?” Kataku penasaran

“Mas tahu kan kalau aku mencintai Mas. Tapi aku tidak mungkin menunggu terus seperti ini. Bisa-bisa aku jadi tidak nikah seumur hidupku. Aku sudah putuskan untuk menghentikan impianku mendapatkan dirimu. Aku akan mencari pengganti Mas dengan segala usahaku.”

Aku kembali terdiam. Mira ternyata cintamu cinta yang tulus. Apakah Nurul dapat memberikan cinta seperti itu kepadaku. Apakah cinta Nurul kepadaku selama ini hanya di permukaan. Sekedar berhubungan saja tanpa tujuan yang jelas? Mira kembali membuatku gundah dan resah. Seperti masa-masa saat aku bersamanya. Mira membuat hatiku terobek menjadi dua. Di satu sisi ada Nurul dan disisi lain ada dia.


 

VI.             Hati Yang Terobek

Selama aku mengerjakan proyek kecil di Sydney aku tinggal di hotel tak jauh dari tempat dimana Mira tinggal. Dengan demikian aku sering bertemu dengan dia saat-saat dia tidak ada kuliah.  Saat itu kami berada restoran berputar di Sydney Tower. Sydney Tower, yang dikenal juga sebagai Center Point Tower karena letaknya ditengah-tengah pusat kota atau Central Business District (CBD) kota Sydney, merupakan gedung tertinggi di Sydney dan kedua di Australia. Gedung pencakar langit ini menjulang setinggi 350 meter ke langit. Dari tower ini, kita dapat melihat-lihat pemandangan di Kota Sydney di berbagai penjuru. Dari observation deck di Tower ini kita dapat melihat dengan jelas Sydney Harbour Bridge yang monumental itu. 

“Mas aku ingin beri kabar padamu.” Kata Mira mengawali pembicaraan

“Apa itu?”

“Jangan kaget ya Mas.”

“Apa sih kamu bikin hatiku dag dig dug.”

“Bulan depan aku akan tunangan dengan temanku.” Katanya sambil memegang tanganku.

Aku terkejut sekali mendengar informasi tersebut. Tidak terasa tubuhku bergetar. Entah karena restauran dimana kami berada berputar terus atau karena aku shock mendengar kabar Mira akan tunangan. Setelah beberapa saat aku mampu menguasai diri aku berkomentar.

            “Ah selamat ya Mira. Selamat sekali lagi. Siapa pria yang beruntung itu?”

            “Mas kamu nggak apa-apa kan?” Mira tidak menjawab pertanyaanku tapi malahan bertanya padaku.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan berkata.

“Aku tidak apa-apa. Aku mengerti perasaanmu. Dan aku memang bukan yang terbaik bagimu.”

“Sudahlah Mas. Engkau sebenarnya yang terbaik, tetapi karena yang terbaik tidak dapat kuraih ya aku cari yang kedua.” Kata Mira sambil senyum-senyum.

“Kamu selalu saja menggodaku.” Kataku.

“Aku putuskan untuk menerima lamarannya. Dia pria asli dari Sydney sini. Seorang dosen di tempat aku kuliah.”

“Ah syukur kamu beruntung. Kamu pasti senang dan masa depanmu cemerlang.”

“Ya semoga pilihan ini tidak keliru. Sebab jika keliru aku tidak dapat kembali lagi mengulanginya.” Kata-kata Mira seolah-olah ditujukan untukku dan mengingatkan aku supaya aku tidak keliru dalam mengambil keputusan dengan Nurul.

“Ya aku akan belajar darimu.”

“Maafkan aku ya Mas?”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu tetap mempunyai arti dalam kehidupanku. Bahkan aku seharusnya yang minta maaf padamu. Selama ini aku mengecewakanmu.”

Kami berdua diam. restoran itu terus berputar dengan pelahan tapi pasti. Seperti hidup Mira saat ini dia terus berputar dan maju kedepan. Selangkah lagi dia akan mengakhiri masa lajangnya. Sesaat aku merasakan kekosongan dalam hatiku. Tak terasa Mira masih menyisakan sesuatu yang bermakna dalam hatiku. Mira masih membekas dihatiku juga. Sehingga terasa sekali aku sudah kehilangan dia. Apakah aku akan kehilangan Nurul juga?

            Tidak banyak waktu dalam hubunganku dengan Mira waktu itu. Karena Mira bagaikan bidadari penolong saat aku dalam kebingungan waktu itu. Dengan cepat Mira mengisi separuh hidupku. Aku menjadi terbelah. Sekalipun demikian, Mira berhasil memasuki hatiku. Kenang-kenangan ketika kami tidak sengaja dalam satu pesawat menuju ke Sydney dari Jakarta; pertemuan kembali di Circular Quay, Sydney CBD; obrolan singkat di Pantai Brighton dekat Bandara Internasional Kingsford Smith; jalan-jalan di kampus Gadjah Mada dan Malioboro Yogyakarta saat mengantar dia melamar di UGM;  perjalanan ke pantai Parangtritis seolah-olah baru kemarin sekarang semua akan lenyap bersamaan Mira memilih jalan hidupnya. Aku benar-benar kehilangan sebagian hatiku.

“Mas jangan melamun. Pintaku kepadamu yang terakhir. Bertindaklah tegas pada Nurul. Aku tahu kamu tidak memilihku karena kamu tidak tega menghancurkan hati Nurul. Tetapi keragu-raguanmu itu jangan sampai membawamu dalam kehancuran. Kalau Mas tetap dengan Nurul yang seperti itu. Aku takut Mas akan terus menderita. Carilah wanita lain. Pasti ada.” Kata Mira sambil memegang tanganku seolah-olah ingin memberi kekuatan dan meyakinkan aku.

“Ya… ya…..”Jawabku berguman.

“Benar ya Mas? Mas pasti bisa. Mbak Nurul memang mencintaimu tetapi hubungan cinta harus ada tujuannya dan akhirnya.” Lanjut Mira

“Kalau kau pulang ke Melbourne. Jangan cerita soal ini pada Nurul. Nanti dia cemburu lagi dan marah padamu.”

Aku menggelengkan kepala.

Putaran restoran mendadak terasa sekali. Entah apa sebabnya. Makanan dihadapanku tidak kuhabiskan karena mendadak selera makanku hilang. Kepalaku mulai terasa tidak enak bukan karena putaran restoran itu tetapi karena bekas-bekas  luka itu terasa lagi.

            “Kapan Mas pulang ke Melbourne.”

            “Besok pagi.”

            “Ok aku tidak bisa mengantarmu. Hati-hati ya Mas dan ingat pesanku.”

“Aku akan ingat-ingat dan aku akan mulai melangkah mesti aku sudah kehilangan  kesempatan. Barangkali kamu benar, aku sudah salah pilih.” Kataku sambil menahan emosi.

Kulihat Mira meneteskan airmata. Aku ingin memutar waktu lagi seperti memutar balik arah jarum jam tetapi semua sudah terlambat. Aku tidak dapat kembali lagi ke masa lalu. Saat ini Mira sudah menjadi milik orang lain, sementara Nurul kurasakan semakin jauh dariku. Seperti Center Point Tower yang berada di tengah kota lokasinya; aku berada ditengah-tengah kebimbangan kebimbangan dalam mengambil keputusan. Tidak kuasa aku menahan gejolak hatiku. Beberapa airmataku keluar tanpa kusadari. Mira mengambil tissue diusapkan ke wajahku.

            Perjalanan menjadi semakin tidak menentu lagi. Kala aku menengok kebelakang kurasakan betapa besar cinta Mira kepadaku meski kami berhubungan hanya dalam waktu yang singkat jika dibandingkan dengan hubunganku dengan Nurul. Sekalipun demikian aku sekarang menyadari Mira lebih sungguh-sungguh mencintaiku dan berharap banyak kepadaku meski aku sudah mengecewakannya. Aku terlalu obsesi dengan Nurul akibatnya aku kadang kehilangan identitasku sendiri. Nurul pernah berkata padaku dalam email ketika meninggalkan aku sendirian di Sydney waktu itu. Kejadian ini terjadi di Blue Mountains saat aku kebingungan mencari kepergiannya yang tanpa pamit padaku. Dalam emailnya dia berkata bahwa aku sudah kehilangan diriku sendiri karena ingin selalu memenuhi keinginannya. Rupanya proses ini terjadi tanpa kusadari. Tahu-tahu aku sudah sangat tergantung padanya. Ketika ada seorang wanita lain memasuki hatiku tetap saja tidak mampu menggesernya.

            “Mas aku harus kuliah. Aku pamit ya?” Suara Mira menyadarkanku.

“Ya. ya ok aku juga harus segera menyelesaikan urusanku. Semoga kamu sukses dan bahagia.” Jawabku

“Kita tetap keep in touch ya Mas.”

“Ya pasti.” Jawabku


 

VII.          Ine Membawa Kesejukan

Pagi itu aku berjanji akan ketemu dengan Ine lagi ditempat yang sama ketika kami bertemu beberapa minggu yang lalu, yaitu di Southbank. Ine waktu itu meminta alamatku dan nomor hpku.  Dia menelponku pada saat aku sampai di Melbourne kemarin.

“Kak Adi ini Ine.” Katanya melalui teleponya.

“Hi Ine apa kabar?” Jawabku

“Baik, apa ada waktu untuk ketemu?”

“Ya kapan?”

“Bagaimana kalau ditempat kita ketemu dulu di Southbank. Aku suka tempat itu.”

“Ok aku setuju. Kutunggu besok pagi disana? Tidak ada kuliah kan?” Sambungku

“Tidak ada sesuatu yang ingin kutanyakan.” Ine menjawab

“Tentang apa?”

“Besok saja ya soalnya panjang.”

“Ok aku tunggu kamu besok di Southbank.”

                                                *****

            Aku sudah berada di restauran tempat kami bertemu waktu itu. Sekitar 15 menit aku menunggunya. Didepanku muncul Ine dengan celana jean dan kaos ketat berwarna putih. Dengan penampilan seperti itu Ine tampak cantik sekali dan bentuk badannya yang indah kelihatan secara jelas.

            “Kak apa yang kamu lihat?”

“Ah kamu, kamu saya kira siapa. Habis kali ini beda dengan kemarin waktu kita ketemu.” Kataku dengan agak malu.

“Beda apanya sih?” Kata Ine dengan penasaran

You look very beautiful to day?”

“Kak Adi bisa saja.” Jawab Ine kemudian duduk didepanku.

            Ine benar-benar merupakan kombinasi antara Nurul dan Mira. Dalam dirinya kulihat dua wanita itu bersatu. Kecantikannya seperti Nurul sedang cara bicara dan jalannya sangat mirip dengan Mira. Apabila bicara nadanya lembut seperti diatur dengan rapi. Jalannya gemulai dan lembut. Seolah-olah setiap langkah kakinya diatur secara rapi.

            “Kamu seperti peragawati saja.” Komentarku sambil treus menatapnya

            “Sudah ah, aku jadi malu kalau dilihatin terus.”

            “Oya mau minum apa?” Aku menawarkan pesanan yang diinginkan oleh Ine.

            Softdrink saja.” Jawabnya

            “Makanannya?” Lanjutku

            “Sandwich saja.”

            “Kak Adi sudah lama menunggu?”

            Just around 15 minutes.”

            Sorry I am late.

Dihadapanku duduk seorang wanita yang cantik seperti Nurul dan sebaya Mira. Matanya yang sayu memancarkan sinar kebahagiaan dari dalam hatinya. Di bibirnya selalu ada senyuman. Wajahnya menampilkan daya tarik yang kuat. Entah  karena apa wajah itu membuat aku ingin terus menatapnya. Seperti memancarkan magnit itulah yang kurasakan. Getaran-getaran itu memancar melalui wajah dan senyumnya dengan tiada berhenti. Pancaran kecantikan yang tidak semata dari fisik saja, namun juga inner beauty yang bersinar.

            “Mengapa sih kak Adi terus menatapku?” Tanya Ine dengan tersipu-sipu malu.

            “Ah aku nggak tahu jawabannya.” Jawabku

“Ya sudah. Ini aku ingin bertanya bagaimana sih kalau aku pengin cari kerja sambilan disini? Kan Kak Adi sudah lama disini pasti setidak-tidaknya dapat memberikan informasi kepada saya”

“Kamu mau cari kerja apa. Kan sudah dapat beasiswa. Nanti mengganggu kuliahmu.”

“Ya sekedar cari pengalaman. Siapa tahu aku nanti bisa tinggal disini. Seperti siapa itu teman kakak?”

“Nurul maksudmu?”

“Ya. Nurul yang sukses setelah bekerja disini”

“Bagaimana kalau kamu bantu-bantu pekerjaanku. Aku kadang memerlukan tenaga bantuan untuk mengetik laporan-laporan proyek yang kukerjakan. Kamu mau?”

“Mau aku mau pokoknya aku ada penghasilan tambahan. Sekedar untuk beli keperluan baju dan parfum. Karena uang beasiswa hanya cukup untuk keperluan sehari-hari dan membeli buku.”

“Kalau begitu aku senang kalau kamu mau.”

“Kapan mulai?” Tanya Ine

“Sekarang bisa kita mulai. Kemarin aku satu minggu berada di Sydney untuk menyelesaikan pekerjaan disana. Aku harus membuat laporan tertulis dalam hari-hari ini.”

“Terus apa aku harus ke rumah Kak Adi?”

“Tidak perlu asal kamu ada komputer saja pekerjaan dapat kau bawa pulang.”

“Ya ok. Tapi kapan-kapan boleh kan main ke apartemen Kak Adi. Aku selama tinggal disini belum pernah ke Port Melbourne. Katanya suasananya enak dan tidak seramai disini.”

“Boleh saja. Kapan saja kamu mau silahkan datang.”

“Bagaimana kalau minggu depan aku kesana?”

“Boleh, boleh.” Jawabku.

            “Nurul sering datang kesana?”

“Belum pernah selama aku tinggal disana. Akulah yang datang apartemennya. Tetapi sekarang aku sibuk dan dia juga sangat sibuk. Jadi kami jarang ketemu. Ya sekali kali aku telepon dia.”

“Kelihatan ada masalah ya?”

“Nggak ada apa-apa. Hubungan kami tetap baik. Kalaupun ada masalah hanya perbedaan kecil saja. Dia ingin tinggal selamanya disini sedang aku masih pikir-pikir.”

“Oya” Jawab Ine seperti ada perasaan kecewa.

“Ah sudahlah kita bicara yang lain saja. Bagaimana kalau kita jalan-jalan melemaskan kaki sambil menyusuri pinggiran Yarra River. Kamu belum pernah kan? Kita dapat berjalan dengan nikmat tanpa merasakan kebisingan kota dipinggiran sungai Yarra.” Ajakku pada Ine menuju ke lokasi tempat jalan kaki yang dapat  digunakan untuk jala-jalan berkilo-kilo meter disepanjang pinggir sungai.

Yarra River merupakan ciri khas kota Melbourne karena perkembangan kota dimulai dari pinggiran sungai yang membelah sepanjang kota tersebut. Pusat kota yang dikenal dengan  CBD terletak dipinggiran sungai. Hotel-hotel berbintang, restoran-restoran dan pusat-pusat pameran berada paling banyak di sepanjang pinggiran sungai Yarra.

“Enak ya jalan ini. Aku tidak menyangka kalaiu di CBD seperti ini ada suasana seperti dipedesaan.” Komentar Ine setelah kami memasuki jalan di pinggiran sungai Yarra.

“Ya itulah bagusnya penataan kota disini.”

“Aku suka dengan kota ini. Bagaimana dengan Kak Adi?” Tanya Ine padaku

“Ya aku suka apalagi disini ada kamu.” Godaku

“Ah nanti Nurul cemburu?”

Kan dia tidak ada disini.”

Ine tersenyum senyum mendengar jawabanku.

“Apa rencanamu setelah lulus?” Aku bertanya pada Ine.

“Belum tahu persis. Yang jelas aku harus kembali ke Indonesia. Meski sebenarnya aku ingin tetap tinggal disini. Kuliah lagi dan cari kerja disini.”

“Itu kan tidak boleh, kamu menyalahi aturan pemberi beasiswa.” Komentarku.

“Ya memang. Entahlah sekarang yang penting aku lulus dulu. Soal nanti yang bagaimana nanti saja.”

Kalau Ine berkata seperti itu; maka tak ubanya dia seperti Nurul yang selalu berpendapat seperti itu.

“Tapi sebaiknya kamu rencanakan sebaik-baiknya supaya nanti masa depanmu sukses.”

“Benar. Aku setuju dengan pendapat Kak Adi. Aku ingin sukses seperti Nurul.”

“Kamu pasti bisa.”

“Ya semoga dengan dorongan Kak Adi aku harap aku semakin bersemangat dalam belajar saat ini.”

Kami terus berjalan menyusuri jalan itu sampai ke Royal Botanic Garden.

“Berhenti ah Kak aku sudah tidak kuat lagi.” Kulihat muka Ine penuh dengan keringat.

“Ya aku juga sudah capek.”

“Istirahat disini dulu ya. Aku ingin lihat-lihat Royal Botanic Garden.”

Aku mengangguk setuju. Melbourne Royal Botanic Garden (RBG) terletak tidak jauh dari CBD hanya sekitar 400 m dan berada tidak jauh dengan Yarra River dimana kami berjalan kaki. Taman ini berfungsi sebagai paru-paru kota Melbourne. Tempat yang nyaman untuk beristirahat sejenak kalau kita sedang kecapaian jalan-jalan di CBD.

“Ngomong-ngomong siapa sih Mira itu Kak?”

“Dari mana kamu tahu Mira?”

“Kan Kak Adi waktu itu yang mengatakan jalanku seperti Mira dan wajahku seperti Nurul.” Ine mengingatkanku.

“Iya ya aku lupa. Mira temanku saat ini sedang S2 di University of Sydney. Dia dulu adik kelasku di Gadjah Mada dan Wollongong University.”

“Mm ada kenangan ya?” Selidik Ine

“Ya dulu pernah dekat, tapi belum jodoh dia akan tunangan dalam waktu dekat dengan calonnya.”

“Patah hati dong.” Goda Ine

“Mungkin….. tapi sudah ada obatnya.”

“Siapa dia, Nurul?”

“Kamu.”

Ine tertawa seperti anak kecil sambil memetik daun pohon disamping dia duduk.

            “Mau nggak?” Desakku

“Gimana nanti ah. Aku lagi konsentrasi kuliah. Nggak mikirin yang lain” Jawab Ine .

            “Ya ok kita mau kemana lagi?”

            “Istirahat saja disini dulu  beberapa saat ah. Masih capek.”

Menikmati Royal Botanic Garden merupakan keharusan bila kita berada di kota Melbourne. Royal Botanic Garden yang sudah berumur ratusan tahun ini banyak memberikan kesegaran dan penghiburan. Aku duduk berdampingan dengan Ine di kursi panjang yang terletak di dekat pohon persis didepan kolam dengan air yang jernih. Kulihat diseberang beberapa orang duduk-duduk di depan kolam sambil menikmati pemandangan dan udara segar.

            “Sudah hilang capeknya?”

“Ya sudah antar aku pulang ya Kak karena hari sudah sore. Aku takut kemalaman di jalan.” Pinta Ine

“Oke biar sekalian aku tahu tempat tinggalmu.”.

 

Aku merasakan kesejukan menyiram kepalaku dan kemudian turun keseluruh tubuhku. Ine telah membawa ke suasana baru yang lain dari apa yang kualami selama ini. Suasana sejuk, damai dan nyaman kurasakan sekali saat ini. Aku dapat merasakan perbedaan antara Ine dengan Nurul yang terus membuat aku kebingungan. Sekalipun demikian,  pengalaman-pengalaman dengan Nurul dan Mira selama ini mengajari aku untuk lebih berhati-hati dalam menentukan langkah. Kuakui aku belum mengenal secara mendalam kepribadian Ine sampai saat ini karena memang aku baru saja mengenalnya. Namun secara sepintas aku dapat merasakan perbedaan khususnya antara Nurul dengan Ine. Nurul seorang yang berpendirian keras, tidak mau mengalah, dan maunya sendiri; sementara Ine kelihatan lebih lemah lembut, manja dan mudah diatur.


 

VIII.       Menyusuri Langkah-Langkah di 13th Beach

Ine memberikan harapan demikian kesimpulanku setelah sebulan ini kami terus bergaul baik saat dia membantu pekerjaan maupun saat kami bertemu dalam keadaan santai. Suatu hari kami menuju di 13th Beach untuk mencari suasanan yang tenang sambil mengerjakan beberapa laporan proyek yang sedang kukerjakan.

“Laptop kamu bawa kan?” Tanyaku saat berada di kendaraan yang kami naiki.

            “Ya aku sudap persiapakan sejak kemarin.” Jawabnya

            “Bagus. Aku senang bekerja sama denganmu. Kamu baik dan penurut.”

            “Kalau Nurul rewel ya kan. Bagaimana kalau Mira?”

Aku pura-pura tidak mendengarkan komentarnya.

            “Kamu juga sudah bawa pakaian untuk menginap?” Tanyaku lagi.

            “Jawab dulu dong pertanyaanku.” Kata Ine dengan manja

“Ya ok benar Nurul rewel dan keras kepala; kalau Mira lebih dekat dengan kepribadianmu” Jawabku sekenanya.

“Tapi aku bukan Nurul atau Mira. Aku Ine.” Ine berkata lagi dengan nada serius.

“Iya. Iya. Lagi pula siapa yang bilang kamu Nurul atau Mira. Aku kan hanya berkata ‘mirip’”

“Ya tetapi aku nggak mau disama-samakan dengan mereka. Aku adalah diriku sendiri.”

“Benar.” Tegasku.

“Jadi kak Adi jangan menyama-nyamakan lagi ya. It makes me uncomfortable.

“Ok aku tidak akan berkata seperti itu lagi kalau kamu tidak suka.”

Ine menunduk seperti merenungkan kata-kataku. Kemudian katanya:

“Nah begitu dong. Kalau kak Adi suka sama Ine bukan karena kemiripanku dengan mereka kan?”

Aku terkejut mendengar perkataan Ine karena selama ini aku belum pernah mengucapkan kata-kata itu kepadanya. Rupanya Ine sudah mengambil kesimpulan bahwa aku mulai menyukainya. Aku dengan gugup menjawab.

            Ya. Ya I like you  as you are.”

Ine tersenyum puas kemudian katanya.

            “Nah begitu kan jadinya enak. Jadi aku kan tidak pura-pura lagi.”

            “Pura-pura apa?” Tanyaku dengan penasaran

            “Berpura-pura jadi Nurul atau Mira.’ Jawabnya sambil ketawa.

Kalau tertawa begitu Ine tak ubahnya seperti Nurul. Tanpa sadar mulutku berbisik.

            “Persis”

            What?” Ine bertanya

            Nothing. I said nothing” Mendadak aku ingat janjiku untuk tidak menyamakan dia dengan Nurul atau Mira.

“Ya sudah.”

 

Sampai di Pantai kami menuju ke hotel dimana kami akan menginap.

            Kan nanti disana aku pesan kamar sendiri ya?” Pintanya

            “Ya pasti. Kita akan berbeda kamar.”

            “Tapi jangan jauh-jauh ya? Aku takut kalau sendirian.”

“Ya nanti aku tidur diluar kamarmu saja. Sambil menemanimu dari balik pintu.” Jawabku sambil tersenyum.

“Tapi jangan mengintip kalau aku sedang tidur.”

“Nah mulai rewel kan.” Komentarku.

“Tapi beda kan?”

“Ya, ya berbeda. Kamu paling berbeda. Pokoknya kamu kombinasi.”

“Kombinasi apa?” Tanyanya

“Tahu sendiri lah jawabannya.” Kataku tidak mau menyebut nama Nurul dan Mira

“Mm ya aku tahu, pasti arahnya ke mereka lagi.” Kata Ine dengan bersungut-sungut.

“Sudahlah kita nikmati dulu suasana pantai sebelum kita kerja” Ajakku.

 

Pantai 13th tak jauh berbeda dengan pantai-pantai lain di kota Melbourne , seperti St. Kilda Beaches dan Brighton. 13th Beach terletak di daerah pinggiran kota Melbourne  terkenal di Kota Melbourne meski cukup jauh dari pusat kota. Di pantai ini pengunjung dapat melakukan kegiatan olah raga surfing karena ombaknya yang tinggi.

            “Kak Adi mau surfing” Ine bertanya kepadaku

            “Ya kita lihat nanti. Aku takut dengan air dingin.” Aku menjawab.

            “Kalau takut air mengapa senangnya pergi ke pantai.”

“Ya sekedar melihat pantai dan menikmati pemandangan, ombak dan angin pantai.”

“Bagaimana kalau aku yang surfing?” Ine kembali bertanya

“Terserah kamu.”

            “Aku sering mendengar Kak Adi mengatakan kata itu.”

            “Ya mau berkata apa lagi kalau aku memang setuju dengan kamu.”

            “Ok jangan sewot. Aku suka mendengar kata itu.” Ingatanku mendadak kepada komentar Nurul yang selalu mengatakan suka jika aku mengucapkan kata-kata tersebut.

            “Melamun lagi?”

            “Nggak cuma terpesona padamu” Ine membiarkan tanganya kugandeng.

“Merayu terus. Itu pula ya yang membuat Nurul dan Mira suka padamu.”

Aku tidak menjawab komentar Ine karena Ine memang belum tahu sejauh mana aku pernah berhubungan dengan Nurul dan Mira.

            “Kamu cantik sekali” Kataku

Ine diam tanpa komentar. Tidak kuasa menahan gejolak kudekap Ine erat-erat dan entah siapa yang memulai kami saling berpelukan beberapa saat. Aku merasakan getaran cinta yang hilang mulai muncul lagi setelah lama  mulai surut. Peristiwa ini mengingatkan aku pada saat-saat keretakan hubunganku tiga tahun yang lalu dengan Nurul. Waktu itu Mira mulai mengisi hatiku secara pelan-pelan. Meski pada akhirnya aku tetap memutuskan kembali ke Melbourne untuk tetap setia menunggu Nurul. Kali ini ketika Nurul belum juga memberikan kepastian setelah lebih dari lima tahun hubungan kami. Aku merasakan dia semakin menjauhiku entah apa sebabnya. Perbedaan masih saja ada dan seolah-olah Nurul memang sengaja menciptakan perbedaan tersebut. Saat ini kesabaranku menunggu Nurul mulai menipis sementara Mira, yang sekarang tinggal di Sydney, sudah tidak memberikan harapan lagi padaku. Aku mulai menyadari Ine mulai mengisi hati dan hari-hari-ku selama masa-masa ketidakpastian ini kualami.

            Pelan-pelan Ine melepaskan pelukannya.

            “Maafkan aku. Kamu tidak marah kan?” Kataku

            “Lupakan saja.” Jawab Ine sambil menunduk.

            “Aku menyukaimu.” Kataku lebih lanjut.

“Kita lihat saja nanti. Aku kuatir Kak Adi hanya mencari pelarian setelah konflik dengan Nurul memuncak lagi dan Mira sudah tidak memberikan harapan lagi.”

“Jangan berkata seperti itu. Aku memang menyukaimu. Aku sudah memutuskan untuk tidak menunggu Nurul lagi. Tidak ada lagi yang diharapkan.” Belaku

“Ya tapi Nurul belum memberikan keputusan final kan?”

Aku terdiam beberapa saat. Apa yang dikatakan oleh Ine benar. Aku gegabah karena Nurul memang belum memberikan keputusan final.

            “Tapi kamu mau memaafkan aku kan?” Tanyaku sekali lagi

“Sudahlah Kak Adi tidak bersalah. Kita memang berada dalam suasana yang sama.”

            “Sama? Apanya yang sama?” Tanyaku dengan penasaran.

            Forget it. Kita bicara yang lain saja lah.” Ine mengelak memberikan jawaban.

            “Ok kalau kamu tidak mau berterus terang kepadaku. Aku lupakan saja.”

Aku tidak mau memaksa Ine memberikan penjelasan mengenai perkataannya tersebut, karena bisa-bisa dia tersinggung. Jika itu terjadi aku akan merasa rugi.

            By the way, kamu jadi nggak main surfing?” Tanyaku

“Ya jadi lah sudah sampai disini. Kapan lagi akan ada kesempatan sebagus ini.”

Saat Ine mulai bermain surfing keindahan tubuhnya yang dihiasi percik – percik air nampak bagaikan bidadari yang sedang mandi di kolam. Tinggi badannya, kelangsingannya, dan lemah gemulai gerakan tubuhnya membuat aku benar-benar terpesona terhadapnya. Jika dibandingkan dengan Nurul, kecantikan Ine tidak akan jauh berbeda. Yang membedakan antara Ine dan Nurul hanya ketinggian badannya. Ine lebih tinggi dibanding dengan Nurul. Lain halnya jika dibandingkan dengan Mira, Ine hampir sama tingginya dengan Mira. Perbedaannnya terletak pada warna kulit. Ine lebih putih dibandingkan dengan Mira. Sekalipun demikian ada kesamaan antara ketiga wanita ini, yaitu kecantikan yang memancar dari wajahnya serta kecerdasan tercermin dalam matanya. Ine berasal dari keluarga militer seperti aku. Ayahnya seorang tentara sedang ibunya tinggal di rumah. Keluarga yang sederhana sebagaimana keluarga Mira yang ayahnya seorang pegawai negeri sipil. Soal keluarga, Nurulah satu-satunya yang paling beruntung, orang tuanya pengusaha kaya raya, mereka memiliki beberapa pabrik dan toko.

 

Beberapa saat Ine selesai main surfing, kami berdua bersantai duduk-duduk di pinggiran  pantai sambil ngobrol.

            “Ine aku sudah cukup lama seperti ini.” Aku mengawali pembicaraan

            “Maksud Kak Adi?”

            “Aku terombang-ambing dalam kebimbangan yang tak menentu.”

            “Itu artinya Kak Adi masih tetap mencintai Nurul.”

