|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Semua cerita pendek dan novel disini ini hanya merupakan hasil khayalan saya. Jika ada kesamaan nama atau kejadian itu hanya kebetulan saja. Semoga cerita ini dapat menghibur Anda. Judul cerita lain ada di bagian bawah
|
| Lokasi-Lokasi Cerpen. |
Perjalanan selama tujuh jam dari Bandara Soekarno Hatta sampai ke King Ford Smith Airport di Sydney membuat tubuhku merasa letih. Setelah istirahat beberapa saat perjalanan kulanjutkan menuju Melbourne. Selama perjalanan menuju Kota Melbourne hatiku gelisah, bahkan untuk mencoba kembali memejamkan mata aku tidak pernah berhasil. Dalam kepalaku muncul pertanyaan-pertanyaan yang selama ini terpendam dalam hatiku dan belum pernah tercetus didepan Nurul. Seperti apakah penampilan Nurul saat ini? Apakah sikap dan hatinya tetap seperti dulu sekitar tiga tahun yang lalu kami berpisah? Apakah budaya Australia sudah menembus dalam dirinya? Bagaimana kalau dia sudah berubah? Keringat dingin mendadak keluar membasahi telapak tanganku. Aku masih ingat benar kata-kata terakhir yang diucapkan sebelum berangkat ke Australia untuk melanjutkan studinya. Dia berkata “We will meet again someday in the future.”
Kurang lebih satu jam dua puluh menit aku sampai di Tullamarine Airport. Udara dingin menggigit kulitku serta menusuk tulang-tulangku. Sambil melihat-lihat pemandangan di sekitar airport, aku berjalan mondar-mandir di ruang tunggu. Sekitar lima belas menit aku menunggu didepanku muncul seorang gadis menggunakan celana jean ketat dan baju model tank -top berwarna merah, rambut dipotong pendek sambil menenteng tas kecil . “Nurul!” Setengah berbisik aku memanggil namanya “Adi” jawabnya dengan muka yang ceria. “Finally you visit me. Lanjutnya sambil memegang tanganku erat-erat.
Beberapa saat aku tidak dapat berkata-kata sepatah katapun, yang dapat kulakukan hanyalah menatap wajah Nurul yang sudah banyak berubah. Potongan rambutnya semakin pendek, pandangan mata semakin menunjukkan orang yang cerdas dan yang paling menonjol ialah perubahan pada cara berpakaian yang sudah lebih bebas dibanding selama dia tinggal di Indonesia.
“Bagaimana perjalanan dari Jakarta?” Tanya Nurul “Mm, baik semua berjalan lancar dan menyenangkan, I like it.” Jawabku. Bergegas kami berdua keluar dari area bandara menuju tempat parkir. “Sebaiknya kita mencari restoran terdekat sekaligus bersitirahat sejenak. Kau pasti lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang.” “Ok aku setuju.” JawabkuDi suatu café kecil didekat area bandara kami melanjutkan percakapan kami. “Bagaimana kondisi Indonesia saya sudah cukup lama tidak mengikutinya lagi.” Nurul memulai pembicaraannya. “Sudah semakin membaik, keamanan sudah kembali stabil dan kondisi ekonomi semakin pulih menjadi normal.” “Terus bagaimana dengan pekerjaanmu.” “Baik, semua jalan dengan baik, kuliahmu bagaimana?” “Semester ini aku akan menyelesaikan tesisku, aku mengambil konsentrasi dalam bidang marketing.” “Itu bagus dan menarik, marketing merupakan ilmu yang cukup dinamis dan diperlukan sepanjang jaman.”
Setelah sekitar satu jam kami ngobrol kesana kemari mengenai masalah yang umum, Nurul mengajakku berputar-putar di kota Melbourne. Melbourne merupakan kota multirasial dengan hampir enam puluh kelompok budaya dengan seratus tujuh puluh bahasa yang berbeda. Melbourne benar-benar merupakan kota yang enak untuk dinimati sebagai sarana liburan, seperti Bali. Meski merupakan salah satu kota metropolitan Melbourne masih memberikan prioritas area-area untuk dijadikan jalur hijau tempat dimana berbagai tanaman hijau tumbuh dan dipelihara serta taman-taman kota yang indah yang menjadikan Melbourne sebagai kota yang sehat dan nikmat untuk dihuni. Tempat-tempat seperti Royal Parade, Flemington Road dan ST Kilda Road merupakan jalan-jalan yang dipenuhi dengan pepohonan yang ditata dengan rapi dan terawat dengan baik. Bahkan dalam kota terdapat kebun-kebun yang indah, seperti Botanic Garden, The Pioneer Woman Garden dan The Bussington Garden yang terletak di St Kilda yang jarang diketemukan di kota-kota besar lainnya. Melbourne juga merupakan kota budaya di Australia yang lengkap. Disini, orang dapat makan di restoran-restoran berkelas dunia dengan harga lokal. Di kota ini pula terdapat pusat-pusat oleh raga berkelas internasional, seperti Australian Rules Football Stroll dan National Tennis Centre.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan dari Airport, kami sampai di Melbourne Central, pusat perbelanjaan terbesar di kota Melbourne. Kami berdua memasuki area tersebut. Dan memilih ke pusat pertokoan Jepang Daimaru, yang merupakan pusat pertokoan yang dikelola oleh swasta terbesar di Australia. Pusat perbelanjaan berlantai 6 ini mempunyai hampir 150 toko spesialisasi. Aku jadi ingat salah satu hobi Nurul yang menyukai jalan-jalan di pusat-pusat perbelanjaan di Bandung. Dia selalu mengajakku untuk melihat-lihat dari satu took ke toka lainnya, khususnya toko pakaian dan dengan sabar aku selalu mengantar kemana saja dia pergi.