            “Aku tidak tahu. Tetapi hatiku mulai merasa tenang saat-saat bersamamu.”

Ine tidak memberikan komentar apa-apa mendengar ucapanku. Aku kemudian melanjutkan lagi.

“Aku mau hubungan kita serius. Aku sudah lelah dengan penantian yang panjang.”

“Aku belum bisa memberikan jawaban sekarang.”

“Aku akan sabar menunggu. Tapi kumohon jangan terlalu lama.”

I’ll try not to disappoint you.”

Bayang-bayang menunggu menghantuiku lagi. Aku akan kembali seperti ketika menunggu Nurul lagi. Rasa ketakutan dan kekuatiran mulai menggerogotiku. Akankah Ine menjadi milikku mengganti Nurul yang semakin tersisih dan Mira yang sudah menempuh jalannya sendiri. Aku mulai kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri. Mampukah aku meyakinkan Ine bahwa aku akan memilihnya bukan sekedar pelarian seperti kata dia.

“Sudahlah jangan bersedih. Aku akan menemani Kak Adi terus selama aku di Melbourne.”

“Terima kasih. Kamu baik.”

“Jangan pikirkan dia lagi kalau itu membuat Kak Adi sedih. Aku heran mengapa Nurul setega itu memperlakukanmu.”

“Semua salahku. Selama ini aku selalu mengalah terhadap dia.”

“Kak Adi jangan terlalu menuduh diri sendiri. Menurutku kekerasan Nurul ikut andil. Yah mentang-mentang anak orang kaya dia memperlakukan orang lain seenaknya sendiri. Aku jadi penasaran pengin lihat orangnya. Ada fotonya Kak?”

“Tidak. Aku tidak mempunyai fotonya.”

“Aneh juga sudah pacaran bertahun-tahun foto saja tidak punya.” Komentar Ine.

“Ngomong-ngomong kamu tidak marah kan kalau aku bertanya padamu” Aku berkata sambil menatap Ine.

“Tidak, apa sih Kak?”

“Kamu masih sendiri kan?”

“Ya seperti apa yang kamu lihat sekarang. Aku kan sendiri.” Jawab Ine sambil tertawa.

“Ini serius. Aku tidak mau terluka lagi.”

“Aku juga serius. Selama ini kan aku sering bersamamu.”

“Ya sudah maafkan aku. Bukan maksudku melakukan interograsi padamu. Pengalaman-pengalaman masa lalu membuat aku semakin hati-hati dan teliti.”

“Kenapa sih Kak Adi tidak sama Mira saja. Mendengar ceritamu. Miralah yang benar-benar mencintaimu.”

“Tidak benar seluruhnya. Nurul sangat mencintaiku tetapi dia tidak mau mengekspresikan secara pasti. Aku tahu dan dapat merasakan.”

“Itu kan kamu masih saja membela Nurul. Itu salah satu tandanya Kak Adi masih mencintainya.”

“Bukan itu maksudku. Aku menjawab pertanyaanmu bukan mengekspresikan hatiku saat ini.”

“Tapi ekspresi wajahmu tidak dapat berbohong.”

Benarkah? Benarkah aku masih mencintai Nurul meski saat ini aku sudah banyak dikecewakan dan diterlantarkan selama ini? Kala aku memutuskan kembali ke Melbourne untuk bertemu dengan Nurul, aku dapat meninggalkan Mira dengan lega. Akankah aku mampu melepaskan belenggu cintaku pada Nurul seperti kata Ine. Ine seorang wanita yang sudah dewasa, dia mampu membaca perasaanku. Itulah sebabnya dia belum mau memberikan keputusan menerima cintaku.

            “Hari sudah mulai sore, bagaimana kalau kita kembali ke hotel?” Pintaku

“Ya kita kan kesini untuk kerja juga bukan hanya bersenang-senang.” Sambut Ine.

Kami kembali ke hotel untuk memulai pekerjaan yang sudah menanti kami berdua. Berada di ruang tamu kami mulai mengerjakan proyek IT dan deskripsi-deskripsi yang harus kami tulis dan buat programnya.


 

IX.             Mutiara, Mutiara dan Mutiara di Flinders Station

Pagi itu aku berencana pergi ke apartemen Nurul. Dari Port Melbourne aku menuju ke Flinders Station, tempat dimana sarana transportasi di Kota Melbourne berada. Flinders station yang terletak di Jalan Flinders merupakan tempat yang sangat terkenal disini dan dijadikan sebagai lokasi meeting point oleh para orang-orang yang tinggal di Melbourne. Lokasinya yang strategis dan menggunakan bangunan yang khas dengan kubah di atasnya membuat Flinders Station mudah dicari. Karena tergesa-gesa aku belum sempat sarapan di rumah, aku mampir ke salah satu restoran yang terdekat. Saking asyiknya makan aku tidak mempedulikan kanan kiri atau depan belakang meja dimana aku berada. Mendadak pundakku di tepuk dari belakang dan kudengar suara wanita menegurku.

“Mas lagi ngapain disini?” Aku kaget  sekali suara itu aku tidak pangling, suara Mira. Mengapa Mira di Melbourne.

“Mas Adi ini Mira.”

“Ya…. ya.. eh Mira kenapa kamu juga disini?” Jawabku dengan grogi.

“Aku ada keperluan ke Monash. Boleh aku duduk disini”

“Silahkan, silahkan Mira. Apa kabar? Mengapa sendirian saja?”

Good Mas I am good. I just want be alone.” Katanya sambil berusaha mengendalikan emosi.

What’s wrong? Kamu nampak seperti sedih”

Nothing. I am not sad just tired.” Balasnya

Aku tidak dapat dibohongi Mira karena aku pernah dekat dengannya. Mira menyembunyikan sesuatu. Tapi kali ini aku tidak punya hak untuk bertanya terus karena itu akan mengganggu privasinya. Belum selesai aku memikirkan hal itu. Dari samping kudengar suara yang sangat kukenal menyapaku.

                        “ Adi.” Sapa Nurul sambil mengambil tempat duduk disampingku.

                        “Nurul. Mm …aku ….. aku …..” Jawabku tergagap-gagap

I know. We will talk later on. Selesaikan dulu urusanmu dengan Mira.” Komentar Nurul kemudian memanggil pelayan memesan makanan.

“Mbak Nurul, maaf. Aku baru saja datang dan tidak ada janjian dengan Mas Adi.” Kata Mira mencoba menjelaskan

“Aku baru saja dari Bandara. Aku mau ke Monash kebetulan aku mampir kesini.”

For the second time?” Komentar Nurul dengan sinis. Maksudnya ini adalah yang kedua kali Nurul memergoki aku bersama dengan Mira. Yang pertama sekitar dua tahun yang lalu di Circular Quay Sydney kala aku mengantar Nurul menuju ke tempat pekerjaan yang baru di Sydney sebelum akhirnya Nurul kembali lagi pindah ke Melbourne.

“Benar. Aku mau ke rumahmu kebetulan aku belum sarapan dari rumah dan makan disini. Eh tahu-tahu Mira juga ada disini.”

This isn’t funny.” Jawab Nurul masih dengan nada sinis. Belum lagi aku selesai memberikan penjelasan dari arah depan masuk seorang wanita sedikit lebih muda dari Mira dan Nurul. Wanita itu berambut pendek mengenakan celana jean dan yang membuat jantungku terasa mau copot karena dia adalah Ine. Oh Tuhan mengapa bisa seperti ini.

“Kak Adi.” Sapa Ine sambil menatapku sejenak kemudian menatap Nurul dan Mira.

“Mereka siapa?” Lanjutnya sambil berdiri disamping kananku sementara Nurul yang duduk disebelah kiriku bertambah seram mukanya sedang Mira yang duduk didepanku mulai senyum-senyum untuk menutupi kegundahannya.

“Ine silahkan duduk. Ini Nurul sedang itu Mira.” Kataku tanpa berani memandang kedua wanita tersebut.

“Ah sudah kuduga. Yang cantik sekali berambut pendek Nurul dan yang rambutnya panjang dan yang tidak kalah cantiknya pasti Mira.” Komentar Ine sambil duduk disebelah kananku.

Aku jadi bengong tidak tahu apa yang mesti kulakukan. Kulihat Nurul tetap asyik dengan makan dan pura-pura tidak mendengar kata-kata Ine. Sesaat Mira beranjak dan menyalami Nurul kemudian menyalami Ine sambil berkata.

            “Mas aku pergi dulu ya? Aku akan ke Monash sekarang.” Katanya dengan lembut.

Aku menganggukan kepalanya. Kutatap sejenak Mira matanya mencerminkan kesayuan dan terasa sekali dia sedang menyembunyikan masalah.

            “Ok terima kasih untuk pertemuan ini.” Jawabku.

            “Mbak aku pergi dulu ya?” Sapa Mira pada Nurul

            Nurul hanya mengangguk.

            “Oya namanya siapa?” Sapanya pada Ine.

            “Ine.”

“Dik Ine aku duluan ya. Kapan-kapan kita ketemu lagi.” Kata Mira dengan nada dan irama persis seperti Ine.

“Ya Mbak Mira.” Jawab Ine. Langkah-langkah ringan Mira meninggalkan kami. Kulihat Ine menatap Mira kemudian menatapku dengan tajam dan tanpa kata.

Sesaat kemudian Nurul bangkit dari kursinya sambil berkata.

“Kutunggu di apartemen hari ini.” Selesai mengucapkan kata-kata itu, dia pergi tanpa melihat Ine.

“Sombong sekali dia” Komentar Ine. Kupegang tangan Ine sambil berkata.

“Sudahlah, dia memang begitu. Acuh dan dingin.”

“Memangnya paling kaya sendiri di dunia ini.” Tambah Ine.

“Kamu mau kemana. Mendadak berada disini?” Tanyaku pada Ine.

“Kak Adi mau kemana? Mengapa ada Mira dan Nurul bersama-sama disini. Kalian janjian?” Selidik Ine

“Tidak. Aku tidak sengaja ketemu Mira disini. Dia mau ke Monash seperti apa katanya tadi. Aku mau ke rumah Nurul untuk menyelesaikan persoalan kami sebagaimana janjiku padamu. Aku akan minta ketegasan hari ini juga.”

Kulihat muka Ine mengendur dari ketegangan yang sejak ketika dia melihat aku bersama –sama Mira dan Nurul. Kemudian sambungku.

“Aku kaget juga ketika mendadak Nurul juga berada disini. Jarang dia berada disini karena dia selalu naik mobil pribadi. Oya mengapa kamu kesini?”

“Nggak tahulah. Aku mendadak ingin pergi ketempat ini. Sudah beberapa kali aku mengunjungi tempat ini sekedar jalan-jalan.”

“Yah sudahlah semua sudah terjadi. Mau dikata apa lagi. Hanya saja yang aku heran mengapa Mira juga kesini dulu  sebelum ke Monash.”

“Kau nampak sedih Kak.”

“Aku sedih menyakiti Mira lagi.”

“Bukankah dia tahu hubunganmu dengan Nurul. Pasti karena ada aku ya?”

“Mmm sulit kujawab. Aku kasihan dengan Mira untunglah dia sudah bertunangan saat ini.”

“Kelihatannnya Mira masih mencitaimu juga Kak.”

I don’t know. Hanya dia yang tahu.”

“Kau takut sekali dengan Nurul kulihat tadi.” Komentar

“Tidak aku  tidak takut, tetapi aku tidak siap” Belaku

“Kak Adi harus tegas kalau tidak kakak tidak hanya kehilangan Mira tetapi juga akan kehilangan aku.” Ine berkata dengan nada sedikit mengancam. Kemudian sambungnya.

“Kak Adi aku bukan anak kecil lagi. Kita sudah sama-sama dewasa. Jangan mengambil kesempatan pada saat aku sedang seperti ini.”

“Apa maksudmu?”

“Kak Adi punya masalah dengan Nurul harus diselesaikan dulu. Kemudian baru ketemu aku lagi. Soal Mira aku sudah bisa menerimanya” Sambung Ine

“Ok aku akan selesaikan secepatnya. Apapun resikonya.”

“Nah itulah yang aku tunggu. Aku tidak bisa sebaik seperti Mira.” Inilah perbedaan antara Mira dan Ine. Mira nampak semakin matang dan penuh pengertian sementara Ine masih berapi-api dan tegas.

“Oya pikirkan juga kalau Nurul tidak mau putus dengan Kak Adi.” Tambahnya. Peringatan itu bagaikan petir di telingaku. Aku tidak memikirkan lagi bagaimana kalau  Nurul tidak mau putus denganku. Kepalaku mendadak pusing dan hatiku bergejolak. Perang batin terjadi lagi dalam diriku. Kalau dulu ada Nurul dan Mira maka sekarang ada Ine yang mulai menyusup-nyusup dihatiku. Yang lebih membuat pusing lagi ialah bagaimana kalau apa yang diucapkan Ine benar. Lantas apa yang akan kulakukan lagi? Menuju ke apartemen Nurul aku terus berpikir dengan keras untuk menemukan jawaban-jawaban masalah yang ada di hadapanku saat ini. Jika aku belum menemukan jawabannya sudah kuprediksi apa yang akan terjadi dalam waktu dekat ini. Hal-hal yang tidak enak kemungkinan akan terjadi lagi.

                       

 

 


 

X.                Keputusan Yang Menyakitkan

Aku sampai di apartemen Nurul siang itu. Kulihat mobil BMW mewah berwarna merah itu diparkir di halaman depan. Ketika kumasuki pintu depan apartemen tidak terkunci. Aku terus masuk. Sesaat hatiku berdetak keras dan rasa nyeri menyerang hatiku. Aku melihat Nurul menggunakan celana pendek dan kaos ketat sedang tiduran di sofa sambil menutupi mukanya dengan bantal. Aku kemudian duduk didepannya di sofa panjang dan empuk tersebut.

Mendadak Nurul bangun sambil menyapaku.

“Jadi selama ini kamu masih berhubungan dengan Mira. Mengapa kamu masih saja mengejar-ngejar aku?”

“Tadi sudah dijelaskan kan oleh Mira. Itu semua kebetulan.” Jawabku pelan.

“Kebetulan? Kalau kebetulan kenapa terjadi dua kali. Kamu ingat kan kejadian ketika kita sedang di Cirqular Quay? Kamu memang play boy. Itu juga si Ine ada disana. Kamu kok tega sih tidak hanya terhadapku tetapi juga Mira.”

Aku kaget mendengar komentar Nurul mengenai Ine. Kemudian dia melanjutkan lagi.

“Siapa Ine itu? Beberapa kali dia menelpon kesini mencari kamu.”

“Teman ketemu di restoran Southbank tempat kita sering makan disana dulu.”

“Adi selama ini kamu menuntut aku untuk tetap mencintaimu dan memberikan kepastian mengenai hubungan kita. Selama ini aku sangat menghargaimu dan mengharapkan banyak dari kamu. Aku ingin kamu sabar menungguku.”

“Bukankah itu sudah kulakukan. Aku sudah menunggumu lebih dari lima tahun.”

Five years? That’s  short time  to change your life.”

“Apa yang kamu inginkan dalam diriku. Bukankah semua sudah kuberikan kedapamu. Cintaku, masa depanku dan waktu menunggu selama ini.” Aku berkata sambil menatapnya. Wanita cantik ini benar-benar keras kepala dan mau menangnya sendiri.

“Kamu sudah berubah Adi. Mungkin karena Ine atau Mira?”

Aku terdiam sejenak sambil menundukkan kepalaku. Didepanku wanita yang kucintai secara tulus selama bertahun-tahun sedang melakukan interogasi padaku. Dihadapan Nurul aku jadi tidak mempunyai keberanian lagi mengatakan apa yang sebenarnya ingin kukatakan saat ini sesuai rencanaku mendatangi rumahnya. Bayang-bayang masa-masa indah bersamanya di Sydney dan Melbourne, masa-masa studi S1, S2 dan S3, kedekatan kami saat selalu bersama-sama di RMIT mendadak seperti film diputar dihadapanku. Tidak terasa aku kembali tergantung pada keputusan Nurul. Aku tidak akan mampu meninggalkan dia saat ini. Persis seperti kata Ine aku sebenarnya masih tetap mencintainya.

“Kenapa diam? Jawab Adi. Kamu harus jujur apa sebenarnya yang terjadi pada dirimu. Selama ini kamu selalu berusaha menyenangkanku, tetapi sekarang kamu sudah menyakitiku.”

“Apakah kamu juga tidak menyakitiku sudah berapa tahun aku menunggumu. Kamu selalu menunda-nunda pernikahan kita.”

“Rupanya kamu balas dendam. Kamu sudah tidak percaya padaku lagi.” Kata Nurul sambil

“Bukan itu maksudku. Aku tetap percaya dengan kamu. Kamu tetap setia dengan janjimu akan tetap komitmen dalam hubungannya denganku.”

“Lantas kenapa kamu membangun lagi hubungan dengan Mira? Bahkan kamu juga bercinta dengan Ine. Itukah balasanmu padaku?” Nurul berkata sambil berdiri menatapku tajam-tajam.

“Aku kurang apa kepadamu?” Kembali dia berkata

“Maafkan aku. Aku memang tidak sabar.”

“Semudah itukah kamu minta maaf. Ingat berapa kali aku sudah memaafkanmu. Bukankah aku hanya minta kamu sabar. Aku sudah memutuskan akan nikah denganmu tahun ini juga. Tapi perilakumu membuat aku membatalkan niatku.”

Mendengar perkataan Nurul itu aku menjadi lemas. Kenapa Nurul baru mengatakan sekarang seperti ini. Inilah yang kutunggu-tunggu setelah penantian panjang dan membuatku seperti orang kebingungan karena kehilangan identitasku sendiri..

            “Mengapa kamu tidak beritahu aku keputusanmu itu?” Aku berkata sambil menahan emosi.

“Kamu setelah pindah apartemen tidak pernah menengokku, bahkan menelponpun tidak. Bagaimana aku mau mengatakan kepadamu? Kamu tahu tidak mengapa aku pergi ke restoran dimana kita sering makan bersama kemarin?”

Aku menggelengkan kepala.

                        “Karena aku ingat kamu.” Jawab Nurul setengah berteriak.

                        “Maafkan aku. Aku lengah dan khilaf.”

“Bukan khilaf, kamu sengaja menggandeng Ine untuk membuatku cemburu. Dan yang membuatku heran, mengapa Mira mau juga kau permainkan.”

“Mira sudah bertunangan dengan orang sini. Aku tidak bohong. Saat ini dia sedang studi S2 di Sydney.”

“Itu kan. Kamu tahu segalanya tentang Mira. Tetapi kekasihmu disini tidak  kau perhatikan.”

Ah Nurul memang egois, pikirku. Jika aku berdekatan dengannya dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Aku hanya diperlakukan sebagai teman yang menunggu apartemennya. Sementara aku tidak mengunjungi hanya dalam waktu relatif singkat dia sudah marah-marah. Aku benar-benar dibuat kesal dan bingung dengan sikapnya. Nurul bukan anak kecil lagi, dia seorang doktor muda di bidang ekonomi. Pemikirannya brilian, otaknya encer, tetapi terlalu dimanjakan orang tuanya yang kaya sehingga dia menuntut semua orang memperhatikannya.

“Aku sedang mengerjakan proyek kecil di Sydney waktu itu. Mira minta ketemu sebentar untuk mengatakan rencana pertunangannya.”

“Kenapa dia harus minta ijin kamu?” Kata Nurul dengan sewot.

“Bukan minta ijin. Ia hanya memberi tahu.”

“Terus apa hubungan pertunangannnya  denganmu?”

“Ah kamu membuat kepalaku pusing. Dia kan menganggap aku temannya. Apa salahnya kalau dia beritahu aku barangkali aku bisa datang ke acara pertunangannya.” Jawabku.

“Mira memang mencintaimu. Aku tahu perasaannya.” Nurul berkomentar bak mengguman.

Aku tidak memberikan komentar apa-apa mendengar perkataannya. Kupandang dia sesaat. Hatiku terus resah dan gelisah.

                        “Kamu belum jawab pertanyaanku yang lain? Siapa Ine itu?”

                        “Sudah kujawab kan? Teman biasa. No more than that.” Jawabku

                        “Itu membuatmu lupa denganku.” Komentar Nurul dengan nada sinis.

Aku hanya diam saja mendengar perkataan Nurul yang antara benar dan salah. Dia benar karena aku terus berusaha mendekati Ine agar dapat melupakannya. Tetapi salah karena ternyata aku tidak dapat melakukan sepenuhnya. Ine bahkan Mira tidak mampu menyisihkan Nurul dalam hatiku. Entahlah kekuatan apa yang ada pada dia sehingga aku benar-benar tidak dapat melupakannya. Ruangan apartemen itu menjadi sepi sekali tanpa bunyi suara kami. Sesaat Nurul berbicara lagi.

“Aku tahu siasatmu. Kau sedang menjebak Ine sementara menunggu keputusanku. Itu kan yang ada dalam pikiranmu?”

“Jangan berkata sekasar itu. Aku sudah mengakui kesalahan dan kekhilafanku.”

“Sekarang aku mau putuskan kita akhiri disini saja hubungan kita. Kamu bebas mau ketemu siapa saja. Aku tidak mengahalangi kamu sama Ine atau kembali dengan Mira.”

Aku terhenyak sesaat mendengar perkataan Nurul. Tenyata aku belum siap menghadapi keputusan ini. Aku tidak dapat berkata apa-apa saat itu kecuali diam dan mencoba untuk tenang mengingat aku sudah merencanakan akan meminta keputusan kepadanya apapun resikonya. Tetapi ternyata keputusan Nurul membuatku shock juga. Setelah beberapa saat aku terdiam aku mencoba berkata sambil menahan gejolak kesedihanku.

            “Kamu sudah pikirkan masak-masak semua itu.”

Giliran Nurul yang terdiam tidak menjawab kata-kataku. Dia kemudian membalikkan wajahnya sambil menghapus airmata yang mulai menetes dipipinya. Jika melihat seperti itu aku teringat peristiwa ketika kami bertemu di RMIT setelah Nurul menghilang selama empat bulan karena marah denganku ketika dia tahu aku pernah bertemu dengan Mira di Brighton Beach Sydney. Kesedihan menyelimuti hatiku. Rasa-rasanya aku ingin memeluknya erat-erat dan mengatakan aku tidak mau berpisah dengannya. Namun jika aku ingat perubahan sikapnya saat ini membuat niat itu kuurungkan. Menunggu lagi itu akan membawa aku  kedalam suasana yang terus menggantung.

            Kau mau memaafkan aku kan” Kataku waktu itu

“Aku sudah memaafkanmu.” Katanya sambil mengusap tetes-tetes airmata

“Kamu juga memaafkan aku kan karena meninggalkanmu tanpa pesan.”

“Ya aku sudah melupakan.” Kataku sambil memeluknya

Mendadak aku tersadar dari lamunanku ketika suara isak tangis Nurul semakin terdengar. Aku mendekatinya dan memegang tangannya tanpa berkata apa-apa.

“Sudahlah kau boleh pergi. Tinggalkan aku sendiri.” Katanya sambil berdiri.

“Ok aku pulang dulu. Besok pagi aku kesini lagi.” Jawabku kemudian meninggalkan Nurul sendirian di apartemennya.

 

*****

Pagi itu kembali aku menuju ke apartmen Nurul di Southbank. Dalam perjalanan menuju ke apartemen hatiku terus gelisah dan aku tidak tahu apa sebabnya. Setelah semalam aku bergumul aku memutuskan untuk tetap bersama dengan Nurul meski aku harus menanggung malu dihadapan Ine. Sekalipun demikian aku ingat kata-kata Ine ketika dia mengomentari aku bahwa aku suka dengan dia karena Ine merupakan kombinasi antara Nurul dan Mira. Kesimpulan Ine ialah aku mencintai bayang-bayang Nurul dan Mira bukan Ine yang sebenarnya. Itulah sebenarnya sampai saat ini Ine masih enggan memberikan keputusan kepadaku. Ine masih menganggap aku sebatas teman biasa. Disamping itu Ine menginginkan aku benar-benar melupakan Nurul dan segera menyelesaikan masalah kami sebelum aku serius dengannya.

            Sampai di apartemen kulihat sepi. Mobil Nurul tidak ada di halaman depan. Pintu garasi masih tertutup rapat. Ah barangkali Nurul masih tidur pikirku. Aku langsung menuju ke pintu depan dan menekan bel. Bel berdering tetapi tidak ada tanda-tanda pintu terbuka dari dalam. Sekali lagi aku menekan bel, tetap saja Nurul tidak keluar. Sesaat aku kebingungan. Kucoba menelpon ke handphonenya tetapi ternyata tidak aktif. Akhirnya aku menelpon ke telepon rumahnya. Kutunggu beberapa saat, telepon terus berdering sampai akhirnya ada pesan yang berbunyi: “This is Nurul. Leave me message since I am not at home. I am leaving to Los Angeles  California for the time being.” Mendengar pesan yang terekam dalam mesin itu, aku gemetar serasa mau jatuh. Kepalaku mendadak berputar seperti mau pingsan. Kemudian aku duduk di kursi yang tersedia diberanda apartemen tersebut. Beberapa menit aku tidak dapat melakukan apa saja kecuali diam dan mencoba berpikir apa yang harus kulakukan. Mendadak aku tersadar dari kebingunganku. Aku berlari kepinggir jalan raya memanggil taksi.

Taxi, Tullamarine airport please.” Kataku sambil bergegas masuk kedalam taksi tersebut.

            Yes Sir.” Jawab supir taksi

            Quick, please go with maximum speed .”

            Supir taksi mengangguk kemudian melarikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Didalam taksi detak jantungku semakin cepat. Aku berharap bisa mengejar Nurul sampai di Bandara Internasional Tullamarine. Dua puluh lima menit serasa lama sekali akhirnya aku sampai di Bandara dengan bergegas aku keluar dari taksi setelah membayar supir tersebut. Kemudian aku berlari dengan cepat ke bagian international departure di Bandara tersebut. Kulihat dari luar pesawat Quantas masih ada di lokasinya. Itu artinya Nurul masih ada di Bandara dan belum berangkat. Tidak ada waktu lagi aku untuk bertanya di bagian informasi aku segera masuk ke ruang tunggu eksekutif. Kutengok kekanan dan kekiri kemudian aku ke baris depan dan kebelakang. Pada saat aku mencari-cari di ruangan tersebut, dari arah pintu masuk kulihat wanita seperti Nurul berjalan dengan cepat menuju ke ruangan dimana aku ada. Ternyata benar  dia Nurul. Dengan berteriak aku memanggil dia.

            “Nurul…………..”

Kulihat Nurul menengok kearahku. Sesaat dia berhenti aku kemudian berlari kearahnya.

            Please don’t leave me again.” Kataku sambil memegang kedua tangannya kuat-kuat. Dia hanya diam saja menatapku. Airmata itu mulai menetes. Dia melepaskan peganganaku kemudian mengusap matanya yang basah. Kemudian dia berjalan membalik dan bergegas menuju ke pintu boarding pass.

            Nurul, don’t go please………” Teriakku keras sekali sehingga orang-orang disekitar tempat tersebut menengok kearahku. Nurul terus berjalan tanpa mempedulikan teriakanku lagi. Sesaat setelah dia masuk ke area dekat pesawat berada dia menengok kearahku beberapa detik kemudian jalan lagi memasuki pintu pesawat yang terbuka. Aku berdiri terpaku di depan pintu boarding pass sambil menangis seperti anak kecil beberapa saat lamanya. Orang-orang lalu lalang disekitarku mulai memasuki pintu tersebut karena sesaat lagi pesawat akan berangkat sebagaimana diumumkan di pengeras suara bandara. Dengan lemas aku terduduk di kursi ruang tunggu eksekutif sambil terus menatap pesawat Qantas yang siap terbang menuju ke Los Angeles dalam waktu beberapa menit lagi. 

             

           

 

                       

 

 


 

XI.             Memupuk Harapan Setinggi Eureka Tower

Setelah aku ditinggalkan Nurul pergi ke Los Angeles aku lebih suka menyendiri dengan menyibukkan diriku dengan pekerjaan yang ada. Tawaran-tawaran pekerjaan terus mengalir, beberapa proyek terus kukerjakan. Aku terus bolak-balik Melbourne – Sydney. Sekali kali aku datang ke Apartemen Nurul untuk menengok siapa tahu dia sudah berada kembali di Melbourne. Hampir setiap minggu sekali aku menengok apartemennya dan menyuruh petugas untuk tetap menjaga dan tukang kebun untuk memelihara taman kesukaan Nurul. Apartemen mewah itu dibeli oleh orang tua Nurul beberapa tahun yang lalu dengan harga yang sangat mahal untuk ukuranku. Namun bagi keluarga Nurul itu hanya persoalan kecil. Bahkan aku sempat diberitahu Nurul beberapa saat kami masih berada di RMIT Melbourne. Ayahnya akan membeli satu apartemen lagi untuk anaknya yang lain di Los Angeles California. Entah itu sudah terlaksana belum karena aku tidak bertanya lagi padanya. Setiap kutengok penjaga apartemen itu selalu mengatakan kata-kata:

She hasn’t arrived yet.” Dan aku hanya mengangguk saja mendengar perkataan mereka. Mereka sudah tahu siapa diriku karena diwaktu-waktu lalu aku sering berkunjung disini.

Hari itu aku sengaja berlama-lama di apartemen Nurul, kubersihkan ruangan tamu kemudian aku memasuki kamarnya sambil menata kembali barang-barang yang berserakan. Rupanya malam sebelum berangkat ke Los Angeles dia tidak sempat menata lagi barang-barang tersebut. Kutemukan lagi kertas formulir pengajuan kewarganegaraan Nurul di Aussie dan alangkah kagetnya aku melihat dokumen itu sudah dalam keadaan sobek. Kuamati sesaat robekan itu bukan kebetulan tetapi memang sengaja dirobek oleh Nurul. Aku terhenyak sesaat berarti Nurul sudah membatalkan pengajuan tersebut dan kata-kata terakhir sehari sebelum meninggalkanku ke Los Angeles memang benar dan pasti bahwa dia sudah membuat keputusan akan menikah denganku tahun ini. Oh Tuhan alangkah berdosanya aku dan betapa bodohnya aku yang tidak sabar ini. Aku sudah membuat kekeliruan besar lagi dalam hidupku. Ternyata apa yang kupikir selama ini bahwa Nurul seolah-olah menjauhiku keliru. Nurul sedang dalam proses pergumulan untuk memutuskan mau menikah denganku bukan menjauhiku. Ini terbukti dengan dia menyobek formulir tersebut. Tetapi sayangnya Nurul tidak memberitahuku secepatnya. Ah atau barangkali memang aku yang salah dan keterlaluan serta berprasangka buruk terhadapnya. Mengetahui semua ini aku benar-benar menyesal dan sangat menyesal sekali. Kurebahkan tubuhku ditempat tidur kamar Nurul karena rasa sedih yang tiada tara. Entah berapa lama aku dalam kondisi tersebut  Aku terbangun ketika penjaga apartemen membunyikan bel apartemen.

            There is a fax for you.” Katanya

            From whom?

            Miss Nurul.”

Sesaat kepalaku seperti disiram air es yang sangat dingin. Setelah satu bulan aku menunggu harapanku tidak sia-sia. Akhirnya Nurul mengirimkan fax kepadaku melalui alamat apartemennya. Bunyi fax tersebut sebagai berikut:

            “Adi…………….I decided to go to Los Angeles in order not to

disturb you again. Forgive me that I cannot fulfil your request to keep staying in Melbourne. I really felt hurt with your deed…….

Aku berhenti membaca fax tersebut sambil merenung-renungkan kejadian akhir-akhir ini. Begitu cepat semua kejadian terjadi. Aku kenal dengan Ine, Mira kembali Muncul di Sydney dan saat ini aku ditinggal oleh Nurul untuk yang kedua kalinya. Semua karena ketidaksabaranku dan keragu-raguanku.

            ………Aku benar-benar sakit sekali dengan perilakumu. Selama ini

            dalam perjalanan cinta kita aku selalu setia kepadamu meski kadang

kita harus dipisahkan karena kesibukan kita masing-masing. Ternyata waktu  lima tahun ini tidak cukup bagimu mengerti dan memahami diriku.

Aku sengaja berada jauh darimu untuk memberi kesempatan padamu untuk memilih aku? atau Ine? atau Mira?. Jika kesempatan ini aku tidak kembali lagi ke Melbourne berarti kamu tinggal memilih Ine atau Mira. Belum terpikir olehku untuk kembali ke Melbourne dalam waktu dekat ini; oleh karena itu kau bebas melakukan apa saja maumu.

Salam.

Nurul……..”

Aku berhenti membaca fax dari Nurul tidak ada alamat sama sekali dalam fax tersebut. Karena tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi, maka aku kembali masuk ke kamar apartemen Nurul  kuhempaskan tubuhku dan kutatap foto Nurul yang berada di dinding depan mataku.

 

                                                **********

 

Ketika aku terbangun hari sudah menjelang pagi. Rupanya aku tertidur di apartemen Nurul. Bergegas aku mandi karena aku harus segera bekerja lagi untuk memberikan konsultasi di suatu perusahaan di CBD Melbourne. Mendadak hp ku berbunyi.

            “Kak Adi apa kabar?” Suara Ine menyapaku melalui teleponnya.

            “Hi Ine aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kamu?”

            “Baik. Kak Adi dimana sekarang?”

            “Aku ada di CBD sedang memberikan konsultasi.”

            “Kapan punya waktu. Sudah lama kita tidak berjumpa.” Kata Ine mengingatkan aku bahwa selama satu bulan lebih ini aku tidak pernah menghubungi dia lagi.

“Kapan saja kamu boleh ketemu. Bagaimana kalau usai pekerjaan hari ini. Kita ketemu di tempat biasa?”

“Ya ok, bagaimana dengan Nurul?”

“Nanti saja kita bicara ya. Aku harus bekerja lagi. Ok.”

Ya, thanks see you soon.”

 


Ada rasa bersalah dalam diriku dengan Ine setelah kejadian di 13th Beach beberapa saat yang lalu. Apa yang dikatakan oleh Nurul aku menjebak Ine karena kerengganganku dengan Nurul masih terngiang-ngiang ditelingaku. Tetapi jika aku menolak bertemu dengan Ine maka Ine akan lebih berprasangka buruk padaku.Kemungkinan aku akan diduga memanfaatkannya dalam kesempitan. Tidak ada alasan yang masuk akal kalau aku menghindari Ine. Hanya saja aku masih kesulitan untuk mencari jawaban bagaimana jika Ine terus bertanya hubunganku dengan Nurul karena aku memang belum mendapat kepastian dari Nurul sampai saat ini setelah kejadian dia pergi ke Los Angeles, California. Berita di fax itu hanya merupakan luapan emosi Nurul karena aku mengenal wataknya selama ini. Jika dia sedang marah maka selalu dia mengeluarkan kata-kata yang keras dan menginginkan berakhirnya hubungan kami. Sekalipun demikian kenyataannya dia tetap masih mencintaiku.

            Sepulang kerja aku menunggu Ine di restauran Southbank. Dihadapanku Eureka Tower berdiri menjulang ke langit tinggi. Seperti itulah harapanku saat ini untuk segera mendapat kepastian dari Nurul, tetapi aku sudah salah langkah karena ketidaksabaranku dan keragu-raguanku. Sementara kurasakan Ine memberiku harapan meski masih samar-samar. Disisi lain aku muncul dalam benakku pertanyaan mengapa mendadak Mira muncul di Melbourne sendiri. Mengapa dia tidak dengan kekasihnya? Dan mengapa dia mengunjungi tempat favoritku dengan Nurul selama ini? Apakah memang benar kebetulan ataukah Mira tahu kalau aku mengalami lagi konflik dengan Nurul. Jika kulihat ekspresi Mira waktu ketemu Ine kulihat terbersit rasa cemburu dalam matanya meski dia mencoba menutupi dengan keramahannya. Hari sudah menjelang malam lampu-lampu dari dalam gedung Eureka memancarkan cahaya yang menerangi gedung-gedung yang berada disekitar bawahnya. Tidak jauh dari lokasi itu aku duduk merenung-renungkan kembali mengenai diriku sendiri. Mengapa aku tidak dapat memilih mutiara-mutiara yang dekat denganku saat ini. Nurul yang sudah lama menjadi kekasihku tapi hatinya keras bagai batu, Mira yang penuh pengertian dan terus mengharapkan aku. Sementara sekarang ada Ine yang memberikan harapan padaku. Tidak mungkin aku mencintai ketiga-tiganya sekaligus karena pasti mereka juga tidak akan mau diperlakukan seperti itu. Ketiga wanita cantik ini mempunyai kelebihan masing-masing. Nurul tidak hanya cantik dia mempunyai kelebihan di pendidikan dan kekayaan; Mira yang anggun dan cantik mempunyai kepribadian yang elegan. Dia dapat memahami perasaanku dengan baik dan mampu meredam kecemburuan pada Nurul. Ine yang bagaikan kombinasi Nurul dan Mira mempunyai kelebihan di usia yang masih lebih muda dibandingkan dengan Nurul dan Mira. Disamping itu, Ine bersifat terbuka dan tegas. Suatu sikap yang tidak dipunyai oleh Nurul karena Nurul sampai saat ini belum membeberkan alasan apa yang membuat dia menunda-nunda pernikahan denganku. Tidak terasa satu jam aku menunggu Ine tetapi dia belum muncul juga. Akhirnya aku menelpon hpnya.

            “Ine bagaimana jadi nggak ketemu? Aku sudah menunggu disini.”

            “Ya jadi maaf aku mendadak harus ke kampus dulu. Sekarang aku kesana.”

            “Cepat nanti keburu malam.”

            “Ya.” Jawab Ine         


 

XII.          Harga Sebuah Janji

Waktu berjalan dengan cepat. Satu tahun penantianku sudah lewat lagi. Belum ada tanda-tanda Nurul akan kembali ke Melbourne. Hubunganku dengan Ine menjadi semakin dekat. Kini Ine sudah menjadi bagian dalam hidupku. Meski sampai saat ini Ine tidak pernah memberikan kepastian menerima aku atau tidak tetapi tindakannya menyatakan Ine juga menyukaiku.

            “Kak Adi tidak terasa ya kita sudah satu tahun bersama.”

            “Ah yang benar, rasanya baru kemarin kita ketemu.”

“Minggu depan aku ujian tesis. Ingat kita ketemu waktu itu aku sedang memasuki awal semester tiga.”

“Oya, wuah artinya kamu sebentar lagi akan selesai dan apa rencanamu setelah lulus ini.”

“Aku mau tinggal disini dan mencari pekerjaan disini. Jika tidak bisa ya terpaksa aku pulang ke Menado” Aku terkejut mendengar kata “pulang ke Menado.”

“Pulang ke Menado?” Aku mengulangi kata-katanya

“Ya kalau aku tidak dapat pekerjaan disini.”

“Terus bagaimana dengan hubungan kita?”

“Itu semua terserah Kak Adi. Kalau Kak Adi memang serius dan mau menerima persyaratanku dulu. Aku akan tetap disini menemani Kak Adi. Tetapi jika Kak Adi masih dibayang-bayangi Nurul terus, ya aku tidak mau.” Kata Ine berterus terang.

“Mengapa sih kamu selalu mempersoalkan Nurul. Dia sudah berada di Amerika.”

“Benar katamu, tetapi dia masih tinggal dihatimu sampai saat ini.”

Aku tercenung sejenak mendengar perkataan Ine. Apakah cintaku pada Ine selama ini hanya bayang-bayang Nurul? Jika benar, maka aku mengulangi lagi kesalahanku pada Mira dulu.

                        “Benar kan? Setiap aku menyebut Nurul kau tampak sedih.”

“Ya tetapi waktu akan mengubahku. Aku bisa mencintaimu dengan sungguh-sungguh.”

“Sampai kapan itu aku menunggu. Kak Adi selalu ragu-ragu dan bimbang. Susah mengambil keputusan. Itu terbukti ketika Kakak bertemu dengan Nurul sebelum dia meninggalkanmu ke Los Angeles.”

“Sudahlah aku menjadi bingung kalau kamu membicarakan itu lagi. Bagaimana kalau kita bicara yang lain saja”.

“Oya disini enak ya udaranya” Kataku sambil berdiri mengajak Ine jalan-jalan menyusuri area kampusnya.

“Ya banyak pohon  jadi udaranya selalu sejuk.”

“Ah aku jadi ingat kampusku dulu di Gadjah Mada.”

“Ingat Mira juga dong yang adik kelasmu itu” Sela Ine.

“Mirip juga ya dengan RMIT?”

“Jadi ingat Nurul lagi dong waktu kuliah bersama disana”

“Ah kamu terus saja menggodaku. Belum puas ya?”

“Eh ngomong-ngomong kamu kalau pulang ke Menado terus mau apa?” Tanyaku

“Ya bekerja kemudian nikah.”

“Dengan siapa?”

“Dengan siapa ya ….. dengan orang yang kucintai dong.”

“Siapa itu?”

“Ah sudahlah kita bicara yang lain saja.” Ine enggan meneruskan pembicaraannya lagi.

Perasaanku mengatakan Ine menyembunyikan sesuatu kepadaku. Aku mencoba terus bertanya.

                        “Kalau begitu ada orang lain selain aku dong.”

“Bukankah itu sama denganmu juga. Dihatimu kan ada Nurul, Mira dan aku. Benar kan?”

“Ah kamu memang pandai bicara. Sudahlah aku kalah.”

“Oya Kak temani aku ya nanti kalau wisuda.”

“Pasti, pasti aku temani kamu” Sesaat aku teringat kembali ketika aku menemani Mira Wisuda di Wolongong University ketika dia menyelesaikan S2nya. Waktu itu Mira hanya ditemani aku karena kedua orang tuanya yang tinggal di Yogya tidak dapat datang.

“Mengapa melamun?” Sela Ine

“Tidak. Aku cuma ingat waktu di wisuda dulu.” Jawabku sekenanya.

*****

Aku bertemu dengan kedua orang tua Ine menjelang acara wisuda dan Ine memperkenalkan aku pada ayah dan ibunya.

            “Ma ini Kak Adi yang sering aku bicarakan dengan Mama” Kata Ine waktu aku ketemu dengan mereka.

            “Saya Adi.”

            “Adi senang akhirnya kita dapat ketemu.” Jawab ibu Ine.

            “Senang saya ketemu Nak Adi.” Kata ayah Ine

Kulihat kedua orang tua Ine nampak bahagia sekali. Setelah mereka berkenalan denganku mereka bertiga sempat berbisik-bisik dengan menggunakan bahasa mereka yang aku tidak tahu.

            “Apa yang kamu bicarakan tadi?” Tanyaku penasaran kepada Ine

            “Mau tau aja. Rahasia dong.” Goda Ine

            “Bener kamu nggak mau menceritakan padaku.”

“Nggak penting. Orang tua kan yang dibicarakan selalu membanding-bandingkan.Biasa saja tidak usah dirisaukan.”

“Membandingkan apa?” Lanjutku dengan nada penasaran.

“Membandingkan Kakak dengan teman Ine di Menado.” Jawab Ine dengan enteng.

“Pacarmu dulu?” Tambahku

Ine tidak menjawab Cuma senyum-senyum saja. Aku jadi keki melihat sikap Ine. Apakah ini suatu kecemburuan?

“Cemburu ya?” Ine terus menggodaku.         
“Nggak …. Eh mungkin.” Jawabku sedikit grogi

“Makanya jadi orang harus tegas dalam memilih. Tidak plinplan. Nurul mau, Mira masih mau sekarang mau juga sama Ine.” Kata Ine dengan tertawa.

“Jangan begitu ah. Kamu belum tahu siapa aku sebenarnya. Aku tidak plinplan tapi hati-hati dalam menentukan pilihan. Sebab jika aku salah pilih. Jarum jam tidak dapat diputar balik lagi. Penyesalan selalu datang kemudian karena itu aku harus terus jati.hati.”

“Tapi hati-hati tidak berarti bimbang, ragu-ragu dan tidak bisa mengambil keputusan kan?”

“Kamu benar. Itu salah satu kelemahanku.”

            “Ya kalau sudah tahu kan harus diubah.” Tidak hanya Ine yang memberikan nasihat kepadaku seperti ini. Mira di masa-masa lalu terus saja menasihatiku bahkan beberapa saat kami bertemu di Sydney dia masih saja mengingatkan aku mengenai hal ini.

“Aku sedang menuju kearah itu. Meski sulit aku akan berusaha dan aku percaya suatu saat aku pasti bisa.”

“Ya harus bisa, sebab kalau tidak Kak Adi akan kehilangan orang-orang yang kamu cintai terus. Menunggu ada batasnya. Apalagi kami sebagai kaum wanita tidak dapat menunggu sebagaimana pria lakukan. Ada batas-batas umur yang membuat kami merasa harus mengambil keputusan dan menjalankan dengan jelas dan pasti.”

“Benar katamu. Itu yang terus menghantuiku sampai saat ini.”

“Jadi, kalau Kak Adi memang serius dengan aku. Lupakan Nurul dan juga Mira.” Kata Ine dengan tegas.

Kalau tidak salah ini kata-kata Ine yang kedua kali diucapkan kepadaku mengenai hal yang sama. Aku harus berubah. Ya aku harus berubah.

                        “Dan kamu juga akan melupakan temanmu di Menado kan?”

                        “Itu tergantung sikap Kak Adi mau berubah atau tidak.”

Berubah itu kata yang terus terngiang dalam telingaku. Alangkah sulitnya kata-kata yang satu ini untuk dilaksanakan.


 

XIII.       Kenangan di Pantai Bunaken

Ine menjanjikan  masa depan hubungan yang semakin jelas. Dari hari ke hari aku semakin mengenal kepribadiannya. Secara umum Ine tak jauh dari Nurul mengenai prinsip-prinsip mana yang harus ditaati, mana yang boleh ditoleransi dan mana yang tidak. Meski di luar kelihatan lemah lembut seperti Mira tetapi kepribadiannya tegas dan terus terang seperti Nurul.

            “Kita akan menuju ke masa depan yang jelas.” Kataku di Bunaken setelah mengantar Ine  pulang ke Menado.

            “Maksudmu?” Sela Ine

            “Hubungan kita perlu segera dipikirkan bagaimana kelanjutannya.”

“Sudah kukatakan sebelumnya aku memerlukan ketegasan Kak Adi mengenai hubungan Kak Adi dengan Nurul. Kalau itu jelas, maka semua pasti akan menjadi jelas.”

“Ok kamu akan segera memperolehnya.” Jawabku dengan tegas

“Ya itu aku senang jika Kak Adi sudah bisa tegas.”

“Aku kan belajar dari kamu.”

“Kenapa tidak belajar dari ayahmu. Ayahmu kan seorang militer.”

“Aku lebih dekat dengan ibuku di masa-masa lalu. Aku jarang ketemu dengan ayahku yang sibuk.”

“Pantas sifat ibumu lebih dominan pada dirimu.”

“Kalau kamu kelihatan banyak dipengaruhi oleh ayahmu ya?” Tanyaku

“Mungkin, tapi sifat-sifat ibu juga ada padaku kok.” Jawab Ine.

“Apa misalnya?”

“Aku suka dengan hal-hal yang indah. Disamping aku belajar ekonomi, aku suka menyanyi.”

“Kalau begitu kapan-kapan aku ingin mendengar kamu menyanyi.”

“Nggak ah malu.” Jawab Ine dengan manja.

Deru ombak pantai Bunaken terus bergemuruh bak paduan suara alunan musik yang dimainkan dengan tiada henti. Menyusuri jalan saja disini tidak cukup, untuk menikmati keindahan pantai, pengunjung harus juga melakukan diving.

           

 

            “Kamu mau diving?” Aku bertanya pada Ine

“Ya iya disini kan yang indah pemandangan di bawah laut bukan dipantai.”

“Ya sudah kamu saja. Aku nunggu disini ya?” Jawabku

“Seperti biasa  takut sama air ha.. ha…..” Kata Ine sambil tertawa.

Bayangan Nurul mendadak berkelebat ketika aku mendengar suara Ine tertawa. Aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk menekan gejolak emosi agar bayangan Nurul tidak muncul lagi. Aku harus bisa melupakan dia secara pelan-pelan. Kalau tidak maka aku sendiri yang akan terus dihantui rasa bersalah.

            Ada apa kok kelihatan pucat mukamu?” Komentar Ine melihat reaksiku.

            “Tidak ada apa-apa. Barangkali aku hanya kecapaian saja.”

            “Kalau capai istirahat saja. Aku diving sebentar ya?”

            Aku menganggukkan  kemudian kataku.

            “Nanti cerita ya apa yang kamu lihat di bawah sana.”

            “Nggak, nggak mau.Lihat sendiri saja.”

            “Ah dasar anak nakal.”

            “Tapi kamu suka kan?” Balas Ine

Aku tidak menjawab hanya tersenyum saja mendengar ejekan Ine. Nanti kamu akan kubalas, pikirku. Menunggu Ine diving mengingatkan saat-saat aku suka mengantar Nurul renang di Bandung dan di Melbourne. Saat-saat seperti ini merupakan saat-saat yang menyakitkan. Aku masih rapuh. Hatiku terasa sakit mengingat kejadian-kejadian yang terus saja masih membekas dalam memori ingatan. Meski aku sudah menemukan Ine saat ini ternyata luka-luka itu terlalu dalam sehingga memerlukan waktu yang lama untuk sembuh.  Akankah Ine menjadi obat penyembuhku?

“Hi aku sudah selesai” Sekitar 20 menit Ine muncul masih dengan pakaian divingnya.

“Sudah cepat ganti pakaian nanti kamu kedinginan.. Bisa-bisa sakit kamu nanti.”

“Sabar. “Katanya sambil menggandeng tanganku.

“Ah dingin sekali tanganmu.” Kataku

“Sengaja biar kamu rasakan dinginya di bawah sana.” Katanya sambil menunjuk ke pantai dimana dia tadi melakukan diving. “

“Kamu memang nakal sekali.Tadi saja belum sempat kubalas, eh sekarang nggangguin lagi.”

“Ya balas saja kalau mau.” Katanya kemudian mendekapku dengan erat-erat.

“Ah basah nih bajuku. Gimana sih.” Ine tidak melepaskan pelukannya malahan semakin mempererat dekapannya kepadaku. Tanpa kusadari aku juga mulai mendekap Ine dengan erat-erat. Beberapa saat lamanya kami saling berpelukan dan diam. Mata kamu beradu. Melalui tatapan mata Ine kulihat percik-percik cinta mulai memancar. Kurasakan sekali getaran-getaran melalui pelukannya.  Tangannya yang dingin berubah menjadi hangat. Aku tidak peduli lagi dengan kondisi yang basah tersebut. Kubelai rambut Ine yang pendek dan kucium keningnya sambil berkata.

I love you dear

Ine hanya menatap kearahku dan tatapan mata itu menembus sampai ke relung hatiku yang paling dalam.

“Aku mau kamu mencintai diriku dengan penuh tanpa dibayang-bayangi masa lalumu.” Sesaat Ine baru menjawab dengan nada pelan.

Yes, I will.” Jawabku dengan berbisik.

Promise.” Lanjutnya

As you wish.”

I am very happy to hear that.” Kata Ine sambil mempererat pelukannya kepadaku.

 

 

********

 

            “Kak Adi jangan lupa sering telepon kesini ya.” Pinta Ine ketika mengantar ku pulang ke bandara menuju ke Jakarta dari Menado.

            “Pasti. Pasti aku akan sering telepon kamu.”

            “Oya kapan kepastian kamu kembali Melbourne.”

“Besok malam aku langsung ke Melbourne karena pekerjaan sudah menanti disana.”

“Ingat pesanku ya. Carikan aku pekerjaan supaya aku bisa kembali kesana secepatnya.” Kata Ine

“Ya aku begitu sampai di Melbourne aku akan carikan kamu kerjaan. Sebab aku juga tidak ingin berlama-lama menunggumu.”

“Iya kalau lama-lama menungguku kamu bisa-bisa kembali kepada Mira atau Nurul.” Katanya dengan nada cemburu.

“Tidak. Kelihatannya kamu sudah terakhir bagiku.”

I hope so.

“Ngomong-ngomong bagaimana dengan ayah dan ibumu?”

“Mereka menyerahkan semua kepadaku. Kan yang mau mengalami aku. Jadi mereka tidak akan memaksakan kehendak mereka. Semua terserah pada pilihanku.”

“Semoga pilihan itu jatuh padaku.”

Most probable.”

                        Ok I am leaving now.” Kataku kemudian kucium kedua pipinya.

            See you soon.” Jawabnya sambil menghapus beberapa tetesan air mata yang mulai keluar dari kedua matanya yang indah.

            Bye, we will meet again in Aussie.” Kataku dengan mantap           
 

XIV.       Ketemu Kekasih Lama

Ine ternyata menunda untuk kembali ke Aussie dengan alasan yang aku tidak tahu. Ia sudah berjanji  padaku begitu sudah beres urusannya mengantar kembali kedua orang tuanya ke Menado yang hadir saat  dia diwisuda. Kemarin malam dia menelponku secara singkat.

            “Kak Adi aku belum jadi kembali ke Melbourne.”

            “Mengapa kamu menunda kembali kesini?” Kataku dengan penasaran

            Ada sesuatu yang ingin kuselesaikan dahulu?”

            “Apa itu?” Desakku

            “Masalah lama antara aku dengan Steven.”

            “Siapa Steven itu? Pacarmu dulu?” Kataku dengan nada cemburu.

“Ya kamu benar. Kemarin dia datang ke rumah bersama dengan kedua orang tuanya.”

“Untuk apa?”

“Mereka melamarku.”

“Apa? Melamarmu?”

“Ya” Jawab Ine

“Bagaimana jawabanmu?”

“Aku belum menjawabnya karena mereka langsung ketemu dengan orang tuanku. Sudah dulu ya Kak nanti aku telpon kamu lagi.”

“Ine…. sebentar.”Kataku dengan berteriak. Tetapi Ine sudah mematikan teleponnya.

Kejadian itu membuatku menjadi gelisah. Aku gelisah karena takut akan kehilangan Ine  seperti aku sudah kehilangan Mira dan Nurul. Akankah aku mengalami hal yang sama lagi. Tidak. Tidak boleh. Apapun resikonya Ine tidak boleh meninggalkan aku. Aku akan terus mengejarnya meski aku harus berkorban.

Paginya aku yang menelpon Ine pada saat itu Ine sedang berada di luar rumah.

“Ine kamu tetap akan kembali ke Melbourne kan? Bagaimana kalau aku menjemputmu?”

“Jangan Kak. Tunggu saja aku pasti kembali.”

“Tapi kapan?”

Tidak ada suara Ine yang kudengar begitu gaduh suasana disana.

“Kamu sedang dimana?”

“Nanti. Aku telepon balik ya Kak.. Sekarang bising sekali disini.”

Kudengar suara laki-laki memanggil nama Ine. Apakah itu suara Steven?

“Ok kutunggu.” Jawabku kemudian mematikan handphoneku.

Menunggu merupakan hal yang mulai kubenci. Pengalaman aku menunggu Nurul lebih dari lima tahun belum membuahkan hasil. Saat ini aku harus menunggu meski hanya beberapa jam. Aku kehilangan kesabaranku. Jika aku punya pesawat sendiri, maka aku akan segera terbang langsung menuju ke rumah Ine.

           

Kuhempaskan tubuhku disofa apartemenku. Sambil menunggu telepon Ine aku membaca-baca majalah teknologi informasi kesukaanku. Lembar demi lembar kubuka aku tidak dapat mencerna isi majalah tersebut. Kuteruskan membuka buka halaman demi halaman tapi yang muncul didepanku bayangan Ine, kemudian berganti Nurul kemudian berganti lagi Mira….. begitu setersunya. Satu jam berlalu telepon Ine tidak kunjung datang. Dua jam, tiga jam sampai akhirnya aku beranjak dari sofa dimana aku  tiduran. Dengan hati yang gelisah aku kembali menelpon Ine ke handphonenya. Ternyata handphone Ine tidak aktif. Kuputuskan untuk menelpon ke rumahnya. Lama telepon berdring tetapi tidak ada yang mengangkatnya. Kucoba lagi dan kuulangi beberapa kali tetap saja tidak ada yang mengangkatnya. Akhirnya aku kembali menghempaskan tubuhku ke sofa lagi.

 

****

 

Semalaman aku tertidur di sofa. Ketika aku terbangun badanku terasa sakit dan tidak enak. Sesaat terpikir untuk menelpon kembali Ine. Sebelum niatku kulaksanakan. Bunyi dering telepon apartemenku kudengar. Dengan cepat aku angkat telepon tersebut.

            “Kak Adi aku minta maaf baru bisa menelponmu sekarang.”

            “Semalam kamu dimana. Suasananya kudengar gaduh sekali.”

            “Itu pesta dirumah Steven.”

            “Ah pesta apa?” Tanyaku dengan kaget.

“Jangan berpikir yang bukan-bukan. Itu adat kami hanya pesta biasa karena ketemu teman lama.”

“Maksudmu keluarga Steven berpesta karena kamu pulang dari Aussie.”

“Ya begitulah kira-kira.”

“Apa  mau mereka?” Tanyaku kembali pada Ine

“Tidak ada apa-apa.”

“Benar Ne” Desakku pada Ine

“Benar tidak ada apa-apa. Kak Adi tak usah kuatir.”

“Aku sangat mengkuatirkan kamu”

Nothing to worry. Trust me.” Tegas Ine.

 

Janji Ine menghilangkan kekuatiranku saat itu. Aku mempercayai kata-katanya karena aku sudah semakin mengenal Ine dengan sifat-sifatnya yang tidak jauh berbeda dengan Nurul hanya saja Ine selalu bicara dengan kepastian dan dia tidak suka berbelit-belit.

                        Ok I trust you.

           

Hari berjalan dengan cepat. Tidak terasa sudah lebih dari tiga bulan Ine belum juga memberikan keputusan untuk datang kembali ke Melbourne seperti dia pernah berjanji kepadaku. Keragu-raguan mulai muncul dalam hatiku. Apakah Ine mengalami kesulitan? Apakah dia sedang memperoleh tekanan dari kedua orang tuanya? Ataukah Ine mulai mengubah pikirannya? Apakah Ine lebih memilih Steven daripada aku? Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul dalam benakku.. Apakah ini hanya kekuatiranku saja? Aku mulai memutar otakku bagaimana aku bisa kembali bersama dengan Ine.

 

Dengan tanpa memberitahu Ine terlebih dahulu kuputuskan untuk pergi ke Menado mengunjungi Ine. Sesampai di kota tersebut aku langsung menelponnya.

            “Ine aku mau ketemu kamu sekarang.”

“Sekarang? Kak Adi dimana memangnya saat ini?” Balas Ine dengan heran.

“Aku sudah di bandara di kotamu.” Jawabku melalui handphoneku

“Kenapa Kak Adi tidak beritahu aku kalau mau kesini.” Kata Ine dengan sedikit terkejut.

“Aku mau bikin kejutan.”

“Dan sudah berhasil kamu membuat jantungku mau copot.”

“Lho kenapa malahan tidak senang.”

“Eh iya ya.” Jawab Ine dengan tergagap

“Memangnya ada apa? Kamu tidak apa-apa kan?”

“Nggak apa-apa. Aku tunggu dirumah.”

Taksi membawaku menuju ke rumah Ine dengan tersendat-sendat karena kepadatan kota. Dalam waktu sekitar 20 menit aku sampai ke rumah Ine.

            Welcome” Sambutan Ine ketika aku memasuki rumahnya. Didepanku berdiri Ine dengan menggunakan celana pendek dan kaos sleeveless. Begitu cantiknya saat itu sehingga aku seperti patung membatu.