“Kita putar-putar sebentar ya.” Ajak Nurul “Kita memasuki pusat perbelanjaan terbesar di kota Melbourne sambil bernostalgia seperti yang sering kita lakukan di Bandung” lanjutnya. “Terserah kamu saja.” Kata-kata seperti ini pulalah yang sering kuucapkan selama kami selalu bersama-sama saat menjalani kuliah di ITB. Masa dimana aku dan Nurul menjalin persahabatan yang erat meski kami belajar di tempat yang berbeda. Pertemuan kami terjadi saat aku datang ke kampus Nurul ketika ada acara seminar di kampusnya. Waktu itu dia menjadi salah satu panitianya. Perkenalan kami berlanjut menjadi persahabatan selama hampir tiga tahun lebih. Saat Nurul pergi ke Australia karena dia mendapatkan bea siswa untuk melanjutkan studi S2-nya, persahabatan kami terhenti mungkin karena kesibukan kuliahnya yang membuat dia jarang berkomunikasi denganku.
“Yuk kita lanjutkan ke Rialto yang hanya sekitar 15 menit dari sini.” Ajaknya. Rialto adalah gedung tertinggi di kota itu dan dari lantai 55 dimana Observation Deck terletak, pemandangan Kota Melbourne dapat dilihat dengan jelas Hampir satu jam kami melihat-lihat pemandangan kota Melbourne. Kota yang dihiasi dengan gedung-gedung bertingkat menjulang keangkasa tidak jauh bedanya dengan kota-kota metropolitan lainnya. Kota yang telah mengubah Nurul menjadi lain. Setinggi Rialto Tower Observation Deck itulah cita-cita Nurul untuk terus belajar sampai ke jenjang pendidikan yang tertinggi. Nurul dulu yang menyukai gaya pakaian formal, kini telah berubah lebih menyukai pakaian yang trendy dan sensual. Nurul yang dulu banyak mendengar sekarang penuh dengan inisiatif untuk membicarakan hal-hal yang sophisticated, penuh imaginasi dan prospective. Satu-satunya yang belum berubah pada diri Nurul ialah ketidakmampuannya dalam membuat keputusan dalam menetapkan rencana masa depan hidupnya secara jelas dan terperinci. Akibatnya terjadilah tarik menarik antara kepentingan Nurul dengan semua ambisi dan impiannya dengan kepentingan keluarga yang juga harus dia perhatikan.
Nurul sejak dulu bercita-cita untuk kuliah di luar negeri dan bekerja di Australia, tetapi kedua orang tuanya menginginkan dia tetap tinggal di Indonesia untuk meneruskan bisnis mereka. Dia pernah berkata denganku bahwa dia tidak sanggup melaksanakan tuntutan orang tuanya, sebab duniannya adalah dunia intelektual, bukan bisnis. Selama ini Nurul menggeluti bidang pendidikan, dia suka menulis, suka berorganisasi dan mengajar. Puncak perbedaan pendapat ini meruncing ketika Nurul melanjutkan studi S2nya ke Melbourne, Australia.
Hari menjelang sore ketika kami berdua turun dari Menara Rialto. Selama perjalanan ini pembicaraan kami belum terfokus kearah hubungan pribadi kami. Ingin aku segera memulainya tetapi entahlah aku tidak sanggup melakukannya, karena aku takut Nurul tersinggung.