            “Kenapa tidak duduk? Kok malahan diam seperti itu?” Kata Ine

            You look more beautiful now dear.” Komentarku sambil memeluknya.

            “Ah malu nanti ada mami.”  Kata Ine sambil menarik tanganku untuk duduk di kursi tamu.

            “Kenapa lama sekali aku menunggumu?”

            “Sudah kita bicara nanti. Sekarang istirahat dulu.”

            “Oya dimana mami dan papimu?”

            “Sedang keluar nanti sebentar juga pulang.”

            I miss you very much.

            Me too.” Jawab Ine pendek.

            “Oya ini aku bawa oleh-oleh untukmu.”

            “Wuah kalung dan cincin yang bagus. Pasti mahal kan?”

“Nggak murah kok, tapi kalau dihitung dengan nilai uang disini ya jadi mahal.”

“Kak Adi thanks ya.”

Don’t mention it.”

Belum lama kami berbincang-bincang. Kudengar suara deru mesin mobil memasuki halaman rumah Ine. Kulihat wajah Ine berubah memerah. Bergegas dia berdiri.

            “Siapa?”

            “Steven.” Jawab Ine dengan grogi.

Aku merasa heran mengapa Ine nampak seperti ketakutan melihat Steven datang.

Ketika memasuki rumah Ine, pria sebaya Ine itu langsung masuk tanpa basi-basi kemudian menyapa Ine.

            “Hi Ine. Eh ada tamu rupanya.” Katanya sambil memandangku.

            “Mm ini Kak Adi dari Melbourne.” Kata Ine memperkenalkan aku

            “Adi.” Kataku

            “Steven” Katanya sambil menyalami aku.

Suasana menjadi kikuk ketika mendadak Steven berada di rumah Ine. Aku lebih banyak diam untuk menunggu reaksi Ine. Kulihat Ine seperti kebingungan kadang melihatku kadang melihat Steven.

            “Aku minta minum.” Celetuk Steven.

            “Oya sebentar kuambilin.” Jawab Ine lalu kemudian beranjak berdiri.

            “Oya Adi berapa lama tinggal di Aussie?” Tanyanya padaku.

“Lima tahun berjalan. Tapi diantara waktu itu kadang aku berada di Indonesia”

“Warga negara disana?”

No, aku hanya sementara disana. Aku kuliah disana dulu.”

“Oya hebat pantas Ine begitu mengagumimu.” Kata Steven dengan nada datar.

Aku tidak menjawab komentar Steven. Sebagai orang timur aku tahu apa maksud kata-katanya. Dia menyindirku secara tidak langsung.

“Belajar apa disana?” Lanjut Steven

“Aku belajar riset dan komputer.”

“Rupanya kamu ahli komputer.”

“Bukan ahli aku hanya bisa saja.”

“Ah kamu merendahkan diri.” Komentar Steven. Sesaat Ine keluar sambil membawa minum untuknya.

“Kak Adi diminum.” Sela Ine

“Ya terima kasih. Aku ke hotel dulu ya”

“Eh…ehh gimana sih baru datang kok pergi lagi”

“Nanti mengganggumu.” Kataku pendek. Kulihat wajah Ine memerah.

“Ine jam berapa kita berangkat.” Sela Steven.

“Sebentar. Yuk kuantar kedepan Kak.” Ajak Ine kepadaku

Sampai didepan Ine berbisik kepadaku.

“Nanti aku telepon Kak Adi. Dimana Kak Adi menginap aku kesana nanti.” Tanya Ine.

 

 

*****

 

Malam itu Ine benar-benar datang ke hotel dimana aku menginap dengan muka yang nampak kebingungan. Dihadapanku dia seperti nampak sedih dan bingung. Ketika bertemu aku langsung di meminta maaf kepadaku, katanya

            “Kak Adi maafin Ine ya. Itu tidak sengaja.”

Aku tidak menjawab perkataannya melainkan berkomentar.

            “Kamu nampak serasi dengan Steven.”

Ine menatapku dengan tajam sambil menjawab.

            “Kau mau memaafkan aku kan?”

“Kau tidak bersalah. Akulah yang bersalah karena aku datang dihatimu belakangan sesudah dia.”

“Jangan berkata begitu. Aku jadi nggak enak.”

“Aku justru yang meminta maaf padamu karena selama ini aku mengganggumu.”

“Kak Adi tidak menggangguku. Akulah yang memberi kesempatan padamu. Kalau aku tidak lakukan itu maka kamu tidak akan melangkah lebih jauh.”

“Terus aku harus bersikap bagaimana sekarang? Besok pagi aku akan pergi ke Yogyakarta kemudian ke Jakarta dan malamnya aku akan kembali ke Melbourne.” Kataku dengan tidak melihat mata Ine yang mulai mengeluarkan airmata.”

“Jangan tergesa-gesa pergi Kak beri kesempatan aku menjelaskan semua besok pagi.”

“Kenapa tidak sekarang saja disini.”

“Tidak aku tidak mau. Kuharap Kak Adi besok kerumahku lagi. Aku akan bicara banyak. Mau kan?”

Aku hanya mengangguk kemudian kataku.

“Sebenarnya tidak ada yang perlu dikatakan lagi darimu. Aku cukup mengerti dan aku akan mengalah jika kamu memilih dia.”

“Jangan berkata seperti itu. Aku tidak mau mendengar Kak Adi berkata seperti itu lagi padaku.” Desak Ine sambil menahan keluarnya airmata dari matanya.

“Mungkin aku salah lagi.” Kataku setengah berbisik seperti berkata pada diriku sendiri.

“Tidak,  kau tidak salah. Aku mencintaimu juga.”

Baru sekarang kata-kata itu kudengar dari bibir Ine yang mungil. Tidak kuasa aku menahan rasa kangen. Ine kupeluk erat-erat sambil berkata.

“Aku tidak mau kehilangan kamu.”

Ine menyandarkan kepalanya kepundakku sambil menangis.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu. Aku bicara dengan tulus kalau kau memang memilih Steven aku akan mengalah.” Kataku sekali lagi.

Ine hanya diam dan tidak menjawab. Tangisannya bertambah keras.

“Sudahlah. Aku akan memberi kesempatan kamu lagi untuk memikirkan dan akhirnya menjatuhkan pilihanmu antara aku atau dia. Sebagaimana aku sudah memilih kamu dan melupakan Nurul.”

“Aku akan mencoba memberikan yang terbaik bagi Kak Adi.” Jawab Ine disela-sela tangisannya.

 

Hari berikutnya aku mampir ke rumah Ine untuk berpamitan karena aku akan segera pergi ke Yogyakarta menengok keluargaku kemudian perjalanan akan kulanjutkan ke Jakarta lalu malamnya aku harus kembali ke Melbourne.

“Kita pasti akan ketemu lagi kan?” Aku bertanya pada Ine

“Ya aku akan kembali ke Melbourne dan menemuimu.” Demikian janji Ine kepadaku.

 

 

 

 


 

 

XV.          Mutiara Hilang di Los Angeles

Saat kembali ke Melbourne aku terus membayangkan Ine yang kutinggalkan. Akankah Ine menepati janjinya untuk kembali ke Melbourne? Bagaimana kalau dia ingkar janji karena lebih memilih Steven daripada aku? Haruskah aku kehilangan seseorang yang kucintai lagi? Kucoba untuk melawan pikiran-pikiran negatif ini. Selama penantian ini aku terus menyibukkan diri dengan pekerjaanku sebagai konsultan bidang teknologi informasi di berbagai perusahaan di Melbourne dan Sydney. Sehingga waktu kuhabiskan untuk bolak balik di kedua kota tersebut. Tanpa terasa waktu berjalan lebih dari enam bulan, sekalipun demikian Ine belum juga  kembali ke Melbourne. Meski terasa pahit dan sakit aku mencoba melupakan Ine. Kali ini aku sudah kehilangan mutiara-mutiara yang  berharga di hidupku. Nurul sudah meninggalkan aku ke Los Angeles, Mira sudah bertunangan dengan temannya di Sydney dan Ine lebih memilih Steven di Menado. Pada saat-saat kebingunan seperti ini kembali bayang – bayang Nurul muncul dalam hatiku. Hari itu aku sempatkan pergi ke apartemen Nurul yang tetap didiamkan kosong selama ini. Memasuki kamarnya yang mewah membuat hatiku seperti ditusuk-tusuk karena bayangan Nurul terus muncul dan seolah-olah menuduhku sebagai penghianat. Ketika aku menatap fotonya yang berada di atas meja mendadak aku tergerak untuk membuka loker meja tersebut. Kutemukan buku harian Nurul yang tertinggal di loker itu. Kubaca satu persatu catatan-catatan harian yang ia tulis dibuku itu. Ada satu bagian yang menarik dalam tulisan itu. Bunyinya.

“Aku sudah mulai tidak nyaman hidup sendiri seperti ini. Aku merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupku. Tetapi kadang aku merasa ragu-ragu apakah aku akan hidup bahagia jika aku nikah dengan Adi orang yang kucintai. Apakah aku akan masih bisa bebas sesukaku jika aku sudah resmi menjadi seorang istri? Mengapa aku merasa selalu tidak siap dihadapkan dengan kata “nikah”? Apa sebenarnya yang terjadi pada diriku. Aku kadang merasa tidak mengenal dengan diriku sendiri. Ah aku juga semakin kasihan melihat Adi yang terus kebingungan karena sikapku selama ini. Bertahun-tahun dia menungguku. Aku dapat merasakan kebingungan dan penderitaannya. Adi maafkan aku. Aku terus saja membuatmu menunggumu tanpa ada kepastian. Aku sebenarnya sangat mencintai Adi dan sampai saat ini tidak ada orang lain yang mengisi hatiku. Sebab aku merasa hanya dialah satu-satunya orang yang teramat sabar untuk menungguku dan hanya dia orang yang benar-benar dapat memahami siapa diriku sebenarnya. Entah kapan aku dapat menentukan untuk berhenti dalam perjalanan yang melelahkan ini.”

 

Aku tertegun sejenak setelah membaca tulisan itu. Aku yakin memang seperti itulah besarnya cinta Nurul padaku. Meski saat-saat tertentu dia seperti berubah dan seolah-olah enggan meneruskan hubungan cinta kami. Dan saat – saat tertentu akulah yang berubah dengan melakukan hal-hal yang melenceng dari impianku. Seperti yang kualami kali ini. Aku terpeleset lagi saat aku bertemu dengan Ine. Seperti kata Ine aku sebenarnya masih mencintai Nurul. Mira dan Ine adalah bayang-bayang Nurul yang coba kuhadirkan dalam hidupku. Akibatnya aku tidak dapat mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh karena aku terus mencoba menghadirkan Nurul pada wanita-wanita yang kutemui. Impian ini terus kukejar. Impian inilah yang membuat aku masih tetap tegar dalam menghadapi tantangan-tantangan dalam hidup ini. Aku meneruskan membuka-buka buku harian Nurul lagi. Bagian-bagian terakhir secara jelas semakin membuat aku merasa berdosa karena ternyata apa yang kupandang selama ini ketika saat-saat seolah-olah Nurul enggan lagi berhubungan denganku adalah saat-saat kritis dalam kehidupannya dimana dia sedang dalam pergumulan untuk mengalahkan egonya yang selama ini menjadi kendala dalam hubungan kami.

“Aku tahu Adi sangat mencintaiku juga. Meski aku tahu juga dia kadang marah denganku kemudian mencoba mencari penggantiku. Tetapi aku tetap yakin bahwa dia akan kembali padaku lagi karena aku percaya dengan impianku untuk suatu saat aku bisa berkumpul denganya sebagaimana cita-cita kami semula. Memang aku kadang merasa cemburu dan sakit hati kalau Adi berdekatan dengan wanita lain. Bagaimanapun juga aku adalah seorang wanita yang mempunyai perasaan. Aku pernah membenci Mira karena Mira dekat dengan Adi saat itu. Tapi aku sadar bahwa Mira tidak akan pernah bisa merebut Adi dariku jika aku tetap menunjukkan cintaku pada Adi. Aku percaya dengan kekuatan cinta kami yang tidak akan tergoyahkan dengan badai-badai kecil yang  kadang menerpaku.

 

Aku tidak berani melanjutkan membaca bagian ini karena aku merasa malu dengan Nurul dan dengan diriku sendiri. Hanya karena salah sangka aku menghianati Nurul dengan mendekati Mira saat itu yang ternyata Mira juga memberikan harapan padaku. Kubuka halaman – halaman akhir berikutnya. Ketika kulihat ada kata “Ine “ aku berhenti membuka halaman dan kemudian membacanya.

“Siapa Ine itu? Beberapa kali dia mencari Adi dengan menelpon di apartemen ini. Aku ingin menanyakan pada Adi tetapi ada perasaan gengsi dalam diriku. Jangan-jangan Ine inilah yang membuat Adi mulai berubah lagi seperti ketika dia bertemu dengan Mira. Sudah beberapa minggu ini Adi tidak bekunjung kesini bahkan menelponku pun tidak. Benar-benar keterlaluan dia.  Memang kadang akulah yang keterlaluan kepadanya. Dari jauh dia datang ke Melbourne waktu itu kutinggal kerja begitu saja. Ada rasa penyesalan dalam diriku.”

           

Bagian ini sulit kumengerti karena antara sikap nyata yang ditujukan  padaku dengan catatan disini agak berbeda. Aku tidak mau mengunjungi Nurul bukan karena waktu itu aku kenal dengan Ine tetapi aku tidak mau Nurul terganggu dengan kehadiranku. Aku tahu salah satu sifat kurang baiknya, yaitu dia lebih mementingkan dirinya sendiri daripada orang lain, tidak terkecuali aku. Mungkin inilah sifat pembawaan dari kecil karena dia selalu mendapatkan perhatian  yang berlebihan dari kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya tersitimewa ibunya selalu memanjakan dia serta menuruti semua keinginannya. Bila dicermati inilah salah satu faktor yang ikut membentuk sifat-sifat Nurul yang menjadi egois, mau menangnya sendiri dan kadang tidak memikirkan orang lain. Kulanjutkan membaca bagian tersebut lagi.

“Ternyata benar dugaanku. Adi ada hubungan khusus dengan Ine. Ketika aku ingat dan ingin ketemu dia ternyata yang kutemui di Flinders Adi bersama-sama dengan Mira dan eh ada juga Ine. Rupanya Adi sudah kenal dengan Ine agak lama seperti yang kuduga “drama Mira dan Adi” terulang lagi dengan Ine. Tetapi mengapa Mira juga ada di Flinders waktu itu? Rupanya Mira kembali lagi kesini. Entah untuk tujuan apa? Apakah dia masih juga akan mengejar Adi? Kuharap tidak.”

Sampai pada kalimat ini aku ingin ketawa rasanya. Ternyata selama ini dugaanku keliru. Ternyata Nurul selalu memonitorku setiap saat baik saat saat hubungan kami mesra maupun sedang goncang. Aku merasakan kecemburuan terpancar dalam kalimat – kalimat tersebut. Sekalipun demikian ada juga perasaan tidak enak karena seolah-olah kesalahan ditimpakan padaku semua. Kalau aku terpeleset lagi dengan Ine bukan aku satu-satunya faktor pembuat kesalahan. Semula aku hanya iseng ingin kenalan dengan Ine tetapi waktu mengubah secara pelan-pelan aku mulai merasakan cintaku tumbuh meski bayang-bayang  Nurul tidak pernah padam dalam hatiku.

“Aku kembali merasakan kecemburuan yang besar ketika dugaanku benar antara Adi dan Ine ada hubungan khusus. Kecemburuan ini membuat aku mengubah keinginanku untuk memutuskan “menikah” dengan Adi. ….

Ketika sampai kalimat ini aku tidak kuasa menahan gejolak kesedihanku. Aku kembali membuat kesalahan fatal dalam hubunganku dengan Nurul ketika dia sebenarnya sudah siap menikah denganku sesuai dengan apa yang kuharapkan selama ini.  Apa yang tertera dalam tulisan ini sama dengan apa yang dikatakan olehnya ketika dia sedang ketemu aku sesudah kejadian di Flinders  sehari sebelum kepergiannya ke Los Angeles.

“Aku tidak tahu mengapa Adi begitu tega menghianati aku padahal selama ini aku selalu setia kepadanya meski aku mengakui aku sering sekali menyusahkan dia dengan kekerasan sikapku. Aku saat ini benar-benar bingung dalam mengambil keputusan. Ingin aku langsung saja memutuskan hubunganku dengan dia. Tetapi jika itu kulakukan aku kasihan dengan Adi. Begitu lama dia menungguku ternyata persoalan Ine aku mengorbankan masalah yang jauh lebih penting dan berharga untuk masa depanku. Biarlah aku saat ini mengalah dan menunggu sikap perubahan Adi. Akan sampai dimana dia melakukan “penghianatan” ini. Karena aku juga menyadari bahwa dalam kasus ini, aku turut memberikan kontribusi apa yang dialami oleh Adi. Biarlah aku sementara pergi ke Los Angeles untuk membantu papi menyelesaikan  masalah apartemen disana.”

 

Aku berhenti lagi membaca bagian ini ketika dugaanku benar bahwa Nurul pergi ke Los Angeles ke tempat apartemen yang dibelikan ayahnya untuk tempat adik-adiknya tinggal karena mereka akan melanjutkan studinya di University of California Los Angeles (UCLA).

Pada bagian akhir tulisan itu. Nurul menuliskan kata-kata yang belum pernah diucapkan kepadaku sebelumnya. Kata-kata itu berbunyi sebagai berikut:

“Aku mau berubah dan mengalah. Sebab selama ini aku hanya menuruti keinginanku sendiri dan mengabaikan orang lain termasuk orang tuaku dan Adi. Sudah saatnya aku memikirkan orang lain juga”

Buku harian itu kukembalikan ketempat semula. Saat aku mengembalikannya aku tidak sengaja menemukan buku saku seperti catatan nomor telepon. Kubuka buku tersebut dan ternyata benar dalam buku itu terdapat nomor-nomor telepon penting bagi Nurul, diantaranya nomorku, nomor rumahnya di Bandung, nomor adik-adiknya, nomor apartemen disini dan ternyata nomor apartemennya di Los Angeles ada juga disitu. Kucatat nomor tersebut dengan hati berdebar-debar. Akhirnya aku dapat menemukan nomor teleponnya lagi karena selama ini nomor handphonenya yang dulu  tidak pernah aktif lagi. Ingin sebenarnya aku segera menelponnya tetapi mendadak niat itu kuurungkan. Kembali aku melihat – lihat  meja kerja Nurul yang masih seperti dulu ketika dia pergi secara mendadak. Di atas meja kulihat setumpuk kertas-kertas dan ketika kulihat satu persatu alangkah kagetnya aku karena kulihat disitu terselip cek berisi uang sebesar lima puluh juta rupiah yang belum dicairkan. Aku tidak tahu mengapa cek itu berada ditumpukkan kertas-kertas kerjanya dia. Apakah dia lupa karena kesibukannya atau memang dia sengaja meninggalkan cek yang sudah ditandatangani tersebut di meja itu. Sesaat aku berpikir untuk siapa cek itu akan diberikan. Apakah untuk membayar keperluan-keperluan apartemennya atau untuk apa…… Ketika aku terus memutar otak mendadak terpikir olehku kemungkinan besar cek itu sengaja diletakkan di meja agar kutemukan karena Nurul tahu pasti suatu saat aku akan mencarinya lagi ke apartemennya di Southbank. Lembar demi lembar kulihat mungkin ada petunjuk yang membenarkan pikiranku ini. Tidak kutemukan petunjuk itu. Kucoba sekali lagi mencari ke bagian-bagian lain tidak kutemukan  juga. Akhirnya kulihat lagi cek tersebut sekali lagi. Karena sudah kehabisan akal kubalik cek tersebut alangkah kagetnya aku ketika di bagian belakang cek itu ada tulisan dua kata dengan menggunakan pensil bertuliskan “Dear Adi.”.

 

****

Aku memutuskan untuk berangkat ke Los Angeles mencari Nurul. Dengan menggunakan pesawat Quantas dari Bandara Internasioanl Tullamarine, Melbourne. Dalam perjalanan menuju ke Los Angeles aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk tetap tenang dan santai. Meski ini memerlukan perjuangan yang berat karena ketegangan – ketegangan selama ini yang kualami aku bisa tertidur nyenyak  selama diperjalanan sesaat setelah pesawat tinggal landas. Sampai di Bandara Internasional Los Angeles yang biasa disebut LAX aku langsung menuju ke Holiday Inn yang lokasinya berada disekitar bandara LAX. Aku memilih tinggal di hotel itu karena lokasinya yang berdekatan dengan bandara dan juga dengan restoran-restoran, diantaranya terdapat restauran Mc. Donald yang berseberangan dengan hotel dimana aku menginap. Pagi itu aku tidak langsung menuju ke apartemen Nurul di Los Angeles karena daerah ini masih belum kukenal. Meski ini adalah yang kedua kali aku menginjakkan kaki di California setelah beberapa tahun yang lalu ketika masa aku SMA. Kala itu aku berhasil mendapatkan kesempatan kesini karena pertukaran pelajar di masa lalu. Setelah istirahat beberapa saat di hotel aku menelpon ke apartemen Nurul. Beberapa saat kutelpon tidak ada yang mengangkatnya. Aku mulai gelisah saat itu. Kucoba sekali lagi kutelepon setelah aku berhenti beberapa waktu.

Hi Nurul speaking. I am not available today. I am out of town for several days. Please contact me next days or leave me a message.”

Suara mesin penjawab menyebutkan Nurul sedang tidak ada di apartemen dia sedang pergi ke luar kota dalam beberapa hari. Meski kecewa berat aku merasa lega setidak-tidaknya ketika aku mendengar suara Nurul dalam mesin itu karena aku sudah menemukan apartemennya melalui nomor teleponnya.

Menunggu dalam kesendirian memang merupakan hal yang sangat membosankan. Malam itu  setelah aku bersitirahat aku jalan-jalan di daerah pusat kota di Los Angeles yang disebut sebagai Downtown. Kota ini merupakan kota terbesar nomor dua di Amerika. Kota yang berada di negara bagian California ini terletak tidak jauh dari pantai karena letaknya diujung negara Amerika. Meski terletak tidak jauh dari pantai di daerah ini terdapat pegunungan juga. Ada banyak pantai terkenal di daerah ini seperti Pantai Hermosa, Santa Monica dan Venice dimana kita dapat berenang dan main surfing disana. Jika ingin hiking ataupun naik sepeda kita dapat menuju ke daerah Santa Monica Mountains. Daerah ini merupakan area pegunungan yang mempunyai taman nasional sangat luas. Di lokasi tersebut terdapat sekitar 200 mile jalur khusus untuk bersepeda santai untuk mengelilingi kota Los Angeles. Kota Los Angeles sebagaimana kota – kota besar di negara manapun mempunyai kondisi yang sama. Gedung-gedung pencakar langit berlomba-lomba ke atas. Perkantoran-perkantoran moderen. Mobilitas tinggi dan lalu lintas seolah tiada pernah berhenti Malam itu pertama kali aku menikmati suasana malam di kota ini dengan suhu udara yang tidak jauh berbeda dengan di Melbourne. Kota ini sangat terkenal tidak hanya di Amerika tetapi juga di seluruh penjuru dunia karena disini terdapat universitas bertaraf internasional, yaitu Univeristy of California Los Angeles (UCLA) yang sudah banyak dikenal oleh orang dari berbagai negara..

 

Hari kedua di Los Angeles  aku kembali mencoba menghubungi Nurul tetapi hasilnya masih sama. Aku hanya mendengar suaranya melalui mesin penjawab telepon. Kucoba lagi di hari yang sama tetapi ternyata di masih berada di luar kota. Beberapa hari kali kucoba lagi pada hari yang sama tetapi ternyata dia masih berada di luar kota. Pada hari ketiga aku mencoba kembali menghubungi dia lagi tetapi tetap saja Nurul belum pulang ke apartemennya. Aku mulai resah jangan-jangan Nurul tidak akan kembali lagi ke apartemennya dalam waktu dekat ini. Kucari akal bagaimana aku bisa temukan apartemennya. Kutemui operator telepon hotel untuk mencari keterangan tersebut.

            Could you help me find the area of this number?” Tanyaku pada operator tersebut.

            Let me find first. This is an area with the same area of  UCLA.”

            “Is it possible to know the exact area?”

“It’s difficult Sir. You can find the housing development, but you will not be able to find the house you are looking for.

Benar kata operator tersebut. Aku hanya akan dapat memeproleh informasi kode area kota dan daerah dimana perumahan tersebut berada secara umum dari nomor telepon tersebut. Tetapi aku akan kesulitan mencari rumah yang dihuni oleh Nurul karena luasnya perumahan itu. Ditambah lagi ini adalah daerah yang asing sama sekali bagiku. Jika ini terjadi di Melbourne atau Sydney aku tidak akan mendapatkan kesulitan karena aku sudah mengenal kedua kota tersebut dengan baik. Tetapi disini, tak seorangpun kukenal sehingga aku tidak punya orang yang dapat kukontak.

By the way, could you give me the information on the landmarks.”

“Yes sure, It’s near the location of UCLA. Have you heard abou it?”

“Yes I know UCLA, the very famous university in Los Angeles, California.” Jawabku.

That’s good. At least you have got the nearest location. My suggestion is you can come to the tourist information center. Perhaps they can help you more than me.”

“I agree with you. Thank you for your help.”

“Don’t mention it Sir.”

Saran operator itu masuk akal juga dan layak kulakukan. Memang akan sulit tanpa pertolongan yang berwenang jika aku hanya memperoleh nomor telepon saja karena hanya mereka saja yang dapat dan diijinkan melakukan hal itu. Sebagaimana di negaraku, hanya Telkom lah yang dapat melakukan hal tersebut. Tetapi aku akan kesulitan melakukannya disini karena bisa-bisa aku dicurigai oleh polisi. Tak jauh berbeda informasi yang kuperoleh dari Tourist Information Center dengan informasi yang berasal dari operator telepon hotel tadi. Akhirnya aku melakukan sebatas apa yang dapat kulakukan. Kutinggalkan pesan melalui mesin telepon apartemennya. Kukatakan aku sudah berada di Los Angeles beberapa hari ini dan terus mencarinya. Kutinggalkan nomor telepon hotel, nomor kamar dan tidak lupa nomor handphone ku pula. Sekarang yang kutunggu hanya mukjijat saja, yaitu Nurul akan menelpoku setelah membaca pesanku di teleponnya. Malam itu dikamar hotel aku terus merenung dan berdoa agar Tuhan memberikan mukjijat sehingga dia mau menghubungiku di hotel ini. Kutitipkan juga pesan pada operator hotel jika sewaktu-waktu ada seorang wanita bernama Nurul menghubungiku, cepat-cepat aku diberitahu.

            Malam itu merupakan malam keempat aku berada di hotel Holiday Inn di Los Angeles menunggu Nurul pulang. Entah kapan dia akan pulang, tetapi instingku mengatakan Nurul tidak akan lama lagi di pulang dari luar kota ke Los Angeles. Hari kelima dalam penantian belum juga ada kabar yang kuterima. Akhirnya aku putuskan jika sampai besok tidak ada kabar mengenai dia maka aku akan kembali ke Melbourne. Pagi itu aku dikejutkan dengan ketukan pintu di luar kamar hotel Bergegas aku membuka pintu dengan harap-harap cemas.

            Good morning Sir.” Ah ternyata pelayan laundry hotel.

            Good morning. Thank you.” Jawabku sambil tersenyum.

Kurebahkan kembali tubuhkuke ranjang. Belum ada lima menit aku dikejutkan lagi oleh ketukan pintu lagi.

            “Good morning Sir. There is a lady waiting for you in the lobby.”

            “Good morning. “ Jawabku dengan keras. Aku merasa gembira sekali ketika mendengar berita tersebut. Pasti Nurulah yang menungguku di lobi hotel

Ketika sampai di lobi aku terkejut karena bukan Nurul yang sedang menungguku tetapi seorang wanita Indonesia yang belum kukenal sama sekali.

            “Maaf Pak Adi saya Nani teman Nurul disini.” Katanya memperkenalkan diri padaku.

            “Oya, dimana Nurul?” Tanyaku dengan sedikit was- was

“Nurul masih di luar kota. Dia baru akan pulang satu minggu lagi. saya diminta menjemput Pak Adi oleh Nurul. Dia berpesan pada saya agar Pak Adi menunggu saja di apartemen”

“Ok tunggu sebentar ya aku segera berkemas-kemas.”

“Ya saya tunggu.”

Beberapa menit setelah aku check out dari hotel aku bertanya pada Nani.

                        “Dimana apartemen Nurul?”

                        “Sekitar 30 menit dari sini. Tak jauh dari kampus UCLA.”

Benar juga kata operator hotel saat itu. Lokasi apartemen Nurul tak jauh dari kampus UCLA yang terkenal itu.

            “Apa kerjamu disini?”

“Saya kerja di kantor swasta disini. Secara kebetulan saya berkenalan dengan Nurul. Dia kemudian ajak saya tinggal di rumahnya daripada sendiri karena adiknya baru akan kesini tahun depan setelah lulus S1 nya di Bandung.”

“Ya, ya aku tahu itu.” Aku pura-pura tahu meski baru dengar kali ini mengenai rencana itu.

“Kamu dari Bandung ya?”

“Iya kok Pak Adi tahu?”

“Dari dialekmu itu.”

Tiga puluh menit tidak terasa ketika taksi yang kami naiki sampai ke daerah lokasi dimana apartemen Nurul berada. Ketika melewati kampus UCLA, kulihat bangunan model arsitektur kuno itu kelihatan megah dengan menggunakan warna coklat dan gold. Bangunan bagian depan menggunakan batu bata exposed. Di halaman depan kampus terhampar lapangan rumput hijau dengan beberapa banyak pohon besar-besar yang tumbuh menghias kampus tersebut.

Sampai di apartemen Nurul taksi yang membawa kami berhenti. Di depanku kulihat deretan rumah-rumah dengan gaya minimalis berkesan moderen.  Rumah Nurul disini berbeda sekali dengan apartemennya di Melbourne yang berkesan mewah dan besar.

                        “Disini banyak orang Indonesia.” Kata Nani

“Mm ya pasti mereka kaya-kaya bisa beli rumah disini dan menyekolahkan anaknya disini.”

“Iya benar termasuk keluarga Nurul. Pak Adi beruntung bisa dapat Nurul.” Komentarnya

“Ah biasa saja. Yang kaya kan orang tuanya bukan dia.”Jawabku.

“Ok Pak Adi saya tinggal dulu ya saya akan berangkat kerja. Kalau perlu apa-apa buka saja kulkas atau pesan di restauran melalui telepon. Langganan Nurul ada di buku telepon dekat meja tamu. Nanti mereka akan antar kami. Kami jarang masak karena sibuk semua.”

“Apa kesibukan Nurul selama disini?”

“Pak Adi nggak tahu kalau dia bekerja di UCLA?”

“Oya aku lupa.”Aku pura-pura lagi. Pantas saja dia tidak pulang-pulang ke Melbourne. Ah Nurul apa lagi yang kau cari disini?

Satu minggu lagi aku harus menunggu Nurul kembali kesini. Hanya saja kali ini aku lebih tenang karena aku sudah berada ditempat yang tepat. Selama satu minggu ini aku hanya berdiam di rumah Nurul saja karena aku menunggu dering telepon dari dia. Ini kulakukan karena dia sudah tahu aku ada disini.

Hari yang kutunggu tunggu akhirnya tiba. Nurul kembali dengan diantar oleh temannya seorang laki-laki bule seusiaku. Pria itu hanya mengantar sampai di halaman rumah saja kulihat dari dalam mereka sejenak berbincang-bincang sebelum pria itu kembali masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah ini.

Hi welcome home.” Sambutku sambil membawakan tasnya masuk ke kamarnya.

                        Thanks. “ Jawabnya pendek.

                        You look tired.” Kataku lagi.

                        Dia hanya mengganggukkan kepala..

                        You may take  a rest, and sleep if necessary.”

                        “Thanks I am ok, let me take a bath first.”

                        “Have you taken breakfast?” Tanyaku.

                        No, not yet.”

                        “May I prepare it for you?”

“Thanks

Jawabnya lagi kemudian dia bergegas menuju ke kamar mandi. Selesai aku memesan sarapan untuknya. Aku kembali duduk menunggu dia mandi dan berganti pakaian.

“Udara agak panas hari ini.” Kata Nurul selesai mandi dengan mengenakan celana pendek dan kaos singlet duduk didepanku.

                        “Ya benar, mungkin angin dari pantai.”

                        “Mungkin.”

 

Sesaat suasana sepi kami berdua membisu dalam angan-angan masing-masing. Nurul beranjak mengambil remote untuk membesarkan ac-nya. Mendadak kudengar bunyi bel pintu berdering. Pesanan makanan datang untuk kami berdua.

                        Eat please.” Ajaknya

                        Thanks.” Jawabku. “You look very busy.” Lanjutku

“Ya aku bekerja di UCLA. Aku bosan di Melbourne. Banyak hal yang membuatku tidak nyaman tinggal disana lagi.”

Aku terdiam mendengar keluhannya.

“Rumah ini sudah dibeli dipersiapkan untuk Toni adikku. Sebelum dia menempati untuk kuliah disini aku memanfaatkan sebagai tempat tinggalku.”

“Sampai kapan?”

            Dia tidak menjawab pertanyaanku malahan sebaliknya bertanya kepadaku.

“Bagaimana kabar Ine?” Akhirnya muncul juga pertanyaan yang tidak kuharapkan keluar dari mulut Nurul.

“Maafkan aku” Jawabku

“Aku bertanya bagaimana kabar Ine?’ Kata Nurul dengan nada ketus.

“Dia sudah pulang ke Indonesia dan mungkin sudah nikah. Tapi persisnya aku tidak tahu ”

“Itulah sebabnya kamu kesini.”

“Mm…. bukan itu. Aku kesini mau minta maaf.”

“Tidak perlu meminta maaf. Kau sudah melakukan hal yang sama berkali-kali.”

“Ya aku benar-benar menyesal dan meminta maaf padamu. Berilah aku kesempatan sekali lagi. Kau mau kan?”

Nurul hanya membisu. Matanya mulai berkaca-kaca. Mendadak telepon berdering dan dengan bergegas dia mengangkat telepon tersebut.

Hi John not today please. I am still tired.” Kudengar Nurul berbicara ditelepon.

Ok. Ok tomorrow. You may pick me up.” Lanjutnya kemudian dia meletakkan kembali telepon tersebut.

Ruangan itu menjadi terasa sesak dan panas saat rasa cemburu secara tiba-tiba menyengatku; sekalipun demikian aku tetap tidak berkomentar mendengar pembicaraan tersebut.

“Bagaimana pekerjaanmu?” Nurul kembali bertanya padaku setelah kembali duduk didepanku.

“Aku sudah memutuskan untuk pindah di Melbourne. Selama setahun ini aku bekerja seadanya mengerjakan proyek-proyek kecil tentang IT.”

Kulihat wajahnya berubah ketika mendengar aku memutuskan pindah ke Melbourne. Kemudian katanya.

                        “Lalu kau tinggalkan pekerjaanmu di Bandung?”

                        “Ya.” Jawabku singkat.

                        “Apa yang kau cari di Melbourne. Ine sudah pulang. Mira?”

                        “Kamu. Aku menunggumu.”

                        “Kau keliru. Aku tidak akan kembali lagi ke Melbourne.”

                        “Mengapa? Lalu apartemen itu?”

“Kau tak perlu tahu alasannya. Tina, adikku akan kuliah disana dan menempatinya.”

“Oya maaf aku sering kesana menengok rumahmu. Terima kasih atas ceknya.”

Muka Nurul menjadi merah ketika kusebut cek itu. Mendadak dia menangis tersedu-sedu sambil menundukkan mukanya di meja di depanku. Melihat itu kudekati dia lalu kudekap erat-erat. Saat dalam dekapanku tangisannya semakin keras. Kubelai rambutnya yang tetap pendek dia jatuhkan kepalanya dipangkuanku. Kubiarkan dia menangis karena itu merupakan salah satu cara yang terbaik untuk melepaskan kesesakan yang selama ini ia pendam. Nurul sebenarnya bukan tipe wanita yang cengeng, dia adalah wanita yang tegar. Dia tidak pernah mengadu masalah-masalah kepada orang lain. Jika dia sampai menangis, maka beban itu terlalu berat baginya.

“Sudahlah aku sekarang sudah ada disisimu.” Kataku mencoba menghiburnya.

“Aku mau minta maaf juga sama kamu.” Ucapnya di sela-sela tangisannya yang mulai mereda.

                        “Kamu tidak salah. Aku yang salah dan keterlaluan ” Tegasku

                        “Ya kita sama-sama salah.”

            “Aku egois dan hanya memikirkan diriku sendiri.” Baru kali ini kudengar Nurul berkata seperti itu. Waktu sudah mengubah dia. Dia semakin matang dan mau menyadari kelemahan-kelemahannya.

“Aku juga salah. Aku mudah terpeleset. Itu sifat jelekku. Aku berjanji tidak akan mengulangi lagi.”

Nurul memejamkan matanya. Kukecup keningnya lalu kupeluk erat-erat. Selang beberapa saat dia tertidur di pangkuanku. Ketika terbangun dia langsung menuju ke meja telepon.

Hi John, this is Nurul. I will inform you that I cannot go with you tomorrow. My boy friend  from Melbourne has just arrived from Melbourne.” Kata Nurul; kemudian lanjutnya.

Sorry. I cannot tell it when I can go. Once again, I am so sorry.”

“Jangan cemburu . Hanya teman biasa di tempat kerja. Dia yang mengantarmu tadi pagi.”

Aku tersenyum mendengar penjelasannya.

            “Nanti malam kita jalan-jalan ya” Ajaknya

            “Ok Aku setuju. Ada kendaraan disini?”

“Ada,  Papi sudah persiapkan untuk Toni jika nanti tahun depan yang hanya tinggal beberapa minggu ini dia akan kuliah disini.”

 

            Malam itu kami berdua jalan-jalan di pusat kota Los Angeles.

                        “Apa kesanmu dengan kota ini?” Nurul bertanya padaku.

                        “Tak jauh berbeda dengan Melbourne dan Sydney.” Jawabku.

                        “ Kalau penghuninya?”

“Kelihatannya lebih ramah orang-orang Aussie. Ini kesanku saja. Mungkin keliru karena hanya sesaat.”

“Benar katamu. Sudah setahun aku tinggal disini kesanku memang begitu.”

“Tapi kulihat semua tertata rapi ya. Meski banyak gedung-gedung bertingkat  bagaikan hutan beton.”

“Iya. Bahkan kamu tidak akan pernah melihat kemacetan disini dan juga  orang-orang yang mengendarai mobil membunyikan klakson.”

“Ya hal-hal yang baik ini yang perlu kita  tiru.”

“Oya bagaimana ceritanya kamu bisa bekerja di UCLA?”

By accident.” Jawabnya

What did you mean by accident?’ Tanyaku padanya

“ Ketika aku sampai disini aku berkenalan dengan Nani. Kemudian aku dikenalkan dengan  John teman sekerjanya. Akhirnya aku masuk kesana.”

“Sama juga dengan di negara kita, kalau lewat teman semua jadi mudah.’

“Ya dimana-mana sama saja pertemanan lebih melicinkan jalan.”

“Si John itu yang mengantarmu kemarin pagi?”

“Ya dia orang baik-baik, religius dan berpendidikan tinggi.”

“Mm ya.”

“John itu orangnya menyenangkan kalau diajak bicara dan sangat perhatian serta baik padaku.” Lanjutnya

“Ya baguslah kalau kamu di sini ada sahabat-sahabat yang baik.” Komentarku sambil menahan rasa cemburu yang mulai muncul dalam hatiku.

“Bagaimana pendapatmu?”

“Pendapat apa? Aku tak mengerti maksudmu?”

“Ya tentang John.” Katanya dengan nada manja.

“Mana aku tahu. Kenal saja tidak.”

“Aku suka dengan dia. Kau tak marah kan?’

“Ya kalau Cuma suka berteman apa salahnya. Asal jangan keterusan.” Jawabku dengan nada keberatan.

“Ya nggak lah. Aku tetap pilih kamu.”

“Oya tapi ada syaratnya. Aku ijinkan kamu berteman dengan siapa saja.”

“Apa syaratnya?”

“Kamu bisa jaga diri sebagai orang timur kita tidak boleh sama dengan mereka, khususnya masalah pergaulan bebas.”

“Pasti, aku setuju denganmu. Aku akan memberikan yang terbaik bagimu saja.”

“Kamu kuijinkan menyelesaikan kontrak kerjamu tapi setelah itu kita harus nikah.” Aku berkata dengan tegas.

“Ok. Ok aku setuju. Ada lagi yang lain.” Katanya

“ Yang lain apa ya….. Oya bawa fotoku selalu di dompetmu kemana saja kamu pergi.”

“Itu sudah kulakukan. Mau bukti nih lihat.” Katanya sambil membuka dompetnya serta menunjukkan padaku.

Kurasakan sekali adanya perubahan pada diri Nurul saat ini. Dia mau mendengar dan mengalah serta melakukan hal-hal yang dulu dia tidak pernah lakukan.

            Thanks I trust you.”

            You have to since I also trust you.” Jawab Nurul.

            “Kamu mau mengajukan syarat juga.”

            “Ya tentu, syaratnya hanya dua. Coba terka apa?”

            “Nggak tahu. Aku tidak bisa baca apa yang sedang kau pikirkan.”

            “Pasti kamu bisa menduga.” Desaknya padaku

Aku berpikir dalam beberapa saat. Kemudian jawabku.

            ”Nggak bisa benar. Aku nyerah.”

            “Syaratnya mudah, jangan dekati Ine lagi apalagi Mira. Jelas?”

            Ok I promise, I will not do it.”

 

Malam itu benar-benar indah dan menyenangkan bagi kami berdua setelah kejadian-kejadian menegangkan terjadi lagi dalam hubungan kami. Saat ini kami merasakan adanya sesuatu yang lain, ya telah terjadi perubahan dalam diri kami. Kami berdua mulai menyadari ternyata kami sudah saling tergantung satu dengan yang lain. Diantara riak-riak konflik yang melanda kami, kami berhasil mengatasi
walau dengan usaha yang berat dan memerlukan kesabaran yang tinggi.

            “Aku kangen sekali sama kamu.” Katanya sambil menggandeng tangaku.

            “Aku juga.” Kami berjalan sambil berangkulan menyusuri pusat kota Los Angeles. Kota ini membawa suasana baru dalam hubungan kami. Kota yang tak kalah indahnya dengan Melbourne. Disini tempat-tempat seperti Hollywood Bowl, Hollywood Sign, The Coliseum, L.A Downtown, Dodger Stadium, Griffith Park Observatory, Sunset Boulevard, dan Beverly Hills adalah tempat- tempat yang indah untuk dikunjungi oleh para pelancong disini.  

            “Besok pagi kita akan putar-putar di tempat-tempat yang indah disini ya.”

            “Aku ikut saja. Kan kamu lebih tahu dari aku disini.”

            “Ya besok kita akan lihat-lihat Kota Los Angeles dengan dari udara”

            “Maksudmu?”

“Kita akan melihat – lihat kota ini menggunakan Helicopter Tour. Belum pernah kan selama kita di Aussie?”

“Terserah kamu saja.” Jawabku.

 

 

****

Salah satu yang belum dapat diubah dalam kehidupan Nurul ialah berfoya-foya di tempat-tempat pariwisata dan belanja di pusat-pusat pertokoan mewah. Hari ini aku diajak mengunjungi lokasi-lokasi terkenal di Los Angeles dengan menggunakan jasa Helicopter Tour. Dengan menggunakan helicopter kami diterbangkan mulai dari Long Beach Airport California yang terletak di bagian selatan kota Los Angeles. Tempat-tempat yang kami kunjungi seperti Down Town atau City Center yang disebut sebagai Central Business District (CBD) di kota Melbourne atau Sydney.

            “Lihat itu hutan beton di Los Angeles” Komentar Nurul ketika sedang berada di atas Down Town.

            “Tak jauh berbeda dengan Sydney.” Jawabku sambil melihat-lihat bangunan pencakar langit berlomba-lomba ke atas.

“Di City Center ini kamu dapat akan dapat menikmati hidup dengan nyaman.  Transportasi mudah dan cepat; hotel-hotel berbintang, seperti Mariot, Holiday Inn, Sheraton dan lain-lainnya; restaurant-restauran bertaraf internasional tak kalah enaknya dengan yang ada di Kota Melbourne. Kita dapat makan berbagai masakan yang ada di dunia ini.” Cerita Nurul padaku.

“Ya nyaman bagi yang banyak uang seperti kamu.” Komentarku

“Sekilas apa yang membedakan dengan Melbourne dan Sydney.” Tanyanya padaku

            “Ya kelihatannya disini penduduknya lebih padat.” Tambah Nurul

            “Coba lihat  itu. Itu Griffith Park Observatory atau taman kota.”

“Mm.. bagus, rapi dan bersih hampir sama dengan Royal Botanic Garden di Melbourne.”

“Mungkin nanti kalau ada waktu kita kesana. Disana kita bisa jalan-jalan karena ada lokasi untuk hiking, jalur sepeda, ada kebun binatang, ada tempat pertunjukkan teater dan lain-lainnya” Tambah Nurul.

Helicopter terus membawa kami berputar-putar ke lokasi yang sudah ditentukan.

            “Lihat itu Hollywood Bowl. Kamu tahu nggak kenapa disebut “Bowl”?” Tunjuk Nurul ke bangunan di bawah kami.

            “Mungkin karena banguannya seperti mangkok.” Jawabku

            “Benar, bangunan itu diinsipirasi bentuk mangkok.”

            “Apa fungsi bangunan itu?” Tanyaku

            “Biasanya digunakan untuk pertunjukkan seni atau pertunjukkan khusus.”

            “Mirip Art Center di Melbourne ya?”

Nurul mengangguk. Ketika sampai di daerah perbukitan dari atas helicopter kulihat tulisan raksasa berwarna putih dengan bunyi: “HOLLYWOOD”

            “Apa itu?” Tanyaku sambil menunjuk tulisan tersebut.

“Itu disebut Hollywood Sign. Mungkin kalau di negara kita biasa disebut sebagai tugu atau penanda suatu daerah tertentu. Kita sudah memasuki daerah Hollywood yang sangat terkenal itu” Benar juga setelah melewati perbukitan itu. Kami memasuki kota kecil yang ramai dan penuh dengan bangunan biasa. Jarang ada bangunan tinggi di tempat ini. Toko-toko di pinggir jalan utama hanya bertingkat dua atau tiga pada umumnya. Model gaya bangunannya seperti gaya rumah-rumah masa lalu. Model-model yang lebih menonjolkan nilai artistiknya.

“Sebentar lagi kita akan melihat daerah lain yang tak kalah terkenalnya di kota ini”

 ”Beverly Hills?” Tanyaku

“Benar. Beverly Hills daerah yang cantik, asri dan nyaman digunakan sebagai tempat tinggal.”

“Benar juga katamu. Daerah ini benar-benar asri. Lihat itu sepanjang jalan menuju apartemen itu dihiasi pohon-pohon yang terawat dengan baik. Jalannya halus dan pejalan kakipun diberi jalan tersendiri. Tak kalah asrinya dengan South Bank”

“Ya memang ini daerah elit. Rata-rata hanya orang-orang kaya yang tinggal disini.”

“Bagaimana dengan daerah Westwood rumahmu?”

“Ya itu biasa saja bagi orang sini.”

 

Kami terus terbang mengelilingi semua lokasi yang sudah ada dalam paket perjalanan tour lewat angkasa tersebut.

“Kita akan kembali ke Long Beach Airport. Sesuai dengan rencana kita akan terus ke Long Beach dulu sebelum pulang.”

“Terserah kamu saja toh kamu semua yang metraktir aku.” Jawabku

“Ya kan untuk kamu semua akan kuberikan. Apalagi hanya persoalan seperti ini saja. Ini masalah kecil jangan dipikir.”

Tidak ada kata-kata lain yang dapat keluar dari mulutku mendengar komentar Nurul saat itu. Aku sangat terharu mendengar semua itu. Dia benar-benar sudah berubah dan tidak seperti dulu lagi. Barangkali semakin bertambah usianya dia semakin matang dan dewasa.
 

XVI.       Kesepakatan di Long Beach 

Long Beach merupakan kota di pingir pantai di California bagian selatan. Sebagai kota pantai maka banyak sekali permainan-permainan air di daerah ini. Disamping itu daerah ini merupakan jembatan menuju ke perdagangan internasional karena ramainya transportasi laut yang ada disini. Di daerah ini banyak dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan dan kantor-kantor yang bertebaran di pingir pantai atau yang biasa disebut sebagai waterfront. Di wilayah perairan ini pula terdapat kapal induk yang dijadikan sebagai kapal pesiar. Terdapat pula aquarium laut yang berada di sekitar lokasi tersebut dengan bebagai jenis ikan yang ada di dalamnya. Kami sampai di sini menjelang malam oleh karena itu kami terus menuju hotel  terdekat untuk menginap.

            “Kita cari yang dekat pantai ya.”

            “Ok kamu yang lebih tahu.” Jawabku

Kami memilih menginap di Coast Long Beach Hotel yang terletak di area waterfront. Meski hotel biasa fasilitasnya cukup memadai. Ada kolam renang, restauran, dan tempat hiburan lainnya.

            “Kamu pernah kesini?” Tanyaku padanya.

“Belum. Ini pertama kali aku kesini bersama kamu. Bagaimana cukup comfortable?”

“Yah sangat nyaman bagiku.”

“Ya sudah sekarang istirahat besok kita jalan-jalan dan cari pemainan di pantai supaya benar-benar dapat menikmati suasana tempat ini.” Ajaknya

“Ok kita perlu hemat energi agar besok kita dapat menikmati semua lokasi-lokasi yang akan kita kunjungi dengan nyaman.”.

Pagi itu kami menyewa kapal kecil untuk menikmati pemandangan indah pantai. Kapal kecil atau boat yang kami naiki hanya cukup untuk tiga atau empat orang dengan pengemudinya. Di dalam boat itu kami dapat secara langsung melihat pantai dengan ombaknya yang tenang saat itu. Tak jauh bedanya dengan pantai-pantai di Sydney dan Melbourne. Aku menyukai suasanan seperti ini.

            “Mengapa kamu ajak aku kesini?” Tanyaku pada Nurul

“Ya kapan lagi kalau tidak sekarang. Kesempatan lain akan sulit. Kamu tidak lagi akan kembali ke Los Angeles kan dalam waktu dekat ini.” Jawabnya sambil duduk disisiku.

“Tapi aku merasa ada sesuatu yang lain.”

“Apa itu?”

“Semalam aku bermimpi kamu naik pesawat dan meninggalkan aku sendiri.”

“Aku tidak percaya pada mimpi. I only trust God.”

“Ya aku juga. Tapi mimpi itu sangat menggangguku. Semalam aku tidak dapat tidur memikirkannya.”

“Sudahlah forget it. Kita hidup tidak dituntun oleh mimpi tetapi dituntun oleh Tuhan.”

“Benar kata kamu.” Jawabku untuk melegakan diriku.

Boat membawa kami berkeliling-keliling di pantai. Kami menuju kearah Long Beach Marina yang merupakan daerah bagian dari Kota Long Beach. Disini suasana semakin ramai bagaikan keramaian pusat kota. Nampak bangunan-bangunan mewah, seperti gedung-gedung perkantoran, hotel-hotel dan pusat perbelanjaan ditepi pantai. Suasana ini tak jauh bedanya dengan suasana di Sydney Harbour yang persis berada di pinggir laut. Perkembangan wilayah itu berawal dari area waterfront.

“Indah sekali daerah ini. Saya benar-benar kagum dengan penataan dan kerapiannya.” Komentarku melihat keindahan Long Beach Marina.

“Masih ada yang lain lagi. Nanti kamu akan ketagihan untuk berkunjung kesini.” Jawab Nurul.

“Dimana itu?” Tanyaku dengan penasaran

“Nanti jika kita sudah sampai di waterfront Queensway. Tak jauh dari sini.” Jawabnya.

“Oya aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Kata Nurul lebih lanjut.

Then just say it.”

“Aku mau kita sepakat dulu mengenai hubungan kita yang sudah lama.”

“Benar. Kita perlu membuat kesepakatan saat ini mengingat beberapa bulan ini sampai habis kontrak kerjamu kita akan berpisah lagi.”

“Ya sebenarnya aku tidak mau seperti ini terus-terusan. Aku tahu kamu menderita karena aku.”

“Apakah kamu juga tidak menderita tekanan batin?”

“Tentu. Aku juga kadang sedih sekali memikirkan kamu. Tapi sudahlah kita jangan menengok ke masa lalu. Biarlah masa lalu sudah kita kubur. Sekarang yang ada di depan kita ialah bagaimana kita mempertahankan komitmen kita selama aku masih disini dan kamu di Melbourne.”

“Ya ok. Aku setuju. Kuharap ini yang terakhir kali kita mengalami hal-hal yang tidak enak.”

“Selama kurang lebih enam bulan ini aku menghabiskan kontrak kerjaku. Aku ingin kamu sering menelponku. Gunakan saja telepon di apartemenku. Kemudian jangan lupa sering-seringlah datang ke apartemen di Melbourne. Kelak itu akan menjadi milik kita oleh karena itu anggaplah itu rumahmu sendiri. Saranku kamu pindah saja ke apartemen di Southbank jangan teruskan kontrakmu di apartemenmu saat ini. Aku juga berharap kamu tidak terpeleset lagi. Kamu dan aku sementara ini akan bertemu dengan orang-orang lain yang ada disekitar kita bahkan mereka dekat dengan kita. Aku tidak ingin kamu atau aku tergoda sehingga menimbulkan hal-hal yang negatif dalam hubungan kita. Atau bahkan dapat memisahkan kita.”

“Jangan berkata begitu. Aku tidak sanggup meski hanya membayangkan saja.” Kataku padanya.

So do I. Tetapi kita memang harus realistis bahwa hidup ini akan banyak godaan yang harus kita lalui. Seperti meraih impian menjadi kenyataan itulah hidup kita.”

“Benar dan hampir dua pertiga impian kita sudah kita raih. Aku sudah meraih cita-cita ku menjadi doktor demikian juga kamu. Tinggal sisanya, yaitu pernikahan kita.”

“Ah kata itu sekarang menjadi indah kudengar. Dulu aku ketakutan sekali mendengar kata itu ” Nurul berkata dengan tertawa.

“Aku senang sekali mendengar perkataan kamu. Inilah yang selalu kutunggu-tunggu darimu. Kau sudah berubah seperti harapanku selama ini.”

“Mungkin karena aku semakin bertambah umur. Aku sadar sebagai wanita harus mau menerima kodrat yaitu menjadi seorang istri. Percayalah kita akan dapat mewujudkan impian kita ini.” Dia berkata kemudian lanjutnya.

“Aku sedikit menguatirkanmu jika kamu berada di Aussie.”

“Apa yang membuat kamu kuatir.”

“Ah sudahlah lupakan saja. Aku percaya kamu pasti bisa memposisikan dirimu di lingkungan pergaulanmu.”

“Masalah Mira? Dia kan sudah bertunangan lagi pula dia kan di Sydney.”

“Aku percaya padamu”

“Aku juga mengkuatirkan kamu kalau kamu terlalu lama di sini.”

“Ah kamu tidak usah kuatir. Aku bisa jaga diri dan membatasi pergaulanku.

“Ya tetapi kamu jangan terlalu sering berpergian dengan John. Aku tidak mau kau terjebak dalam hubungan emosional.”

“Akan kubatasi hubungan di kantor saja. I promise.”

“Aku percaya padamu. Aku nanti akan sering menghubungimu.”

 

Boat terus melaju menuju ke arah Queensway. Sampai disana kulihat lokasi yang mirip dengan pelabuhan Sydney. Lokasi yang menjorok ke laut dan membuat lekukan yang berbentuk seperti daerah Circular Quay di Sydney nampak indah jika dilihat dari jarak jauh bagaikan huruf U yang dihiasi dengan bangunan-bangunan moderen.

“Masih ada satu lokasi lagi yang harus kita kunjungi, yaitu Long Beach Aquarium. Kita kesana ya?” Kata Nurul

“Terserah kamu saja. Kemana kamu mau aku akan ikut.”

“Ha…ha…. Itu yang membuat aku tidak bisa melupakanmu. Kukira aku akan kesulitan mencari orang lain yang sebaik kamu.”

“Hanya satu kok di dunia ini. Jadi jangan menoleh kesana kemari nanti kalau aku pulang ke Melbourne.”

“Kamu yang suka itu kan. Dikiri ada Mira dan dikanan ada Ine.”

“Tapi kan kamu tetap di tengah-tengah kan tidak tergeser sedikitpun.” Sambungku dengan tertawa.

“Ah kamu memang bisa saja.”

Setahun ini telah mengubah sikap Nurul dalam memandang masalah hubungan kami. Dia semakin menekankan pada komitmen yang benar. Selama perjuangan ini aku kadang tidak sabar tetapi untunglah semangat dan komitmen untuk tetap bersama tetap ada. Jika semua memungkinkan aku tidak mau berpisah lagi dengannya. Aku akan selalu mendampinginya kemana saja dia pergi. Aku tidak rela kala ada laki-laki lain dekat dengannya.

            “Apa yang kamu pikir?” Selanya

“Aku ingin kita terus berdua dan jangan berpisah lagi. Aku tidak mau lagi ada gangguan-gangguan dalam hubungan kita mulai saat ini dan seterusnya.”

“Ya sabarlah enam bulan bukan waktu yang lama. Kita kan sama-sama sibuk. Kau masih terganggu dengan impianmu.”

“Mungkin. Kucoba untuk terus menekan kekuatiran itu. Tapi semua ini sebenarnya hanya imbas dari jarak yang memisahkan kita.”

“Sudahlah sekarang kan jaman moderen, kapan kamu kangen sama aku, tinggal angkat telepon saja.”

“Ya tapi tetap saja berbeda aku kan perlu orangnya bukan suaranya saja.”

“Sabar, waktu enam bulan kan tidak lama.” Jawab Nurul kemudian dia merangkulku sambil melanjutkan pembicaraannya.

“Kalau perlu aku akan mengunjungimu jika waktu mengijinkan.”

“Kuharap kamu hati-hati ya?”

“Pasti. Pasti.”

Suasana di kapal mendadak menjadi sunyi. Entahlah aku mempunyai firasat yang tidak enak mengenai enam bulan kedepan ini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Yang kuharapkan apa yang kulihat dalam mimpi semalam tidak akan terjadi pada kami. Ada orang-orang tertentu yang dikaruniai memperoleh gambaran-gambaran masa depan melalui mimpi. Di masa-masa lalu beberapa kali apa yang kulihat dalam mimpi terjadi meski waktu dan kejadiannya tidak sama persis.

“Adi sekarang aku masih ada disisimu dan akan seterusnya mendampingimu. Kamu jangan menuruti emosi dan kata hatimu yang belum tentu benar.”

“Ya aku akan coba untuk tetap mempercayai kesepakatan kita bersama.”

You must.

            “Itu ya Long Beach Aquarium. Tempat yang kamu katakan tadi.” Kataku

            “Benar. Itulah tempatnya. Bagus bukan?”

“Ya benar, benar. Kelihatannya lebih bagus dari Melbourne Aquarium yang pernah kulihat waktu bersamamu di Yarra River dulu.”