Dari Rialto kau kuantar ke St. Kilda Beach, bukankah kau sangat menyukai pantai?” Lamunanku dihentikan oleh suara Nurul. “Ya, ya benar” Jawabku. Memang benar aku menyukai pantai sebagai sarana rekreasi. Hampir pantai-pantai terkenal di Indonesia pernah kukunjungi. Sesaat terbayang dimataku pemandangan pantai Kuta di Bali yang pernah kukunjungi beberapa tahun yang lalu, ketika itu aku belum kenal dengan Nurul. “Berapa lama dari sini ke St Kilda Beach?” Tanyaku. “Sekitar tiga puluh menit. Kebetulan hari ini hari Sabtu, pantai akan ramai dikunjungi oleh sebagian besar penduduk Melbourne. Mereka akan berada di pantai dan menghabiskan malam dengan minum-minum bir.”
St Kilda Beach terletak di City of Port Philip kira-kira 6 km kearah tenggara dari Pusat Kota Melbourne. Di St Kilda terdapat banyak bangunan kuno dan berarsitek lama, seperti rumah, apartemen, pintu masuk Luna Park dan hotel yang berada di pinggiran jalan-jalan utama dan restauran yang didesain secara khusus, Disini, jalan-jalan masih dipenuhi dengan pepohonan yang ditanam disepanjang jalan-jalan utama. Sampai di St. Kilda aku menyempatkan diri untuk beristirahat di Hotel Esplanade. Sementara itu Nurul jalan-jalan di sepanjang pantai. Aku mencoba memejamkan mata sambil menunggu datangnya malam hari untuk menikmati pemandangan yang tidak akan terdapat di negaraku. Sambil mencoba memaksa menidurkan tubuhku yang lelah aku terus berpikir untuk mendapatkan cara yang baik dan tepat untuk menyampaikan apa yang selama ini ada dalam pikiranku. Perpisahan dengan Nurul beberapa tahun ini tidak mengubah sikapku terhadap dia. Nurul tetap wanita idamanku, dia adalah wanita yang kukagumi dan kuhormati. Kedekatan kami selama masa-masa kuliah telah membuatku benar-benar mengerti siapa sebenarnya Nurul. Nurul adalah seorang wanita yang mempunyai prinsip teguh, daya juang yang ulet, mandiri dan pemberani. Hampir selama tiga tahun dia hidup sendiri di Kota Melbourne dan belum pernah sedikitpun dia mengeluh tentang kesulitan-kesulitan yang dialaminya baik selama belajar ataupun selama dia mencari pekerjaan sambilan untuk menambah biaya hidupnya melalui surat ataupun email yang dikirim kepadaku.
“Hi katanya mau tidur” Sayup-sayup suara Nurul kudengar dan bunyi sepatu kearah kamar sebelah. Tepat jam delapan malam aku terbangun dari tidurku. “Aku tidak mau membangunkanmu, kau tertidur pulas sekali.”Kata Nurul kepadaku “Yeah aku merasa lebih enak sekarang. Rasa capekku sudah hilang semua.”Jawabku.
Malam itu malam minggu di musim panas, St Kilda Beach menjadi sangat ramai, sepertinya penduduk kota Melbourne pindah kesini. Di daerah ini banyak lokasi-lokasi wisata yang menarik, seperti Luna Park, gedung Palais Theatre yang terletak berada di dekat pantai dan Acland Street Cafes yang berjejer disepanjang jalan Acland. Diantara keramaian para pengunjung pantai aku bersama Nurul duduk-duduk sambil melihat deru ombak St Kilda Beach, setelah sebelumnya kami makan malam di Beach Restauran yang terletak dekat area pantai. Suara deru ombak itu bagaikan suara deru hatiku yang ingin kutumpahkan di depan Nurul.
“Aku senang sekali kita dapat seperti dulu lagi, masa-masa kita selalu berdua, meski hanya dalam beberapa hari saja.” Nurul memulai pembicaraannya. “Aku juga, bahkan….”Jawabku sambil menahan emosiku, “Bahkan saat ini aku ingin membicarakan masa depan hubungan kita. “Ya aku setuju, kita tidak boleh hanya saling menunggu.”Jawab Nurul sambil menyandarkan kepalanya di pundakku. Mendengar jawaban Nurul hatiku terasa sejuk bagaikan disiram air pantai St. Kilda. Nurul ternyata hanya berubah penampilannya saja, tetapi hatinya tetap seperti dulu, sebagaimana aku selalu memikirkannya dan menempatkan dia dalam lubuk hatiku yang paling dalam.
“Kira-kira kapan kamu siap?” Tanyaku lebih lanjut. “Kalau kau tidak keberatan tunggu aku sampai mendapatkan pekerjaan tetap disini dulu.” “Itu artinya kau tidak akan kembali ke Indonesia lagi.” Jawabku tersentak kaget. “Aku sudah putuskan untuk tinggal di Melbourne untuk beberapa tahun kedepan, bahkan aku sudah mendapatkan ijin sebagai “permanent resident”.” Aku benar-benar terkejut mendengar keterangan Nurul, mengapa dia tidak pernah memberi tahuku terlebih dulu bahwa dia sudah memegang ijin “PR”nya di Australia. Sesaat aku membisu, tidak tahu apa yang musti kukatakan lagi. Bisingnya orang-orang yang lalu lalang dihadapanku serta deru ombak St Kilda Beach disertai desingan angin malam membuatku semakin gundah.