“Kamu selalu membandingkan semua yang kau lihat dengan kota Melbourne saja. Ada apa sih?”

“Karena aku suka dengan Melbourne.”

“Ya mengapa kok kamu suka dengan kota itu?” Desak Nurul

“Karena disana ada kamu, kalau tidak ada mungkin ya tidak.”

Nurul tertawa mendengar jawabanku.

            “Kalau begitu kamu sekarang jadi suka dong dengan Los Angeles.”

            “Apa alasannya?” Aku bertanya padanya

            “Kan disini sekarang ada aku.”

            “Ya pasti. Aku suka dengan Los Angeles selama kamu masih disini.”

Nurul tertawa-tawa seperti anak kecil mendengar jawabanku. Itulah dia kalau sedang senang Nurul menjadi manja dan seperti anak kecil. Aku kadang menjadi ikut-ikutan dengan kegembiraannya. Tak terasa semua lokasi yang menarik sudah kami kunjungi dalam waktu lebih dari separoh hari.

            “Kita bermalam disini sehari lagi ya baru besok pagi kita kembali ke rumah.” Pinta Nurul padaku.

            “Terserah kamu asal tidak mengganggu pekerjaanmu saja.”

            “Nggak lah. Aku sudah ijin kok.”

 

Malam itu kami masih menginap di Long Beach karena permintaan Nurul. Rencana kami besok baru akan kembali ke Los Angeles. Dalam waktu yang pendek ini, kami saling melepaskan kerinduan kami setelah beberapa saat kami mengalami ketegangan-ketegangan dalam hubungan kami. Aku tidak akan pernah melupakan kemesraan di Long Beach ini bersama Nurul.

 Waktu berjalan sangat cepat sekali sehingga hampir tiga minggu aku berada disini. Minggu depan aku harus segera kembali ke Melbourne karena pekerjaan yang belum kuselesaikan memerlukan penangannnya secepatnya.

            “Minggu depan aku akan pulan ke Melbourne.” Kataku pada Nurul ketika kami menikmati suasana malam di Long Beach dengan duduk-duduk di depan hotel yang kami tempati yang berada dipinggir pantai.

“Aku ingin sebenarnya kamu tak usah kembali ke sana lagi selama enam bulan ini menemani aku disini saja.” Pintanya

“Ya inginnya seperti itu, tetapi aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu.”

“Ah kita akan berpisah lagi.”

“Oya bagaimana kalau selama enam bulan ini kita atur kamu ke Melbourne dua kali dan aku ke sini satu kali dan menjemputmu pulang?”

“Ide bagus. Aku setuju.”

Langit malam itu cerah sekali. Kulihat lampu-lampu gedung-gedung di daerah waterfront berkilauan memancarkan cahayanya dengan terang. Air laut yang tenang seolah tidak mengalir. Angin laut yang tidak begitu kencang membuat ombak hanya kecil-kecil saja. Gulungan-gulungan ombak bagaikan tarian yang sedang dijalankan oleh para penari profesional yang sedang menghibur penontonnya.

            “Kamu lihat ombak laut didepan kita saling berkejaran tiada berhenti.” Kataku

            “Ya mereka akan terus seperti itu sepanjang masa dan tidak pernah merasa lelah.”

            “Seperti kita ya kejar-kejaran terus.” Lanjutku

            “Ya tapi sebentar lagi kan berhenti. Kamu sudah capai kan” Jawabnya

“Begitulah, ada kalanya semangat orang itu patah selama hatinya tidak terbuat dari besi.”

“Tapi kamu jangan katakan aku berhati besi.” Komentar Nurul

“Nggak dong, hati kamu halus bagaikan sutra. Kau amat baik padaku.” Jawabku sambil membelainya.

Nurul senyum-seyum mendengar jawabanku. Wanita cantik disampingku ini kadang membuatku bingung. Ada kalanya dia begitu romantis dan manja tapi ada kalanya dia keras bagaikan besi. Ombak-ombak laut terus berkejaran tiada henti. Suasana malam semakin dingin saat angin laut mulai membesar dan menerpa tepi pantai. Pohon-pohon sepanjang pantai ikut bergerak-gerak bagaikan orkestra yang mengiringi tarian ombak laut. Alam begitu indah dan serasi tetapi mengapa manusia kadang tidak serasi. Laut, ombak, angin dan pohon saling mengisi menciptakan keharmonisan lingkungan. Ah alangkah indahnya hidup ini kalau keserasian terus terjadi.

            “Dingin ya?” Sela Nurul sambil merapatkan duduknya padaku.

            “Ya dingin sekali. Lebih dingin dari Melbourne. Untung ada kamu.” Gurauku.

            “Ah kamu bisa aja.”

Udara dingin semakin menggigit kulitku. Nurul memelukku erat-erat karena kedinginan. Malam ini udara menjadi dingin sekali. Kami saling berangkulan dengan erat sambil menikmati makanan dan minuman yang disajikan oleh hotel malam itu.

“Adi kalau sudah seperti ini aku sebenarnya keberatan kalau berpisah denganmu lagi.”

“Terus bagaimana apakah aku harus pindah ke sini? Nanti aku jadi penggangguran lagi disini”

“Kita pikir sambil berjalan saja lah.”

“Ya begitu saja. Sebab kalau kita pikir-pikir terus, maka salah satu dari kita harus ada yang berkorban.”

“Benar katamu. Mungkin sudah saatnya aku yang berkorban karena selama ini aku sudah banyak mengecewakanmu. Aku akan berusaha bernegosiasi dengan pihak ULCA agar bisa mempercepat masa kontrakku.”

“Tapi sebaiknya kamu pikirkan masak-masak dulu. Aku akan sabar menunggumu enam bulan lagi di Melbourne. Sesuai kesepakatan kita tadi, kita dapat saling mengunjungi selama enam bulan kedepan ini.”

“Mm ya benar pendapatmu.”

Semakin malam angin bertiup semakin kencang. Sekalipun demikian suasana malam itu benar-benar luar biasa. Aku bersama dengan Nurul kembali mengalami hubungan yang termanis selama kurang lebih enam tahun ini. Kehangatan tindakannya, perubahan sikapnya dan ekspresi cintanya benar-benar kurasakan. Jika aku menengok kebelakang ketika masa-masa naik turunnya kehangatan hubungan cinta kami, barangkali saat inilah puncak kehangatan hubungan kami sangat terasa. Dua kali aku menyakiti Nurul karena saat-saat ketika aku sudah kecapaian dalam menanti dia tidak membuat dia berpaling ke laki-laki lain. Bila kurenung-renungkan mengapa kesalahan demi kesalahan kuperbuat maka aku mendapati bahwa sebenarnya kelemahanku ialah karena aku kurang sabar dan kurang tegas dalam menentukan sikapku sendiri. Tapi jika kuingat-ingat nasihat Mira kala itu aku kembali merenungkan mengenai siapa sebenarnya diriku ini. Apakah aku ini lemah dalam menghadapi wanita? Apakah sikapku ini disebabkan masa laluku karena aku terlalu dekat dengan ibuku? Mulai saat ini aku kembali belajar untuk mengubah hidupku sebagaimana juga Nurul yang sudah mulai mengubah hidupnya. Dua tiga tahun yang lalu Nurul tidak seperti ini, dia sangat kaku dan keras dalam bersikap terhadapku meski itu dilandasi rasa cinta. Bagiku seolah-olah aku berhadapan dengan wanita yang tidak mau mengalah sama sekali. Inilah yang membuat aku menjadi keliru dalam bertindak karena sikap-sikap Nurul di masa lalu membuatku menjadi dipenuhi dengan konflik dan keragu-raguan yang pada akhirnya membuat aku tergelincir dalam menjaga impianku. Impian yang kubentuk itu menjadi retak. Untunglah aku tidak jatuh tergeletak sehingga aku dapat bangkit lagi untuk kembali mengejar impian itu.

            What do you think of?” Bisik Nurul ditelingaku

            I am thinking of our future

            Bright future. Isn’t it?

            Yes bright, very bright one.” Jawabku dengan mengangguk-angguk.

Kulihat ada kapal besar menuju ke pantai untuk merapat. Sepertinya kapal akan berlabuh dipelabuhan di dekat sini.

            “Kau lihat kapal itu menuju ke arah sini.”  Kataku padanya

            Yes I see it.”

            “Saya harap kita akan segera seperti kapal itu; merapat dan berlabuh.”

            Sure.” Jawabnya

“Aku ingat nasihat seorang jendral teman ayah yang memberikan wejangan pada anaknya ketika dia menikahkan putri satu-satunya. Waktu itu dia berkata seperti ini: ‘Membangun rumah tangga bagaikan menjalankan sebuah kapal.  Saat kapal sedang berlayar, kita akan sering menghadapi badai yang menggoncangkan kapal tersebut. Sekalipun demikian jangan sekali-kali tinggalkan kapal itu. Terus melaju kedepan meski badai tetap menerjang.’”

“Luar biasa nasihat itu. Pantas untuk diikuti. Oya ngomong-ngomong bagaimana ayah sekarang?” Nurul menanyakan keadaan ayahku

“Beliau masih dalam tugas. Sibuk sekali. Aku kadang kasihan dengan ibu.”

“Iya ya, Ibu sendiri. Aku jadi merasa bersalah. Kalau Momi masih ada Toni dan Tina. Sedang Ibu di Yogya sendiri saja. Ayah jarang berada di rumah. Ah aku jadi ingin segera menengoknya. Kangen juga aku sama beliau.”

Kembali aku tenggelam dalam pikiranku saat aku ingat ibu dan ayahku. Ibuku tinggal sendiri di Yogya hanya dengan ditemani oleh keponakannya. Ayahku sebagai seorang anggota tentara sangat sibuk dengan tugas-tugas negaranya.

            “Kita akan segera berlabuh.” Bisiknya sambil mencium pipiku.

Aku menganggukkan kepalaku dan berkata.

            “Ya kita saat ini sedang merapat ke pelabuhan.”

Nurul menyandarkan kepalanya di pundakku. Wajah yang ayu itu nampak capai sesaat di memejamkan mata tertidur dengan nyenyaknya dipundakku. Kutatap beberapa lama wajah itu nampak sejuk, damai dan nyaman seolah tidak ada beban dalam dirinya.


 

XVII.    Mira Yang setia

Pesawat Quantas membawaku kembali dari Los Angeles International Airport menuju ke Tullamarine, Melbourne. Dalam kesendirian aku tertidur lelap selama di perjalanan. Sampai di Melbourne aku menuju ke apartemenku untuk selanjutnya berbenah karena aku akan segera pindah untuk menempati apartemen Nurul di Southbank supaya apartemen itu terawat dan tidak terbengkelai selama Nurul belum pulang dari Amerika sebagaimana permintaan Nurul padaku. Untunglah barang-barangku tidak begitu banyak sehingga tidak mempersulit kepindahanku ke sana.

            “Hi aku sudah pindah di Southbank.” Aku menelpon Nurul malam itu setelah aku sampai di apartemennya  

            “Syukurlah. Enjoy everything there.”

            Yes thank you.”

            I miss you since you left me.” Tambahnya

            Me too. Hopefully we can meet again soon.”

            Don’t forget call me at least once a week.” Dia mengingatkanku

            Sure. Sure I will.”

 

Waktu terus berjalan dengan pesat. Satu bulan aku berpisah dengan Nurul lagi rasanya ada sesuatu yang kurang dalam hidupku. Saat itu aku sedang berada di depan komputerku. Pada saat-saat aku tidak ada pekerjaan proyek, aku menyalurkan hobiku dengan menulis buku komputer sesuai dengan keahlianku. Mendadak handphoneku berdering dan ketika kuangkat kudengar suara yang sangat kukenal.

            “Mas Adi apa kabar. Ini Mira Mas.”

            “Ya aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kamu?” Jawabku

            “Baik Mas. Aku lagi di Melbourne sekarang. Bisa ketemu Mas?”

            Sejenak aku berpikir  kemudian kataku.

“Mm. kapan ya?”

“Aku sedang riset kepustakaan di RMIT Mas selama satu bulan ini. Jadi terserah Mas kapan senggangnya. Asal tidak mengganggu kegiatan Mas.”

“Kamu sudah mulai melakukan riset untuk disertasimu? Ah cepat amat kuliahmu.”

“Ya atas doamu Mas semua lancar. Aku bisa selesaikan  teori dalam satu semester kemarin.”

“Kamu memang brilian.” Saat mengucapkan kata “brilian” tersebut. Aku menjadi ingat ketika pertama kali aku bertemu dengan Mira di pesawat dari Denpasar ke Sydney beberapa tahun yang lalu. Disitulah awal mula aku kenal dengannya. Perkenalan kami menjadi semakin akrab waktu itu karena kemiripan antara Mira dan Nurul.

“Makasih Mas. Bagaimana kabar Nurul?” Tanyanya.

“Dia sekarang bekerja di Los Angeles, California.”

“Ah jauh sekali. Mengapa dia pindah ke Amerika Mas. Ada masalah lagi kalian?”

“Mmm tidak… dia hanya sementara disana mempersiapkan adiknya yang akan sekolah disana tahun depan.”

You hide something.” Mira mencoba menerka sebab Nurul  pindah ke Los Angeles.

No, No I don’t hide something.”

“Pasti ini karena Ine itu kan Mas? Atau karena Nurul melihat aku lagi saat itu bersamamu di kafe Southbank itu?”

“Nggak tahulah persisnya. Memang sifat dia kan seperti itu.” Belaku

“Benar kan Mas karena Ine  dan aku waktu itu.

“Sudahlah nggak apa-apa kok. Aku sudah ketemu dengan dia sebulan lalu di Los Angeles.”

“Ah jadi Mas sudah menemukan dia lagi?”

“Iya memangnya ada apa?”

“Mmm.. nggak apa-apa.”

“Oya bagaimana kabar tunanganmu?” Aku bertanya pada Mira.

“Putus Mas.” Jawabnya pendek.

“Putus? Apa sebabnya? Bagaimana kok bisa terhjadi?”

It’s a long story. Nanti aku kapan-kapan cerita.”

“Ok kalau begitu bagaimana kalau lusa saja kita ketemu.”

“Lusa ok. Dimana Mas?”

“Di Flinders saja ya. Kamu kan sudah tahu tempatnya. Di restauran kita ketemu dulu. Masih ingat kan?”

“Ya Mas. Kalau begitu sampai ketemu lusa ya?”

“Ok. Thanks.”

Ah Mira ada apa lagi denganmu. Kenapa mendadak dia ingin bertemu denganku lagi pada saat-saat aku mau serius lagi dengan Nurul. Aku menjadi serba sulit kalau seperti ini. Aku kuatir nanti Nurul tahu maka dia tidak akan memaafkan aku lagi. Tapi kalau aku menolak apa kata Mira nanti. Pasti dia akan menganggap aku sombong dan sudah melupakannya sama sekali. Riiing……. Telepon rumah berdering. Cepat-cepat aku mengangkatnya.

            “Adi sedang apa kamu?” Suara Nurul dari telepon yang kuangkat.

            “Biasa di depan komputer lagi nulis.”

“Tadi aku beberapa kali menelpon. Tidak ada yang mengangkat. Saya pikir kamu sedang  di luar. Kucoba menghubungi handphone mu sedang sibuk.”

“Sorry aku tadi dapat telepon dari teman masalah bisnis. Maaf aku tak mendengar tadi. Kau sedang dimana?”

“Aku  sedang dalam perjalanan pulang dari kantor.”

“Kok malam-malam baru pulang. Banyak pekerjaan?”

“Ya, aku tak sendiri kok.”

“Dengan siapa?”

“Diantar John.”

“John?”

“Iya sama John dan Nani juga ada. Kami bertiga.”

“O ya sudah. Jangan terlalu kerja keras. Jangan sampai sakit, kalau kamu sakit aku sedih.”

“Yes, yes. Kamu juga jangan banyak didepan komputer terus. Nanti kaca matamu semakin tebal.” Guraunya melalui telepon.

“Ok. Ok Non.”

“Sudah dulu ya. Have a nice sleep.”

Thanks, you too.”

Rasanya jantungku mau copot ketika mendadak Nurul telepon sesaat setelah Mira menelponku. Ini benar-benar kejadian yang menegangkan. Mengapa mereka menelponku pada saat yang bersamaan. Oh Tuhan apakah ini namanya emotional attachment antara Nurul dan aku?. Apakah ini yang dinamakan kepekaan hati wanita ketika di saat-saat tertentu dia dapat merasakan kontak dengan orang yang dicintainya? Meski jarak ribuan kilometer dia dapat merasakan getaran-getaran  cintanya. Ah anehnya cinta ini.

 

****

 

“Mas lama menungguku. Maaf aku agak terlambat karena tadi bangun kesiangan.” Kata Mira ketika sampai di tempat dimana kami sudah berjanji untuk bertemu.

“Nggak apa-apa aku baru saja datang beberapa menit yang lalu.”

“Masih suka minum jus mangga?” Tanyaku padanya

“Ya masih, Mas masih suka minum jeruk panas.”

“Masih seperti yang dulu” Jawabku. Kami berdua ketawa bersamaan ketika menengok kebiasaan-kebiasaan kami di waktu yang lalu.

“Kamu tidak keberatan kan cerita mengapa kamu putus dengan tunanganmu.” Kataku pada Mira
”Belum ada kecocokan. Ternyata beda budaya menimbulkan banyak perbedaan yang sulit disamakan. Aku kesulitan beradaptasi dengan budaya dan jalan pikirannya. Sebagai orang Aussie asli dia berbeda jauh dengan kita. Tidak hanya budaya dan cara berpikir tetapi juga adat bahkan selera makan. Aku mengalami goncangan budaya Mas.”

“Aku dapat merasakan karena aku lama bergaul dengan orang-orang Aussie semenjak di Indonesia dulu. Memang itulah masalah yang akan kita hadapi jika kita mempunyai calon pasangan hidup yang berbeda kebangsaan.”

“Benar Mas. Aku mencoba menyesuaikan diri tetapi sulit sekali untuk melakukannya. Mungkin karena aku ini orang Jawa yang sejak kecil dibesarkan dalam budaya yang berbeda dengan dia. Aku tidak pernah meninggalkan Yogya kecuali studi di sini. Orang-orang yang pernah dekat dengan aku, termasuk kamu Mas semua orang Jawa. Di lingkungan kerja di Gajdah Mada aku juga bergaul dengan kebanyakan orang Jawa. Jadinya aku susah untuk berubah. Nggak seperti kamu Mas yang sejak lama sudah banyak bergaul dengan orang-orang yang berbeda budaya.”

“Tapi kan kamu bisa berubah secara pelan-pelan. Nanti lama kelamaan pasti kamu bisa.”

“Sudah kucoba Mas. Disamping itu ibuku keberatan kalau aku mendapatkan orang dari sini. Beliau kuatir aku akan tinggal disini selamanya dan jauh dari ayah ibuku.”

“Wuah kalau itu sudah diluar perbedaan yang kita bahas tadi.”

“Aku kan nggak mungkin melawan kemauan mereka karena akulah satu-satunya harapan mereka di masa yang akan datang.”

“Benar juga kamu. Ya sudah kamu masih sangat muda. Kesempatan masih sangat panjang. Cari saja yang lain.”

“Itu yang tidak mudah Mas. Aku makin tambah umur sementara pendidikanku semakin tinggi. Maka pilihan akan semakin sempit.”

Benar juga apa yang dikatakan oleh Mira. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang doktor di bidang sastra Inggris. Tidak mudah mencapainya. Sekalipun demikian Mira akan semakin memasuki masa-masa kritis karena usia akan bertambah. Dengan pendidikan setinggi dia maka lingkungan akan semakin sempit. Pilihan-pilihan akan semakin sempit pula. Mendadak handphone berbunyi. Ah Nurul telepon dari Los Angeles.

            “Adi sedang apa kamu?”

“Ah. Ini…ini sedang rapat dengan teman-teman untuk membicarakan proyek yang sedang kita kerjakan.” Jawabku dengan grogi sambil memberi kode pada Mira untuk tidak bicara.

“Kamu kok seperti sedang sakit.”

“Nggak Cuma aku sedikit kecapaian kemarin kurang tidur. Kamu sehat kan?”

“Ya aku sehat. Aku ganggu sebentar ya.”

What’s wrong?”

“Aku mau minta ijin kamu. Aku akan diajak John ke San Fransisco untuk urusan kantor. Bagaimana pendapatmu?”

“Ke San Fransisco berapa lama?”

“Dua hari. Itu kalau kau ijinkan. Kalau tidak ya aku akan bilang sama dia aku tidak akan ikut.”

“Mm. Kelihatannya aku keberatan kalau kamu hanya berdua dengan dia kecuali dengan teman-temanmu yang lain.”

“Ini soal kantor jadi yang tidak bisa dengan yang lain.”

“Tapi mengapa mesti sama John. Kenapa dia tidak sendiri saja.”

“Jadi bagaimana? Kau ijinkan tidak?”

“Aku keberatan. Kan aku sudah pernah bilang sama kamu. Jangan terlalu dekat dengan dia. Kamu ingat nggak pepatah Jawa yang kuajarkan pada kamu dulu.”

“Mm ya I remember.

“Oya kapan kamu akan Melbourne?”

“Belum tahu karena jadwal kerja padat. Bagaimana kalau bulan depan kamu dulu saja yang kesini. Nanti aku bookingkan tiket pesawatnya dulu dari sini.”

“Ok Aku setuju.”

“Ya sudah  ya. Sorry aku menggangu kerjamu.”

Never mind. I miss you.”

Sesaat aku merasa tegang  sekali. Kuteguk minuman yang kupesan di restauran dimana kami sedang bertemu.

            “Siapa John itu Mas?” Tanya Mira

            “Dia teman sekerja Nurul di kantornya.”

            “Kelihatannya Mas cemburu sama dia.”

“Ah kamu seperti tidak pernah mengalami saja. Bagaimana perasaanmu ketika kamu mendengar tunanganmu akan berpergian ke luar kota hanya berdua dengan wanita lain.”

“Ya pasti cemburu dong.”

“Nah itu kan. Nurul pasti akan marah kalau dia tahu aku sedang ketemu dengan kamu meski kita hanya ngobrol seperti ini.”

“Kalau begitu maafkan aku ya Mas aku masih suka mengganggumu saja.”

“Ah sudahlah tidak apa-apa. Kamu kan sudah kuanggap adikku sendiri. Kalau kamu punya masalah itu kan masalahku juga.”

Kulihat wajah Mira memerah dan matanya yang sayu menatapku. Lalu katanya.

            “Kau amat baik Mas padaku.”

            “Karena kamu juga sangat baik dan pengertian padaku.” Jawabku sambil menatapnya. Sekilas gesekan-gesekan cinta terasa berdesir di hatiku. Ah Mira kau taramat baik padaku. Sebenarnya hanya dia lah yang sangat paham tentang diriku sampai saat ini. Hanya saja aku tetap tidak mampu mencintai Mira secara penuh di waktu-waktu yang lalu karena Mira hanya baying-bayang Nurul dalam hidupku.

“Kau melamunkan apa Mas? Tak usah kuatir dengan Nurul dia kan sudah dewasa. Pasti dia bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak. Apa yang dilakukan oleh Nurul ketika dia meminta ijin padamu sudah menjadi bukti bahwa dia setia dan patuh denganmu”

“Bukan itu yang kupikirkan. Aku memikirkanmu.”

Kembali wajah Mira memerah dan kulihat matanya sedikit berkaca-kaca. Katanya.

                        “Aku Mas? Mengapa Mas memikirkan aku?”

                        “Tidak tahu lah aku sedih melihat kamu.”

“Lho kenapa sedih Mas. Aku tidak apa-apa kok. Nanti kan masalah itu akan selesai sendiri.”

“Ya benar katamu. Seperti juga kamu. Aku punya masalah.”

“Benar Mas namanya orang hidup pasti ada saja masalah. Oya ngomong-ngomong Nurul akan kembali ke Melbourne kapan?”

“Rencananya dalam waktu dekat ini. Kira-kira lima bulan lagi setelah masa kontrak kerjanya habis.”

Sebersit kekecewaan kulihat di wajah Mira. Aku tak tahu  apa sebabnya.

                        “Apa rencana Mas kemudian?” Lanjut pembicaraan kami.

                        “Kami akan menetap di Melbourne.” Jawabku dengan hati.hati

            “Syukurlah kalau kalian akhirnya bisa bersatu.” Mira berkata dengan nada yang galau. Aku menangkap adanya kekecewaan dalam nada bicaranya. Mata Mira yang sayu menjadi semakin sayu. Rasa kesedihan itu tercermin dalam tatapan matanya kepadaku.

            “Jadi sudah tidak ada tempat lagi untukku ya Mas?”

“Mira jangan berkata begitu. Aku tetap seperti dulu. Aku tidak berubah padamu. Kamu tetap singgah dihatiku. Hubungan cinta kan tidak harus berakhir dengan pernikahan kan?”

Dia menggelengkan kepalanya sambil mengusap beberapa titik air mata yang mulai keluar. Rasanya pisau tajam itu menyayat hatiku. Terasa pedih sekali saat itu. Jika memungkinkan ada keajaiban ingin rasanya aku bisa membagi diriku menjadi dua orang. Satu akan kuberikan untuk Nurul dan lainnya untuk Mira. Tetapi itu hanya impian semu. Aku  menghadapi persoalan yang tidak dapat diselesaikan jika aku menuruti emosi hatiku.

            “Mira jangan sedih. Aku jadi ikut sedih. Kau tahu siapa aku kan?”

            “Ya.” Jawabnya pendek sambil mengangguk.

“Cintaku padamu lebih dari cinta seorang lelaki terhadap wanita. kau sudah menjadi bagian dalam hidupku. Kamu sudah menyumbangkan banyak hal dalam hidupku. Kamu membantuku banyak pada saat-saat aku kehilangan jati diriku di masa lalu karena sikap Nurul waktu itu. Tanpa kehadiranmu saat itu, mungkin aku sudah hancur karena depresi memikirkan Nurul. Kau tak ubahnya dewi penolongku. Dirimu sangat berharga di hatiku”

“Ya Mas terima kasih sekali atas semua pengakuanmu. Aku sadar cinta tidak harus selalu berakhir dalam pernikahan. Aku pasti bisa melalui semua ini.”

“Pasti kamu bisa. Kamu bukan  wanita sembarangan. Kamu orang terpilih. Pria yang menyuntingmu akan sangat beruntung sekali.”

Pelahan wajah Mira kembali berseri, senyum indah mulai menghias bibirnya yang mungil. Keaslian sifat periangnya mulai muncul kembali. Sambil tersenyum dia berkata.

            “Mas kalau menurutmu aku ini bagaimana sih?”

“Kamu. Kamu seorang wanita yang cantik, berhati mulia, berbudi luhur dan berpendidikan tinggi.”

Thanks Mas. Pendapatmu membuat aku semakin percaya diri lagi.”

“Oya satu lagi.”

“Apa itu Mas?”

“Kau akan membuat pria tergila-gila padamu jika kamu sedang tersenyum.”

“Ah Mas bisa saja.”

“Benar. Aku tidak bohong. Buktinya aku juga tergila-gila padamu kan”

“Ah Mas itu kan dulu. Sekarang kan nggak lagi.”

“Eh itu ada yang lain lagi kan. Temanmu di Sydney itu.”

“Ya, ya nanti juga akan ada yang lain lagi yang tergila-gila padaku.” Kata Mira dengan senyum-senyum.

“Benar nggak lama lagi. Banyak pria-pria yang mencari wanita seperti kamu. Kamu idaman setiap pria yang mendambakan istri yang baik.”

“Sudah ah Mas nanti kepalaku menjadi semakin besar saja. Oya Mas pesanku cepat-cepat ajak Nurul kembali ke sini aku kuatir kalau kalian terlalu lama berpisah lagi nanti ada saja masalah yang muncul”

Perkataan Mira mengingatkan aku pada John yang menjadi teman sekerja Nurul di Los Angeles. Pujian-pujian Nurul terhadap sikap dan kepribadian John waktu itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Kemudian telepon Nurul kemarin dia pulang bersama John dan tadi dia meminta ijin akan pergi bersamanya membuat aku perlu memperhatikan nasihat Mira saat ini.

“Yah semoga semua berjalan lancar. Itu harapanku. Sekalipun demikian aku  sekarang menyadari jodoh ada ditangan Tuhan. Kita hanya sekedar menjalani. Aku memilih tetapi Tuhan yang menentukan. Dan Jika Dia yang menentukan pasti tidak pernah keliru. Benar kan?”

            Mira menganggukkan kepalanya.

“Oya selama kamu masih di Melbourne untuk risetmu. Kapan saja kamu ingin ketemu dengan saya. Just call me. Sekarang aku tinggal di Southbank. Di apartemennya Nurul atas permintaannya.”

“Kalau begitu mudah kemana-mana ya Mas.”

“Ya, tak usah sungkan-sungkan aku siap membantu menyelesaikan risetmu.”

“Terima kasih Mas. Asal jangan tahu mbak Nurul saja. Nanti dia marah padamu.”

“Mm aku bisa terangkan status hubungan kita sekarang. Jadi nggak usah kuatir dia akan mengerti kok.”

Pembicaraan kami berlanjut mengenai riset Mira untuk disertasinya yang akan segera ditulisnya.

“Mengapa kamu memilih di Melbourne risetnya. Kan jika dilakukan di Sydney akan menjadi lebih efektif.” Tanyaku padanya.

“Itu atas usul pembimbing lagi pula aku ingin tahu banyak tentang Melbourne juga. Dan tentunya aku bisa minta bantuan Mas kalau  ada kesulitan”

“Benar juga alasanmu.”

 

 

 

           

 

                       

 

 

 

 

 

 

           

 

 

 


 

XVIII. Dunia Ine

Keramaian pusat kota  Melbourne atau yang dikenal sebagai CBD menjadi bagian kehidupanku. Detak-detak kesibukan penduduk Melbourne seolah tidak pernah berhenti. Kota ini sepertinya tidak pernah tidur walau hanya dalam sekejap saja. Kota ini membawa banyak kenangan dalam kehidupanku selama ini. Di kota ini pulalah aku dibesarkan dalam pendidikanku setelah aku berpindah dari Wolongong Sydney beberapa tahun yang lalu. Diantara kenangan yang masih membekas dalam hidupku ialah perkenalanku dengan Ine semasa aku kembali ke Melbourne lagi untuk yang kedua kali dalam usahaku mencoba membujuk Nurul pulang ke Indonesia dan nikah denganku. Tidak disangka – sangka setelah aku berpisah dengan Ine, kali ini Melbourne mempertemukan kami kembali. Kejadian ini berawal ketika Ine memberitahuku bahwa dia sudah kembali di Melbourne lagi untuk melanjutkan studinya lagi ke jenjang S3 setelah menyelesaikan studi S2 nya lebih dari satu tahun yang lalu.

            “Kaget kan akhirnya  aku kembali ke Melbourne lagi.” Katanya padaku melalui telepon.

“Mm ya aku kaget. Habis sudah lebih dari satu tahun  kamu tidak pernah muncul bahkan telepon pun tidak.” Jawabku

“Maafkan Ine Kak. Ine tidak bisa melawan kehendak keluarga. Aku sudah mengecewakan Kak Adi.”

“Bukankah aku sudah merelakan kamu memilih Steven waktu itu”

“Bukan itu. Beri aku kesempatan untuk menerangkan semua. Aku ingin ketemu Kak Adi. Bisa kan?”

“Terserah kamu. Aku ada di apartemen Southbank. Kau masih ingat kan letaknya.”

“Kan disitu ada Nurul, bagaimana dia nanti?”

“Nggak ada. Dia masih berada di Los Angeles dan baru akan pulang beberapa bulan lagi.”

“Kak Adi kelihatannya kok masih marah denganku.”

“Tidak. Aku tidak pernah marah dengan mu. Aku mengerti perasaanmu waktu itu. Barangkali apa yang kamu lakukan itu sama dengan apa yang kulakukan terhadapmu. Kita sama-sama dalam keadaan yang mirip waktu itu. Kau jauh dari Steven dan aku sedang mempunyai masalah dengan Nurul. Kita sama-sama memerlukan seseorang yang mau mendengarkan keluhan-keluhan kita waktu itu.”

“Kak maaf, bagaimana kalau pembicaraan dilanjutkan nanti kalau aku sudah sampai dirumahmu?”

“Ya ok. Kamu bisa datang sekarang ke saya. Kebetulan aku hari ini tidak ada acara keluar rumah.”

Selang beberapa saat kudengar suara taksi berhenti didepan apartemen. Seorang wanita muda dengan potongan rambut yang pendek menggunakan celana jean dan kaos ketat turun dari taksi tersebut kemudian menuju ke rumahku. Ine rupanya yang datang. 

            “Boleh aku masuk?” Sapanya di depan pintu saat aku menjemputnya.

            “Silahkan.”

            “Kak Adi kenapa sekarang menjadi kurus.”

“Ah biasa saja. Kamu semakin cantik saja. Kelihatannya masih seperti dulu, tidak berubah walau sudah lebih setahun kita tak bertemu.”

“Yang benar saja aku kan tambah umur tambah tua.” Jawabnya masih dengan gaya yang manja seperti dulu.

“Tidak rasanya kau tidak berubah sama sekali. Kamu masih sama dengan saat aku bertemu pertama kali denganmu.”

“Oya thanks kalau begitu.”

“Kapan kamu tiba?” Lanjutku

“Satu minggu yang lalu. Kak Adi lah orang pertama yang kuhubungi disini setibaku di Melbourne.”

Thanks kau masih ingat aku.”

“Jangan berkata begitu aku jadi malu. Aku selalu ingat padamu selama ini walau aku dekat dengan Steven.”

“Benar itu?”

“Kenapa aku mesti bohong padamu. Aku merasakan sekali kehilangan Kak Adi setelah kepulangan Kak Adi waktu datang ke Menado kala itu.”

Jawaban Ine membuatku kecewa benar dengan sikapnya selama ini. Kala itu Ine kukira serius denganku sehingga aku sudah hampir memutuskan untuk meninggalkan Nurul tetapi kenyataannya Ine hanya mengisi kekosongan hatinya saat berada di Melbourne sementara kekasihnya berada di Menado.

            Lama aku berdiam diri sampai saat ketika telepon rumah berdering. Kudengar suara Nurul dari gagang telepon.

            “Adi sorry to disturb you.”

            What’s wrong, what can I do for you?”

            I need your permission.”

            “Kamu mau kemana?”

            “Kita akan melakukan riset di San Fransisco tugas dari institusi.”

            What do you mean by “kita”?

“Aku, John dan Nani. Kami bertiga akan riset di San Fransisco dalam waktu beberapa hari. Do you mind allowing me to join that?”

Wait a minute. For how long?”

Five days only.”

“Mengapa lama sekali? Oya tapi kalian bertiga kan?”

“Ya kami bertiga. Kebetulan kami kan dalam satu bagian.”

“Ok kali ini aku tidak keberatan, tapi pesanku hati-hati dan jangan lupa dengan apa yang pernah kukatakan padamu dulu.”

Yes I always keep that in my mind.”

Have a nice trip. Next month I’ll visit you.”

I am happy to hear that.”

 

Kulihat ekspresi Ine yang cemberut ketika mendengarkan percakapanku dengan Nurul melalui telepon tadi. Lalu katanya.

“Kak Adi juga membohongiku kan. Katanya mau memutuskan hubungan dengan Nurul. Kenyataannya kalian masih saling berhubungan.”

“Sulit aku menjawabnya Ine. Aku sendiri kadang bingung dengan diriku sendiri. Kalau aku mau jujur aku berharap banyak padamu saat itu sehingga aku bisa menyelesaikan masalahku dengan Nurul. Tetapi ternyata praktiknya tidak semudah yang kubayangkan. Aku kesulitan melakukan hal tersebut.”

“Berarti apa yang kukatakan padamu saat itu benar kan. Kak Adi cinta Nurul bukan Ine. Ine hanya bayang-bayang Nurul.”

“Apakah aku juga bayang-bayang  Steven?” Aku tidak menjawab pertanyaan Ine melainkan mengembalikan masalah yang sama yang kami hadapi.

“Mungkin. Sekalipun demikian Kak Adi lebih istimewa di hatiku.”

“Apa istimewanya? Aku kan biasa-biasa saja.”

“Nggak tahulah, pokoknya Kak Adi tersimpan di hatiku secara istimewa. Sebenarnya bagaimana sih sikap  Kak Adi terhadapku?”

“Jujur ya Ne aku menyukaimu. Bukankah waktu itu aku katakana bahwa aku mau serius denganmu. Semua jadi buyar karena kamu pulang ke Menado dan kembali bersama Steven.”

“Sebenarnya itu bagian dari pengujian apakah Kak Adi serius denganku atau tidak. Atau aku sekedar bayang-bayang Nurul.”

Entah kata-kata Ine ini benar atau tidak aku tidak tahu secara persis. Namun melihat sikapnya selama ini, mungkin Ine benar. Sikap Ine selama ini menunjukkan bukti dia juga menyukaiku. Memang sulit menginterpretasi apakah suka identik dengan cinta. Begitu pula perasaanku kepadanya. Apakah aku menyukai Ine hanya karena dia cantik dan kombinasi antara Nurul dan Mira ? Ataukah karena munculnya krisis lagi dalam hubunganku dengan Nurul?

            “Sekarang semua jadi membingungkan.” Tambahnya

“Ya aku juga bingung. Kamu tahu nggak mengapa Nurul pergi ke Los Angeles meninggalkanku? Itu semua karena salahku.”

“Karena Ine juga kan.”

“Ya begitulah. Aku yang paling salah.”

“Nasi sudah menjadi bubur. Kita tidak bisa kembali lagi ke masa lalu. Mengapa kita tidak melihat saja hal-hal kedepan yang dapat kita lakukan lagi.”

“Maksudmu?”

“Kita dapat memulai lagi apa yang selama ini sudah kita rintis.” Katanya sambil menatapku.

Mata Ine yang indah, bibir yang mungil, sikap yang terus terang membuat aku menjadi gelisah dan resah.

            “Aku belum bisa menjawab saat ini. Aku sedang dalam ujian.”

“Kak Adi masih saja tetap mengharapkan Nurul. Sementara dia saat ini berada jauh darimu. Kamu sudah mengorbankan dirimu sendiri dalam ketidak pastian, mengorbankan Mira sehingga dia patah hati, dan memberikan harapan-harapan palsu padaku.”

Kata-kata Ine yang pedas sesaat menyengat hatiku. Kata-kata ini belum pernah muncul dari Nurul maupun dari Mira selama ini terhadapku. Namun jika kurenungkan memang benar penilaian Ine kepadaku. Akibat keragu-raguanku aku sudah banyak melibatkan orang lain dalam masalahku, bahkan aku menyakiti hati mereka. Ine melanjutkan pembicaraannya.

“Aku kembali kesini tidak semata-mata mau kuliah dan mencari pekerjaan saja,  tetapi lebih dari itu aku berharap kita bisa ketemu dan memulai lagi hubungan kita seperti di masa lalu”

“Bagaimana dengan Steven?” Tanyaku padanya.

“Aku sudah menyelesaikan masalahku dengan dia.”

“Tapi kenapa selama ini kamu tidak berkomunikasi denganku.”

“Kak Adi masalah cinta tidak hanya masalah logika yang begitu mudah kita putuskan. Masalah cinta menyangkut masalah emosi, perasaan dan hati. Untuk menyelesaikan memerlukan waktu yang lama. Bukankah kamu juga mengalami selamai ini. Kak Adi sudah diterlantarkan oleh Nurul namun selama ini masih juga tidak dapat menyelesaikan.”

Ine memberikan pukulan telak kepadaku. Aku menjadi malu dengan Ine. Semua fakta yang dia beberkan semua benar. Aku juga mengalami seperti yang ia alami. Dan sampai saat ini aku belum dapat menuntaskan masalahku dengan Nurul yang masih terkatung-katung sampai Nurul memastikan kepulangannya ke Melbourne nanti.

“Kau menambah kesulitanku saja Ine. Aku sudah membuat kesepakatan dengan Nurul bawah saat dia kembali dari Los Angeles kami akan nikah. Aku sudah memberikan komitmenku.”

“Tapi kan dia masih berada di Los Angeles sampai kapan kan Kak Adi belum dapat memastikan kepulangannya.”

“Dia berjanji akan kembali dalam waktu dekat ini setelah dia selesai kontrak kerjanya dengan UCLA.”

“Bukankah di masa lalu Nurul sering berjanji dengan Kak Adi dan selalu mengingkarinya.?”

“Tidak selalu. Dia menunda-nunda pernikahan kami karena dia ingin meraih cita-citanya sebagai seorang wanita karier. Dia belum siap untuk beralih tugas dari seorang yang bebas menjadi seroang istri.”

“Ya benar itu alasannya tapi kalian sudah berpacaran lebih dari lima tahun. Itu waktu yang lama.”

“Lama atau tidak itu sangat relatif. Aku juga berpikir seperti kamu semula. Tetapi Nurul ternyata mempunyai pandangan yang berbeda denganku.”

“Apa pandangannya mengenai waktu yang selama ini?” Desaknya padaku.

“Aku masih harus sabar. Karena hanya kesabaran yang  akan membuat penantianku selesai.”

“Sampai kapan Kak Adi harus bersabar?” Pertanyaan yang sama yang pernah dilontarkan padaku oleh Mira beberapa tahun yang lalu.

“Tiga bulan lagi Nurul akan kembali kesini.”

“Jika dia tidak kembali seperti kejadian-kejadian yang lalu. Apa yang akan kau putuskan?”

“Aku akan melamarmu.”  Kataku dengan pasti

“Kenapa Kak Adi memilihku; kenapa tidak memilih Mira?”

“Kalau aku memilih Mira aku akan sangat menyakiti Nurul. Itu tidak kuinginkan. Walau bagaimanapun juga aku tidak boleh melukainya. Karena selama ini dalam suka duka hubungan kami dia sangat baik kepadaku. Banyak hal yang sudah dikorbankan untukku.”

“Termasuk apartemen ini?” Komentar Ine dengan nada datar.

“Cintaku kepada Nurul bukan karena kekayaannya. Kalau Nurul berasal dari keluarga kaya itu hanya kebetulan saja.”

“Ya tapi dia dapat membeli kamu.”

“Jangan berkata seperti itu. Nurul tidak pernah berniat seperti itu. Aku tahu dia.”

“Alangkah enaknya Nurul. Apa yang dilakukan selalu benar. Kau selalu membelanya.”

“Aku juga akan membelamu dan membela Mira. Jika Nurul melakukan hal-hal yang tidak baik terhadap kalian. Sudahlah bagaimana kalau kita bicara yang lain saja. Bagaimana rencana kelanjutan kuliahmu?”

“Lancar. Semua lancar. Aku sudah mulai belajar dalam bulan ini.”

“Belajarlah yang tekun agar kamu cepat selesai.”

“Doa mu selalu Kak.”

“Ya aku akan selalu mendoakanmu. Kapan kamu perlu bantuanku telepon saja. Aku akan menolongmu.”

“Terima kasih. Kak Adi mau antar aku pulang kan?”

            Aku mengangguk kemudian mengantarnya pulang ke tempat tinggal Ine.

 

 

 

           

XIX.       Gelombang Cinta di Los Angeles

Kunjunganku yang kedua kali ini ke Los Angeles dalam rangka menepati janjiku untuk menengok Nurul  yang menginginkan aku sering menghubunginya untuk menjaga keharmonisan hubungan kami meski kami berada di tempat yang berbeda yang dipisahkan dengan jarak ribuan kilometer.

“Adi sorry I cannot pick you up today. Will you take a taxi by yourself. I have got to finish the work right now.” Kata Nurul saat kutelpon dari Bandara LAX di Los Angeles

It’s ok I can take a taxi coming to your house. Will you come late?”

No, no. I don’t want you to wait for me.”

Good, where did you hide the key?”

I’ll send it while you are at your way to the house.”

Thanks.”

 

Siang itu aku sampai di rumah Nurul dengan badan yang capai. Sampai di rumah kulihat ada seorang laki-laki yang menungguku. Katanya.

            This is the key’house from Miss Nurul.”

            Thank you very much.” Jawabku sambil menerima kunci rumah Nurul.

Cuaca hari ini dingin sekali. Kuhempaskan tubuhku ke kamar Nurul karena rasa kantuk yang menyerangku dengan dahsyat sekali. Entah berapa lama aku tertidur di kamarnya. Aku terbangun ketika bell berbunyi terus menerus.

            “Maaf aku tertidur kecapaian.” Kataku ketika membukakan pintu Nurul.

            “It’s ok. Kamu sudah makan.” Kata Nurul sambil mengecup pipiku.

            “Belum.”

            “Aku pesankan dulu ya?”

            “Sudahlah nanti saja. Kamu istirahat dulu.”

            “Bagaimana kalau kita makan di luar saja. Setelah aku selesai mandi ” Nurul berkata kepadaku.

            “Ok aku setuju.”

           

            Malam itu kami makan bersama di restoran di daerah Beverly Hills.

                        “Rumah makan ini sering kukunjungi.” Kata Nurul padaku.

                        “Oya, berapa kali kamu kunjungi rumah makan ini?”

                        “Sering, kadang aku sendiri kadang dengan John.”

Ketika dia sebut nama John, hatiku terasa mulai panas. Namun kucoba untuk tetap tenang dan mengendalikan diri.

            “Enak ya masakan disini.” Komentarku mengalihkan pembicaraan.

            “Ya aku suka masakan disini.”

“Tidak terpikir olehmu dirumah ada pembantu rumah tangga sehingga kamu bisa lebih irit.”

“Belum terpikirkan. Oya besok aku ada acara dinas ke luar kota dua hari. Kamu tak apa-apa kan  kutinggal sendiri. Sepulang itu aku ingin ajak kamu ke Long Beach lagi. Aku ingin santai denganmu.”

“Mm ok. Boleh aku tahu kamu sendiri atau dengan teman-temanmu.”

“Dengan teman-temanku, diantarnya John.”

“Yah kamu hati-hati saja ya. Aku mulai kuatir denganmu.”

“Soal John?”

            Aku mengangguk.

“Jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku bisa jaga jarak dengan dia. Dia tahu kok kalau aku sudah punya kekasih bahkan dia tahu kamu. Kutunjukkan fotomu padanya.”

“Bagaimana reaksinya?”

“Suatu saat dia ingin kenal denganmu.”

“Terserah kamu. Kamu atur saja.”

Kecurigaan itu mengendur kala Nurul menerangkan tentang maksud John temannya kepadaku. Tetapi sebagai laki-laki aku mempunyai insting tersendiri dari berbagai pembicaraan yang sudah-sudah nampak John menyukai Nurul entah dia tahu atau tidak.

            “Bagaimana kalau dia menyukaimu?” Pancingku.

            “Ah itu hak dia. Yang penting aku tidak sejauh itu .”

            “Kuharap kau hati-hati mengingat budaya kita berbeda dengannya.”

            Don’t worry. I keep in my mind your warning.”

            “Oya, kamu pasti pulang kan dalam waktu tiga bulan ini?’

            Sure. I sudah tidak sabar lagi menunggu waktunya.”

            And so do I. The faster the better.” Kataku

“Aku siapkan dulu apartemenmu. Sampai saat ini masih acak-acakan sejak kau tinggal dulu aku tak berani mengubah posisi barang-barangmu.”

“Biar saja begitu. Oya kau baca buku harianku ya?” Nurul bertanya padaku dengan malu-malu.

“Mm ya. Maaf aku tak sengaja menemukannya. Kau tidak marah kan?”

Ia menggelengkan kepalanya sambil melanjutkan pembicaraannya.

“Kenapa aku harus marah. Kan kamu bukan orang lain bagiku. Selain itu tak usah kau baca buku itu, kau sudah tahu perasaanku. Benar kan?”

“Benar.” Jawabku dengan tersenyum.

 

                                    ****

Di tinggal dua hari oleh Nurul sendiri di rumahnya benar-benar membosankan. Aku sebenarnya keberatan dengan kepergiannya sekalipun demikian karena masalah dinas ya kurelakan kepergian Nurul. Untuk mengisi masa menunggu tersebut aku meluangkan waktu jalan-jalan di daerah Beverly Hills yang merupakan tempat yang terkenal di wilayah ini. Tak enak rasanya kalau aku menunggu hanya diam di rumah saja. Nurul sudah menunjukkan nama-nama lokasi yang enak untuk dikunjungi.

            “Hi Kak Adi jadi ke L.A. kamu?” Suara Ine melalui telepon genggamnya.

“Hi Ine, ya saat ini aku sedang di Beverly Hills salah satu bagian dari kota Los Angeles.”

“Wuah aku jadi pengin pergi kesana juga.’

“Ya nanti kan kamu juga bisa sampai kesini akhirnya.”

“Bagaimana kabar Nurul?”

“Baik. Dia sedang dinas keluar kota selama dua hari dengan koleganya.’

“Wuah kasihan Kak Adi sendirian dong disana.’

“Ya, maka aku jalan-jalan sambil menghabiskan waktu.”

“Dengan siapa saja Nurul pergi?”

“Persisnya nggak tahu, tapi ada juga John teman kerjanya itu.”

“Kak Adi percaya begitu saja dengan omongannya. Jangan-jangan kamu dibohongi. Bagaimana kalau mereka hanya berdua dan bukan untuk kepentingan dinas?” Sesaat aku terkejut mendengar kata-kata Ine. Kemudian jawabku.

“Ah tak mungkin Nurul membohongiku.”

“Kak Adi harus cek benar atau tidaknya. Jangan hanya percaya saja.”

Benar apa kata Ine mengapa aku begitu saja percaya pada Nurul. Ah aku harus segera mengeceknya. Tetapi ada pula perasaan curiga terhadap Ine. Jangan-jangan dia sengaja memanas-manasi aku sehingga aku cemburu dan marah terhadap Nurul. Antara ya dan tidak saat itu perasaanku menjadi gelisah setelah menerima telepon Ine. Karena kegelisahan terus ada dalam hatiku, maka akhirnya kuberanikan untuk telepon Nurul. Sekali aku menelpon handphonenya tidak ada jawaban sama sekali. Sekali lagi kucoba untuk menghubunginya.

            “Nurul Speaking. Adi ada apa?”

            Excuse me to disturb you.”

            What’s wrong Adi?”

“Dengan siapa saja kamu pergi?” Sesaat tidak ada jawaban. Baru setelah beberapa detik, terdengar suara Nurul.

“Ada masalah Adi beberapa orang batal jadi kami hanya berdua saja.”

“Dengan siapa?” Kataku menahan emosi.

“Dengan John saja.”

“Dengan dia saja. Itu tidak baik Nurul. Aku tidak mau kamu seperti itu.” Kataku dengan tegas.

But this official trip not private one.” Bantahnya

“Ya tapi aku tidak setuju. Kalau memang begitu malam ini kamu harus pulang kalau tidak aku yang akan menyusulmu.”

“Adi kenapa kamu tidak mempercayaiku.” Nurul berkata dengan sedikit emosi.

“Bukan tidak percaya, tetapi aku melindungi kekasihku dari hal-hal yang tidak diinginkan.” Jawabku mencoba memberikan pengertian kepadanya.

“Adi please don’t make me  embarrassed.”

“No, aku tidak sedang mempermalukan kamu. Sudah beberapa kali aku amati ada sesuatu yang salah dalam hubungan kerja kalian. Aku mencoba mengerti tetapi ini tidak boleh keterusan. Kamu secara tidak sadar masuk dalam perangkapnya. Aku tidak rela itu. So please understand me, I will not mislead you.”

“Ok. Ok aku nanti kabari kamu lagi. Kucoba memberikan pengertian pada John agar kami tidak menginap dan langsung  pulang sesudah semua pekerjaan beres.” Jawabnya sambil langsung mematikan telponnya.

Aku tahu Nurul marah dengan sikapku kali ini. Tapi biarlah aku menanggung segala resiko yang akan terjadi. Lebih baik saat ini aku menghadapi yang pahit daripada nanti-nanti masalah demi masalah muncul lagi dalam hubunganku yang sudah membaik dengan Nurul akhir-akhir ini.

 

Setelah kejadian tadi aku langsung kembali ke rumah Nurul sambil menanti bagaimana reaksi atas sikapku tadi terhadap ketidaksetujuanku dengan apa yang sedang dilakukannya. Tidak ada telepon yang masuk ke handphone maupun telepon rumah sepanjang sore ini. Hari sudah menjelang malam. Aku akan bersiap-siap menyusul Nurul jika dalam waktu satu jam kedepan ini dia tidak kembali ke rumah. Dengan berbekal nomor handphone dan informasi dari Nani sahabatnya aku akan melacak keberadaan mereka berdua. Saat aku hendak bersiap-siap berangkat, kudengar suara mobil memasuki halaman rumah. Kulihat taksi berhenti dan Nurul keluar dari taksi sambil menjinjing tasnya. Cepat-cepat aku keluar menjemputnya dan mengambil tasnya.

            “Aku bawakan tasnya.” Dia hanya diam dan membiarkan tas kubawa masuk ke rumah.

“Maafkan aku. Apa yang kulakukan demi kebaikan kamu. Ada kalanya kita khilaf dan kemudian melakukan hal-hal yang sebenarnya bukan kemauan kita. Jika itu terjadi, maka penyesalan tidak akan bermanfaat”

Do you think I am such a stupid person?”  Jawabnya dengan nada ketus.

“No, aku tidak bermaksud demikian. Akupun bisa bertindak sebodoh itu. Bahkan aku pernah melakukan. Kau tahu itu kan?”

“Ya itu kamu. Aku tidak seperti kamu. Hubunganku dengan John hanya sebatas persahabatan saja.”

“Benar aku percaya. Aku tidak berpikir negatif terhadap dirimu. Yang kupikirkan ialah jika kamu khilaf. John tidak akan rugi apa-apa. Kamu yang rugi.”

Nurul berdiam kemungkinan dia sedang memikirkan kata-kataku tadi. Aku percaya Nurul sudah berubah. Jika ini kejadian ini terjadi beberapa tahun lalu, kemungkinan besar dia akan marah besar denganku.

“Mungkin kamu benar, tetapi caramu itu yang aku tidak suka.” Sesaat setelah diam sejenak dia menjawab.

“Ok aku memang salah tadi dalam memperingatkanmu. Seharusnya aku tidak sekasar tadi. Maafkan aku.”

“Semudah itu kata maaf keluar dari mulutmu. Kau tidak sadar apa yang kau lakukan sudah mempermalukan aku dihadapan John dan di kantor. Besok aku akan menjadi bahan perbincangan dan ketawaan orang-orang di kantor. Kau pikirkan tidak akibat dari tindakanmu tadi.”

“Aku kira tidak akan sejauh itu akibatnya.”

“Kamu bicara enak saja. Aku yang akan menghadapi mereka bukan kamu.” Katanya dengan teriak.

Aku tidak memberikan reaksi apa-apa ketika kemarahan Nurul semakin memuncak.

“Kau kira kamu itu siapa bisa mengaturku semaumu. Aku mempunyai prinsip-prinsip yang harus kupertahankan dan kujalankan demi kebaikanku sendiri bukan demi orang lain.”

Perkataannya sudah keterlaluan, sekalipun demikian aku tetap diam dan menahan diri untuk tidak merespon kemarahan dengan kemarahan.

“Aku ini baru pacarmu belum jadi istrimu. Kamu tidak bisa seenaknya mengatur-aturku untuk kepentinganmu sendiri.” Lanjutnya

“Aku heran dengan kamu. Kau ini seorang doktor tetapi pikiranmu dangkal. Berapa tahun kita sudah bersama. Berapa kali kau menyakiti hatiku. Bahkan saat ini aku tahu kau masih berhubungan dengan Mira dan dengan Ine. Aku pura-pura tak tahu itu. Kau sekarang malah memojokkan aku dan mengambil kesimpulan yang keliru mengenai hubunganku dengan John.”

“Aku tidak memojokkan kamu. Yang kulakukan hanya sekedar mengingatkan kamu. Kamu suka dengan John ingat itu kamu pernah katakana padaku. Jangan lupa suka dapat menjadi jembatan ke arah jatuh cinta.”

“Aku bukan seperti dirimu yang mudah terpikat dengan kecantikan wanita. Aku suka dia hanya sebatas suka sebagai sahabat. Sekalipun demikian jika aku jatuh cinta padanya itu hakku. Kamu tidak bisa melarangku.”

Terasa panas sekali telingaku mendengar ucapannya itu. Aku mencoba untuk tetap tenang. Kemudian kataku.

“Aku ini kekasihmu. Kamu tidak bisa semaumu sendiri lagi seperti dulu-dulu. Selama ini aku mengalah terus kepadamu. Adakalanya kesabaran itu habis.”

“Apa kau kira aku juga tidak mengalah selama ini padamu. Apa susahnya aku cari yang lain pengganti kamu.” Jawabnya dengan nada meninggi.

“Bagaimana dengan komitmen kita yang sudah kita buat di Long Beach.’

Kuingatkan komitmennya terhadapku kala kami berada di Long Beach. Nurul kelihatan seperti kebingungan mencari jawabannya. Beberapa menit lamanya dia hanya terdiam saja. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Ia menundukkan kepalanya. Kemudian katanya

            “Aku pusing. Aku mau tidur.” Lalu dia beranjak menuju ke kamarnya. Ditutupnya pintu kamar dengan keras  sekali. Aku duduk sendiri di sofa ruang tamu sambil terus merenungkan apa yang sedang terjadi saat ini. Gelombang-gelombang kembali menghantam perahu kami yang sedang bersiap-siap mau menepi. Belum lama ini kami berlayar di laut yang tenang sehingga kami merasakan kenikmatan dalam cinta kami. Kesepakatan- kesepakatan yang indah sudah kami buat. Kami akan segera berlabuh di pantai. Namun kali ini gelombang kembali menggoyang kapal kami dan melemparkan ke tengah lautan lagi.

            Malam itu aku tidak dapat memejamkan mata sejenakpun. Aku mencoba mencari kata-kata ataupun cara-cara yang tepat untuk meredakan kemarahan Nurul. Dalam hati kecilku aku menyesal juga sudah membuat suasana menjadi keruh. Sekalipun demikian sudah saatnya aku harus bersikap tegas karena aku sudah mendekati dalam meraih mimpi yang selama ini kukejar dengan tidak pernah putus asa. Impian itu tidak boleh retak lagi. Jika impian itu retak, maka sia-sialah perjuanganku selama ini. Impian besar memerlukan perjuangan dan pengorbanan besar. Bagaikan sebuah peperangan yang sedang berlangsung. Jika seseorang ingin meraih kemenangan besar, maka peperangan itu besar pula. Peperangan kecil akan menghasilkan kemenangan kecil. Dan aku harus keluar sebagai pemenang. Ya aku adalah pemenangnya. Aku ingat ketika melihat Santa Monica Mountain waktu itu dari udara. Gunung itu sudah berdiri dengan kokoh ratusan tahun bahkan ribuan tahun. Badai salju, angin, hujan, petir dan panas terus menerpanya, sekalipun demikian Santa Monica masih tetap berdiri tegar. Aku harus setegar gunung itu. Badai masalah, angin kesulitan, hujan persoalan, petir konflik, dan panasnya suasana tidak akan pernah membuat aku kalah. Aku tidak mengenal kata kalah.

 

Pagi itu kulihat pintu kamar Nurul tidak terbuka meski saat berangkat kantor sudah lewat. Aku mencoba masuk kekamarnya untuk membangunkan dia. Pintu kamar tidak terkunci. Kulihat dia masih tertidur dengan nyenyaknya. Kubatalkan niatku membangunkannya. Satu jam berlalu Nurul juga belum bangun. Akhirnya aku bangunkan dia.