“Mengapa diam saja? Oya aku minta maaf kalau aku belum sempat memberi tahu tentang status PR ku di Australia. Kau tidak marah kan?” Aku hanya dapat menggelengkan kepalaku saja. Sementara itu rasa takut kehilangan Nurul selamanya menyusupi relung hatiku bagaikan udara dingin malam itu yang menusuk semua tulang-tulangku. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Nurul memutuskan hal seperti itu. Itu artinya dia semakin memperuncing konfliknya dengan kedua orang tuanya dan mengandaskan impian mereka agar Nurul mau kembali ke Indonesia untuk mengendalikan bisnis mereka yang sudah dirintis selama bertahun-tahun. “Kau pasti bingung dengan keputusan yang kuambil.” Aku hanya diam tidak berkomentar. “Aku sudah pikirkan masak-masak semua ini dan siap mengambil resikonya. “Lanjutnya Kalau Nurul sudah berkata seperti itu, maka tidak akan ada yang dapat menghalang-halangi keputusan yang sudah diambilnya. Beberapa tahun aku bersama-sama dengannya, aku sudah dapat memahami hampir sebagian besar sifat-sifatnya yang menonjol. Bahkan dari ekspresi mukanya saja aku dapat menebak apa keinginannya.
Malam semakin merangkak, keramaian tak kunjung berkurang, bahkan semakin banyak orang yang datang dari pusat kota Melbuorne. Beberapa orang sudah mulai mabuk karena terlalu banyak minum, mereka bertiduran di sepanjang pantai. Aku mulai membayangkan hidup di Australia. Suatu hal yang kemungkinannya kecil kulakukan. Selama bertahun-tahun aku belajar sampai ke jenjang pendidikan tertinggi, hasilnya akan kuabdikan bagi negara yang kucintai demi memajukan bangsaku. Meski bagaikan meneteskan air garam di lautan yang maha luas, aku akan tetap melakukan melalui kehalian dan kepandaianku untuk turut membangun masyarakat yang memerlukanku. Rasa-rasanya aku seperti seorang penghianat kalau aku harus meninggalkan negaraku dan kemudian bekerja serta hidup di negara lain.
“Berapa lama kamu merencanakan tinggal di sini?” Tanyaku. “Tidak tahu, aku belum memikirkannya. Pokoknya aku akan menjalani saja hidupku sehari-hari di kota ini dengan suka cita.” Itulah salah satu sifat Nurul yang kurang baik. Dia sering melakukan sesuatu tanpa rancangan yang matang terlebih dahulu dan tidak merencanakan tujuan-tujuan jangka panjang dengan matang. “Bagaimana dengan keluargamu?” “Ibuku tentu saja tidak setuju bahkan ayahku juga menentang dengan keras, tetapi setelah kuberi pengertian dan aku berjanji bahwa aku tidak akan selamanya tinggal di Australia, mereka meski dengan berat hati akhirnya setuju juga.”
Nurul melanjutkan perkatannya. “kuharap kau juga dapat mengerti persaanku, aku tahu kau pasti kecewa, tetapi percayalah tidak selamanya aku tinggal disini karena aku tahu kau pasti tidak akan mau hidup disini.” Untuk yang kedua kalinya Nurul berjanji akan kembali ke Indonesia. Pertama menjelang keberangkatannya saat pertama kali dia meninggalkan Indonesia. Waktu itu aku ingat dia hanya akan tinggal di Australia selama masa studi S2 nya saja. Ternyata cita-citanya untuk meraih impiannya mengalahkan segala-galanya, termasuk keluarga dan aku. Menjelang pagi suasana mulai agak sepi, banyak orang sudah mulai kecapaian dan kembali. Kami berdua tetap membisu seolah kami masing-masing sudah dapat saling membaca pikiran kami. Nurul saat itu duduk setengah tertidur di bahuku. Malam itu menjadi sepi, rasanya impian yang kubawa dari jauh kandas ditelan ombak St Kilda Beach. Semangatku tidak mampu meluluhkan keputusan Nurul yang sekuat ombak-ombak St. Kilda Beach didepanku.
bravenet.com
bravenet.com
bravenet.com
bravenet.com
bravenet.com
bravenet.com
bravenet.com
bravenet.com
bravenet.com
bravenet.com
bravenet.com
bravenet.com
bravenet.com
bravenet.com
bravenet.com