            “Sudah siang. Kamu tidak bekerja?” Kataku sambil memegang pundaknya untuk membangunkannya.

            “Malas. Aku tidak akan bekerja lagi.” Jawabnya sambil membalikkan badannya. Aku duduk mendekat disamping dia berbaring. Kemudian kataku.

            “Aku meminta maaf  atas kekasaranku kemarin.”

Dia hanya diam, Kemudian dia beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Sambil menunggu dia mandi aku siapkan sarapan pagi untuknya. Aku kembali duduk di kamar makan sambil menunggunnya. Beberapa saat Nurul keluar dan berganti pakaian.

            “Sarapan dulu sudah kusiapkan.”

            “Kamu saja yang makan. Aku mau pergi.”

            “Kemana?”

            “Kemana saja aku suka.”

Kesabaranku mulai habis. Kupegang dia kuat-kuat sambil kataku.

            “Duduk dulu. Dengarkan aku mau bicara.”

            “Lepaskan aku.” Katanya dengan teriak sambil menepis peganganku.

“Ok. Kalau kamu masih marah padaku. Aku yang pergi. Malam ini jika aku dapat tiket, maka aku akan pulang ke Melbourne.”

Sejenak Nurul diam kemudian duduk didepanku sambil memakan sarapan pagi yang tersedia di meja makan. Aku juga ikut makan. Kami berdua hanya diam saja tanpa saling bicara. Satu jam lebih kami duduk diam. Kemudian kataku.

            “Aku mau cari tiket dulu.” Aku beranjak menuju ke ruangan tamu kemudian menelpon beberapa agensi yang menyediakan tiket pesawat. Untunglah aku masih bisa memperolehnya untuk keberangkat besok malam karena untuk keberangkatan malam ini sudah tidak ada lagi.

Ketika aku kembali ke ruangan meja makan. Nurul sudah tidak ada di tempatnya lagi. Kulihat dia dikamarnya tiduran lagi. Kudekati dia lalu aku berkata padanya.

            “Aku pulang besok malam. Tiket sudah ada.”

Nurul hanya diam saja mendengar omonganku.

Sesaat kudengar bunyi telepon. Bergegas Nurul bangkit kemudian menuju ke ruangan dimana telepon ada.

            Hi John. To day I cannot work I am rather sick…. Perhaps tomorrow. ….

            No. You need not to visit me, I will be ok by tomorrow morning.”

Mendengar pembicaraan di telepon tadi ingin rasanya aku membanting teleponnya. Rasa sakit hatiku sudah sampai ke puncaknya.

            “Siapa yang telpon tadi? “ Pura-pura aku bertanya padanya.

            “John.” Jawabnya singkat

            “Kenapa sih dia begitu perhatian padamu.”

            “Tanya saja sendiri padanya.” Jawabnya masih dengan nada ketus

“Ya aku akan tanya sekarang pada dia. Kalau perlu aku temui dia. Beri aku nomor teleponnya.”

“Cari sendiri saja.” Jawabnya kemudian meninggalkan aku menuju ke kamar tidurnya lagi.

Aku menyusulnya ke kamar tidurnya. Lalu kataku.

“Jangan permainkan aku. Apa maumu aku akan turuti.”

“Aku mau tidur. Capai.” Jawabnya seenaknya. Lalu dia membalikkan mukanya ke arah tembok kamar dan membelakangiku.

Rasa marah itu mau meledak namun aku ingat kata-kataku sendiri saat di Long Beach. Kapal itu kadang dihantam gelombang saat berlayar, aku harus tetap berada didalamnya dan aku akan mampu mengendalikannya. Kutinggalkan Nurul dikamarnya. Kemudian aku mulai mengemasi pakaianku untuk persiapan keberangkatanku ke Melbourne. Aku harus menang dalam perjuangan ini. Jika aku marah maka kalahlah aku. Biarlah Nurul tenggelam dalam kemarahannya kepadaku dan kekecewaannya karena aku menggagalkan rencananya dengan John. Dengan peristiwa ini aku akan ambil hikmahnya, yaitu aku akan mengerti apakah Nurul mulai jatuh cinta pada John atau tidak. Disisi yang lain, aku akan mengerti sampai sejauh mana Nurul mempertahankan komitmen yang sudah dibuatnya.

            Menjelang keberangkatanku hari itu aku berusaha menyudahi masalah yang sedang terjadi. Aku mencoba mengalah lagi seperti masa-masa lalu. Pagi – pagi sebelum Nurul berangkat kerja aku berpamitan secara baik-baik padanya.

            “Nanti sore aku akan kembali ke Melbourne.”

            “Ya, hati-hati.” Jawabnya pendek tanpa melihat kearahku.

            “Sekali lagi aku minta maaf atas kejadian kemarin.”

            “Lupakan saja.” Masih dengan nada datar dia menjawab perkataanku.

            “Aku menunggumu bulan depan kedatanganmu di Melbourne.”

Nurul tidak menjawab hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Nampak kedua matanya merah serta keluar airmata. Bergegas dia masuk ke kamarnya mengambil tas dan kunci mobil kemudian katanya.

“Aku berangkat kerja mungkin tidak bisa mengantarmu. Kalau aku belum pulang kamu berangkat saja.” Katanya sambil menyeka tetesan airmatanya.

“Sebentar” Selaku sambil memegang tangannya.

“Dengarkan aku. Aku menunggumu pulang secepatnya.”

Nurul tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya kemudian dia bergegas berjalan  menuju ke garasi mobilnya. Sesaat di dalam mobil dia menengok kearahku sebentar kemudian dia jalankan mobilnya menuju ke kantornya.

Kutatap kepergian Nurul sampai mobil hilang di tikungan jalan menuju ke jalan utama. Mendadak ada  rasa sepi dalam hatiku. Terasa sekali kegalauan dalam hatiku. Bayangan wanita cantik berambut pendek itu tidak pernah hilang barang sejenakpun di kepalaku. Akankah aku kehilangan dia lagi. Pertanyaan menakutkan ini menerorku.

Sore itu aku berharap Nurul kembali dulu dan mengantarku ke Bandara LAX. Rupanya harapan ini kosong belaka karena menjelang saat-saat keberangkatanku  ke bandara ternyata Nurul tidak pulang. Kucoba menelpon ke handphonenya ternyata tidak aktif. Kesal dengan kondisi yang masih buruk ini, aku meninggalkan rumah Nurul dengan naik taksi menuju ke bandara.

 

 

 

 

 

           

 

 

 

 

 

 

XX.          Ada Pelangi di atas Kota Melbourne

Baru sehari aku kembali ke Melbourne, Ine memintaku menemuinya. Melalui telepon pintanya.

            “Kak Adi aku ingin ketemu kamu.”

“Tidak bisa hari ini Ine. Aku kemarin baru saja pulang dari Los Angeles. Aku masih capai dan aku sedang kurang enak badan.”

“Bagaimana kabar Nurul?”

“Dia baik-baik saja. Sudahlah jangan bicara ini dulu. Aku sedang pusing.”

“Ada masalah lagi kan? Benar kan  apa yang kukatakan pada Kak Adi. Dia ada main dengan temannya itu kan? Lantas apa langkah Kak Adi selanjutnya?”

“Duh Ine, pertanyaan-pertanyaanmu semakin membuat aku pusing. Bicara saja yang lain. Bagaimana kuliahmu? Oya sampai dimana kemajuan risetmu?”

“Usulan penelitianku sudah di setujui. Aku akan mulai menulis risetku dalam waktu dekat. Aku perlu bantuanmu. Itulah sebabnya aku menelponmu.”

“Ok. Ok, Nanti aku akan telpon kamu ya kalau aku sudah siap dan merasa lebih enak. Tidak apa-apa kan?”

“Mm ya. Tapi aku nggak mau ketemu Kak Adi di apartemen Nurul.”

“Kenapa?”

“Pokopknya aku nggak mau. Aku nggak suka.”

“Ok. Ok nanti kita atur lagi  dimana kita bertemu ya.”

“Kutunggu Kak Adi”

 

Belum satu masalah selesai Ine terus saja mendesakku meminta ketemu denganku. Ada rasa berdosa kepadanya ketika aku terus saja memberikan harapan-harapan pada saat aku sendiri masih berharap untuk tetap bersama Nurul. Aku mulai menyadari bahwa cintaku kepada Ine di masa lalu hanyalah semacam pelarian berbeda ketika aku ketemu dengan Mira. Waktu itu aku memang menicntai Mira juga sekalipun demikian aku tidak bisa melupakan Nurul. Entah karena lamanya kami sudah berhubungan entah memang aku sebenarnya sudah bergantung pada Nurul waktu itu. Saat ini masa-masa kritis itu terulang lagi. Namun aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika memang Nurul masih memegang komitmen, maka waktu satu bulan ini akan kutunggu tetapi jika tidak maka sebagaimana janjiku tersebut aku harus menyadari bahwa memang Nurul bukan jodohku. Oleh Karena itu aku harus menepati janjiku pada Ine. Aku akan melamar Ine. Dua pilihan ini akan menjadi pergumulanku dalam waktu satu bulan ini.

Satu minggu telah lewat. Kala itu aku berada di Sydney dalam rangka mengerjakan tugas untuk proyek yang sedang kukerjakan untuk perusahaan di CBD. Secara kebetulan aku berada di restoran berputar di Center Point Tower untuk makan siang. Aku duduk kembali di tempat yang sama ketika aku bertemu dengan Mira yang waktu itu dia menceritakan pengalamannya selama tidak bertemu denganku. Kala itu dia sudah mulai membangun cintanya dengan salah satu dosennya yang berasal dari Aussie. Memang kebenaran itu belum kulihat sendiri sekalipun demikian aku percaya karena Mira sangat jujur sebagaimana sikap dan sifat yang selama ini dia tunjukkan padaku. Aku merasakan seolah-olah kehadirannya disisiku saat itu. Mira kenapa aku tidak bisa mencintaimu secara benar? Itulah yang menjadi renunganku saat ini. padahal Mira teramat mencintaiku dan berkali-kali mengatakan kepadaku secara jujur. Bayangan itu lenyap saat bunyi dering handphone ku. Ah ternyata Ine yang menelponku.

            “Kak Adi bagaimana dengan pertemuan kita?”

“Hi Ine aku sekarang sedang ada pekerjaan selama satu minggu di Sydney. Mungkin baru minggu depan kita bisa ketemu.”

“Ke Sydney? Kenapa tidak ajak aku?”

“Kamu kan lagi sibuk dengan risetmu. Nanti mengganggu.”

“Bukan untuk mencari Mira kan? Mira masih di Sydney?”

“Nggak lah, entahlah ketemu terakhir kali di Melbourne waktu itu. Sesudah itu dia tidak pernah kontak aku lagi.”

“Terus kapan aku bisa ketemu?”

“Hari Senin siang aku sudah kembali ke Melbourne. Kamu boleh telpon aku lagi dan kita akan ketemu.”

Sejenak aku terhenyak ketika membuat keputusan itu. Karena aku ingat bahwa minggu depan adalah minggu dimana Nurul akan kembali dari Los Angeles jika dia tetap memegang komitmennya padaku. Jika tidak berarti dia tidak akan pernah kembali lagi kesini.

            “Kak kenapa diam masih mendengarku.” Kata Ine melalui teleponnya.

            “Ya aku masih mendengarkan kamu.”

“Ok Selasa kita ketemu. Jika ada perubahan harap Kak Adi segera memberitahu sebelumnya.”

Yes, I will.”

 

*******

Waktu dengan cepat terus berjalan satu minggu telah lewat. Ternyata Nurul  belum kembali. Kuberanikan diriku untuk menelpon ke rumahnya ternyata tidak pernah ada yang mengangkatnya. Bahkan pesan di mesin yang biasa direkam saat dia pergi ke luar rumahpun tidak ada. Handphonenya pun tidak dapat kuhubungi.

Aku sangat gelisah saat ini karena keputusan yang berkaitan dengan masa depan kami harus dibuat. Disamping itu,  aku juga dinanti Ine dalam keputusan mengenai hubunganku dengan dia.

            “Bantuan apa yang harus kuberikan kepadamu?”

Tanyaku saat aku bertemu dengan Ine sesuai janji kami di tempat yang sudah kami tentukan sebelumnya.

“Aku perlu beberapa referensi mengenai topik bahasan risetku. Tolong bantu aku mencarikan. Beberapa diantaranya sudah kucari di perpustakaan tetapi tetap belum kutemukan. Kelihatannya aku perlu bantuan Kak Adi mencarikan di Internet. Itu kan kehalianmu.”

“Berikan padaku daftar buku yang kuperlukan,  Malam nanti aku coba surfing di Internet. Mudah-mudah aku bisa dapatkan setidak-tidak materi yang mendukung risetmu jika buku-buku itu tidak ada.”

“Terima kasih sebelumnya. Kelihatannya Kak Adi gelisah terus hari ini.”

“Nggak apa-apa. Ada sesuatu yang menggangguku akhir-akhir ini.”

“Apa itu? Masalah Nurul ya?”

“Mungkin. Juga masalah yang lain lagi.”

“Masalahku?”

            Aku menganggukkan kepalaku mendengar jawaban Ine tersebut.

“Sebaiknya Kak Adi mulai memikirkan diri sendiri jangan mengorbankan dirimu hanya untuk orang lain saja. Kamu bisa sakit kalau seperti itu terus.”

“Ya aku sedang bergumul dengan itu. Tidak mudah kulakukan tetapi aku mulai biasa dan aku akan berusaha supaya berhasil”

“Pasti Kak Adi bisa melakukannnya karena hanya diri sendirilah yang dapat menaklukkan hal-hal seperti itu.”

“Kamu benar.”

“Tapi aku heran dengan orang seperti Kak Adi. Orang pandai kok bisa seperti itu.”

“Ya setiap manusia mempunyai dua sisi. Satu sisi dia kuat namun sisi yang lain dia lemah. Untuk itu perlu orang lain yang akan dapat menutupi sisi yang lemah itu.”

“Nah itu kan. Itu artinya Kak Adi mengetahui masalahnya. Jangan terus menuruti kelemahan-kelemahan tersebut karena akan dapat menjerumuskan kita ke dalam hal yang tidak enak.”

Benar apa yang dikatakan oleh Ine. Arus pikiran baru harus dimasukkan sehingga pikiran yang lama itu diperbarui. Beberapa minggu ini setelah kejadian-kejadian yang tidak enak terjadi lagi aku mencoba memasukkan kata-kata positif ke dalam pikiranku. Aku mulai memikirkan ketenangan, kedamaian, kelimpahan dan jaminan masa depan. Kata-kata itu kemasukkan kedalam pikiranku untuk menggantikan kegelisahan dan kekuatiran sehingga kedua kata itu lenyap dalam pikiranku. Mengenai Nurul aku juga mulai berpikir positif sehingga apapun jadinya. Semua pasti akan berjalan dengan lancar dan sukses.

            “Apa yang sedang kamu pikirkan?”

“Terpikir olehku kenapa sekarang kita tidak ke Interent Café saja untuk mencari bahan-bahan risetmu. Bagaimana?”

“Ok aku setuju”

Kami beranjak meninggalkan restauran di Southbank tersebut kemudian berjalan mencari Internet Café karena waktu itu aku tidak membawa laptop. Tak jauh dari lokasi kami berada sebelumnya, aku temukan tempat yang kucari tersebut. Lokasinya berada disekitar Crown Entertainment Center.

            “Ajari aku cara mencarinya ya nanti biar aku bisa sendiri.”

“Ya caranya mudah kok. Lihat ini kamu aktifkan portal yang ada mesin pencari atau disebut sebagai search engine. Kamu bisa gunakan apa saja, misalnya Google, Yahoo atau Metacrawler. Kemudian ketikkan kata kunci yang diperlukan untuk mencari informasi tersebut.”

“Ok apa kata kunci ini harus tetap atau bisa berubah?”

“Jika dengan menggunakan kata kunci tersebut informasi yang kamu perlukan sudah diperoleh, maka jangan diubah. Tapi jika informasi belum semua diperoleh, ganti atau tambahkan kata kunci yang lain.”

“Ah ternyata caranya mudah. Aku bisa lakukan sendiri. Ada cara yang lain lagi?”

“Ya ada cara yang lain ialah menggunakan metode pencarian “advance”. Caranya hampir sama. Kamu hanya perlu menambahkan beberapa kriteria saja yang diminta oleh mesin tersebut.”

Ine seperti memperoleh mainan baru. Dia sangat asyik dengan pencarian informasi yang mendukung risetnya. Dia begitu tekun dan teliti dalam mencari apa yang diperlukan dalam risetnya tersebut. Aku jadi ikut terbawa keseriusannya.

            “Asyik ya Kak surfing untuk mencari informasi.” Sela Ine

“Ya, itulah mengapa aku menyukainya sejak aku menjadi mahasiswa disini”

“Ternyata Internet bisa menjadi sumber informasi yang luar biasa ya.”

“Benar. Aku sangat tergantung pada Internet untuk mendukung pekerjaanku, terutama dalam menulis buku.”

“Tapi kita mesti hati-hati ya karena tidak semua informasi berkualitas.”

“Benar. Kita harus dapat menemukan kriteria untuk mengevaluasinya.”

Setelah Ine puas dengan Internet dia mengajakku untuk makan siang di tempat kami bertemu semula.

            “Kuharap aku masih akan bisa bertemu dengan Kak Adi.”

“Tak usah berkata seperti itu. Kapan saja kau mau ketemu aku telepon saja.”

****

           

Sepulang mengantar Ine aku tidak kembali ke apartemen tetapi aku terus menuju ke kantor pos di CBD. Di kantor pos aku membeli sebuah kartu ucapan yang akan kukirimkan ke alamat Nurul di Los Angeles, California. Saat itu yang  ada dalam pikiranku ialah dia sedang sibuk mempersiapkan kepulangannya ke Melbourne. Dengan harapan seperti itu  maka hatiku menjadi tetap tenang. Lagi pula saat ini aku sudah mulai mengubah pikiranku. Bila semua lancar itulah yang kuinginkan; namun jika tidak pasti ada cara dan jalan lain yang kutemukan. Di sudut ruangan kantor pos aku terduduk. Tempat ini sering kukunjungi di masa lalu saat-saat aku bersama dengan Nurul. Model bangunannya yang megah dan kuno membuat tempat ini sebagai salah satu landmark di Kota Melbourne. Letaknya yang strategis di pusat kota menjadikan tempat ini mudah dicari dan dapat dijadikan sebagai meeting point dengan orang lain.

Waktu terus berlalu, dua minggu telah lewat. Nurul juga tidak memberikan kabar apapun kepadaku. Kucoba untuk tetap kuat bertahan dengan tetap berpikir positif dan percaya dengan komitmen yang sudah diberikan kepadaku dulu. Aku terus berusaha menghilangkan pikiran-pikiran negatif dan kekuatiran-kekuatiran yang kadang masih muncul dan menggerogotiku. Saat ini peperangan yang menentukan sedang terjadi, aku harus menang. Apapun hasilnya akan kupandang sebagai kemenangan dalam peperangan ini. Kenikmatan kemenangan akan terasa bila kita pernah mengalami suatu kekalahan. Selama perenungan akhir-akhir ini aku menemukan makna hidup yang lebih mendalam. Bahwa keberhasilan merupakan pasangan kegagalan. Keduanya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Jika kegagalan dipisahkan dengan keberhasilan, maka makna keberhasilan menjadi hilang. Kita tidak akan pernah bisa merasakan keberhasilan jika kita belum merasakan kegagalan. Keduanya harus hadir meski kehadiran tersebut dalam waktu yang berbeda. Orang-orang yang besar muncul karena kegagalan-kegagalan di masa lalu. Bedanya dengan orang lain ialah orang-orang ini tidak pernah menyerah dengan kesulitan-kesulitan apapun yang sedang dihadapi. Karena dari kesulitan-kesulitan tersebut memunculkan ide-ide yang cemerlang yang kemudian membawa kedalam kemenangan besar.  

Tiga minggu sudah lewat, ternyata Nurul juga tidak kunjung tiba. Ketabahan itu mulai mengendor. Sekalipun demikian  aku terus berusaha mengingat-ingat yang indah-indah saat-saat aku dalam kondisi yang menyenangkan dengan Nurul. Bagaikan ngengat kekuatiran itu terus menggerogotiku, tetapi aku terus melawannya dengan segala kekuatanku.

            “Ine apa kabar?” Siang itu aku menelponnya

            “Kak Adi aku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu?” Balasnya

            “Baik juga. Sudah sampai dimana sekarang risetmu?”

“ Aku sudah selesaikan  bab satu. Ini bagian yang paling sulit sudah kulewati. Kamu mau nggak periksain dulu kalau-kalau masih ada kesalahan.”

“Boleh-boleh aku lagi nggak banyak pekerjaan hari-hari ini.”

“Kalau begitu kapan kita ketemu lagi?”

“Besok ditempat biasa.”

Thanks Kak Adi.”

Sesudah aku menelpon Ine tadi. Bunyi telepon rumah berdering berulang-ulang. Aku beranjak dari tempatku kemudian kuangkat telepon tersebut.

            “Adi speaking.” Kataku

I am looking for Miss Nurul?” Suara wanita itu terdengar dari gagang telepon.

Miss Nurul is not at home. Could I help you?”

We just sent the bill for the tax, we need to confirm it.”

Ok I  wll check it soon. Thank you

                        Thank you Sir.”

Kegembiraan sesaat ketika menerima telepon tersebut. Namun ternyata bukan dari Nurul. Entah kapan dia akan menelponku. Aku tetap menunggu dengan kesabaran dan ketabahan.

Satu bulan telah berlalu dalam penantian yang semakin menggelisahkan. Tidak ada kabar dari Nurul baik melalui telepon maupun surat. Bahkan aku tidak pernah bisa kontak dia lagi. Kemungkinan besar nomor handphone Nurul sudah ganti. Ngengat keputusasaan mulai menyerangku dengan ganas. Aku mencoba bertahan untuk tidak terpeleset lagi. Impian yang kuceritakan pada Nurul di Long Beach beberapa bulan lalu mulai muncul lagi. Semakin kucoba kuhapus dalam memoriku, malah semakin jelas tergambar dalam pikiranku. Berkali-kali kucoba menghilangkan dan melupakan, hasilnya aku semakin tidak bisa tidur sepanjang hari. Pikiranku menjadi beku. Aku tidak bisa berpikir lagi.Rasanya jalan sudah buntu. Malam itu sepanjang malam aku tak tidur sama sekali. Sudah hampir satu minggu ini aku kurang tidur. Kurasakan badanku mulai melemah karena aku kurang istirahat. Sekalipun  demikian semangat terus kucoba kupompa agar aku tetap bertahan. Apakah impian di Long Beach itu akan benar-benar terjadi?.

Pagi itu dengan semangat yang hampir patah, aku mulai melakukan dan mempraktikkan hal-hal yang positif. Aku mulai membersihkan kamar Nurul kemudian menata semua barang-barang koleksinya. Satu persatu-satu kubersihkan. Mulai dari kaca untuk berdandan, jam dinding, lemari pakaian, foto-foto yang ditempel didinding. Aku panggil juga petugas kebersihan di lingkungan apartemen untuk membersihkan semua tembok-tembok dan perabotan di rumah itu. Aku ingin semua tertata rapi dan bersih ketika dia pulang.

Hari-hari yang melelahkan sudah kujalani. Semua sudah kukerjakan aku menyerahkan sepenuhnya pada kekuatan yang tidak nampak. Aku percaya akan ada the invisible hand yang  bekerja di balik usahaku ini. Kekuatan yang dari Tuhan itu akan bekerja menolongku meski tidak nampak. Karena Tuhan yang kupercaya berkata aku adalah pemenang bukan pecundang. Sia-sia saja orang-orang yang akan menggagalkan rencanaNya.

 

Kali ini aku sudah menjadi pemenang meski Nurul tidak datang. Kemenangan itu berupa kekuatan untuk mengatasi masalah yang secara emosi membebani diriku. Meski aku tidak bertemu lagi dengan Nurul hatiku sudah menjadi tenang dan damai. Tidak ada sebersit kata kalah yang muncul dalam pikiranku. Bahkan aku tidak bisa menjadi sedih saat ini. Perasaanku tetap bahagia walau tidak ada Nurul saat ini. Aku berdoa dan berharap dia akan bahagia dengan pilihannya. Entah dengan John atau dengan yang lain aku tidak pedulikan itu. Yang penting dia akan hidup bahagia dengan pilihannya. Aku ingat kata-kata bijak yang mengatakan “cinta itu tidak harus memiliki”. Ah romantisnya. Untuk mencapai ke jenjang ini aku memerlukan waktu bertahun-tahun bergaul dengan Nurul. Dia telah banyak mengajari aku untuk mengubah hidupku. Dari orang yang tidak sabar menjadi sabar, dari orang yang ragu-ragu menjadi tenang dalam mengambil keputusan, dari orang yang emosi menjadi orang yang tenang.

 

Saat ini langkah berikutnya adalah menata ulang hubunganku dengan Ine. Aku ingat janjiku padanya saat aku akan berangkat ke Los Angeles mengunjungi Nurul beberapa waktu yang lalu.

Apa yang akan Kak Adi lakukan jika ternyata Nurul menolak untuk kembali ke Melbourne bersamamu?

Aku akan melamarmu.” Jawabku dengan tegas waktu itu.

Melamar Ine. Ah ini sesuatu yang serius. Benarkah aku mencintai Ine seperti aku mencintai Nurul atau Mira? Benar. Ternyata benar setelah berkali-kali kutanya pada hatiku yang paling dalam.

 

Pagi itu aku mulai mengemas-ngemas barangku untuk meninggalkan apartemen Nurul. Rencanaku hari ini aku akan serahkan sementara pada Satpam yang diberi wewenang untuk menjaga apartemen ini. Dengan perasaan berat aku meninggalkan apartemen itu.. Sambil menjinjing tas aku keluar menuju ke halaman untuk mencari taksi. Secara kebetulan kulihat ada taksi yang meluncur dengan cepat menuju ke arah  dimana aku berdiri. Alangkah kagetnya ketika kulihat ada seorang wanita yang rasanya sangat kukenal berada dalam taksi tersebut.  Benar dugaanku taksi tersebut berbelok ke arah apartemen yang baru kutinggalkan beberapa langkah. Pelahan aku melangkah kembali ke halaman apartemen itu. Kulihat wanita itu turun dari taksi sambil dibantu supir yang menurunkan barang-barang bawaannya.

                        “Nurul……….” Teriakku dari jauh

                        “Adi……” Jawabnya sambil berteriak gembira.

Kutinggalkan tas yang kubawa di halaman aku berlari dengan kencang kemudian memeluknya erat-erat. Kuciumi tangan dan pipi Nurul beberapa kali sambil menahan gejolak kegembiraan yang tidak dapat kubendung.

“Ah kemana saja kamu selama ini. Aku tidak bisa kontak  kamu lagi pula kenapa kamu mundur dari kedatanganmu semula?”

“Tenang…. Tenang kita masuk dulu ke rumah.”

Kupanggil Satpam yang kutitipi kunci dan memintanya membuka pintu. Katanya pada Nurul.

                        Welcome home Miss Nurul.”

                        Thanks my friend.” Jawab Nurul pada Satpam itu.

Setelah kami duduk. Nurul balik bertanya kepadaku.

                        “Kamu mau kemana bawa-bawa tas segala?”

                        “Itu aku ada kerjaan di Sydney jadi aku perlu bawa pakaian yang banyak.”

                        “Kenapa kunci kau titipkan pada Satpam?”

                        “Ya siapa tahu pas aku nggak ada kamu pulang.”

Kulihat Nurul tertawa keras sambil menepuk nepuk bahuku. Lalu katanya.

“Kau mau pergi dari sini kan? Karena kau kira aku tidak akan kembali lagi padamu.”

“Ah nggak aku nggak berpikir begitu.” Jawabku dengan malu.

“Aku kan bisa baca pikiranmu.” Lanjutnya masih dengan tertawa-tawa. Kemudian dia berkata lagi.

“Kedatanganku hari ini untuk mengurusi pajak apartemen ini serta menyampaikan undangan pernihakan untukmu.”

Terasa jantungku mau copot mendengar kata-katanya. Undangan pernikahan? Pernikahan siapa? Apakah undangan pernikahan antara Nurul dengan John? Tak ingin aku mendengar berita itu. Aku hanya diam.

            “Mengapa diam? Sedih ya?” Goda Nurul padaku

            “Undangan pernikahan siapa?” Jawabku dengan lemas

            “Pernikahan John.”

            “John dengan siapa?”

“Ya dengan Nani, masak dengan aku. Kalau dengan aku mana aku kembali kesini”

Ah legalah hatiku saat mendengar jawaban Nurul.

“Kamu pasti sudah mengira bukan-bukan kan soal keterlambatan kedatangaku?”

Aku hanya berdiam menahan malu didepannya. Ah ternyata aku kalah oleh permainan Nurul.

“Aku sengaja sementara mengganti nomor handphoneku dan tidak menerima telepon di rumah.”

“Untuk apa?”

“Untuk ngerjain kamu, biar kamu berubah. Sifatmu yang penuh curiga itu harus kau hilangkan. Aku tidak suka itu.”

“Kau balas dendam ya?”

“Bukan balas dendam tapi mendidikmu supaya berpikir jernih dan positif terhadap orang lain.”

“Kamu sudah berhasil melakukan itu.”Jawabku

“Syukurlah kalau begitu. Oya secepatnya aku mau pergi ke Yogyakarta dalam waktu dekat ini.”

“Ada apa lagi?”

“Bertemu dengan Ibu aku sudah kangen padanya. Juga ayah untuk meminta restu.”

“Minta restu apa?” Tanyaku dengan penasaran.

“Minta restu mengenai rencana pernikahan kita. Masak kamu tidak tahu.”

“O … ya… ya….” Saking gembiranya dan bahagianya aku hanya menjawab seperti itu.

 

 

Tamat

Bandung Februari 2008